Wednesday, November 30, 2011

Berani berkata tentang “Kebenaran” (2)

Terinspirasi oleh keberanian seorang anak SD yang menyatakan kebenaran bahwa “banyak teman sekelasnya mencontek ketika ujian berlangsung”, sempat iseng saya lontarkan kepada teman-teman bagaimana dengan kondisi di kita, apakah berbicara tentang kebenaran juga menjadi hal yang aneh?

Ada yang menjawab: “rasanya sih enggak”

Ada juga yang ngomong: ”nggak begitu amat sih”

Ada yang komentar: ”banyak yang nggak berani untuk berkata benar”

Ada yang bilang : ” kebenaran menjadi barang langka dinegeri ini lho”

Apasih kebenaran itu ?

Menurut kamus bahasa indonesia

(Referensi http://kamusbahasaindonesia.org/)

kebenaran adalah :
(1) keadaan (hal dsb) yg cocok dng keadaan (hal) yg sesungguhnya:

(2) sesuatu yg sungguh-sungguh (benar-benar) ada :

(3) kelurusan hati; kejujuran:

Dengan mengacu kata ”kebenaran” ini, sudah sewajarnya ketika seorang anak SD berkata tentang kebenaran, maka siapapun orangnya seharusnya tidak perlu marah, tidak perlu mesara disalahkan, karena dia menyampaian yang benar.

Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, ternyata sangat berbeda dengan apa yang diharapkan, karena lebih banyak orang yang berkata dan bertindak baik, dibandingkan dengan berkata dan bertindak benar.

Sikap menyenangkan atasan, atapun sikap hanya menyenangkan orang lain lebih dominan terjadi. Laporan dibuat dengan baik dengan maksud Asal Bapak Senang (ABS) dengan mengesampingkan fakta-fakta dilapangan. Menyampaikan hal yang baik meskipun hal itu tidak benar, karena kalau menyampaikan hal yang benar akan menyakitkan bagi orang yang terkait.

Dilingkungan pekerjaan, seringkali harus menghadapi dilema, ketika harus menyampaikan sesuatu, apakah hasil pekerjaan atau laporan kepada atasan. Jika kita mengatakan yang sebenarnya dan informasi ini tidak baik menurut pandangan atasan, mungkin atasan akan marah atau tidak menerima hasil kerja kita.

Jika kita hanya ingin menyenangkan atasan berarti secara tidak langsung kita sudah turut andil dalam hal yang tidak benar dan jika hal ini berlangsung dalam jangka yang cukup lama, kita berkontribusi untuk kehancuran tempat kita bekerja. Dimanapun anda bekerja, ketika semua orang berlaku ABS maka dampaknya secara kumulatif akan menggerogoti negara ini.

Jika kita berani menyatakan kebenaran dengan berdasarkan ketulusan hati, maka kita akan berani menerima resiko yang harus diterima, namun pada akhirnya hal ini akan memberikan kebaikan bagi semua bila telah menyadari bahwa terkadang kebenaran itu menyakitkan, terasa pahit seperti obat atau jamu yang menyehatkan.

Kalau kita tidak berani menyaatkan kebenaran? Siapa lagi?

Kalau tidak mulai sekarang menyatakan kebenaran? Kapan lagi?


Salam

Berani berkata tentang “Kebenaran” (1)

Masih ingatkah kita mengenai kisah seorang anak SD yang secara jujur menginformasikan bahwa banyak teman sekelasnya yang mencontek ketika ujian berlangsung?

Bagaimana sikap dari orang tua murid yang mencontek juga para tetangga di lingkungan sekitarnya terhadap keluarga anak tersebut?

Si anak dan ibunya harus mengungsi demi keselamatan dan keamanan karena lingkungan yang tidak suka dengan “kebenaran” yang disampaikan anak kecil itu.

Disisi lain, para orang tua yang sebenarnya sadar bahwa menyontek itu tidak benar, berpandangan bahwa kalau tidak diberi contekan akan berakibat tidak baik bagi anaknya dengan kemungkinan tidak lulus. Dengan upaya mencontek ini akan berakibat baik bagi banyak anak yang berkemampuan pas-pasan.

Secara nurani, benarkah tindakah mencontek? Benarkah orang tua merestui anaknya untuk mencontek? Saya yakin bahwa dinurani mereka juga akan setuju kalau mencontek itu tidak benar, tapi baik bagi anaknya agar lulus.

Bagi pembaca yang tidak mengalami permasalahan seperti orang tua anak2 yang nyontek tentu akan secara langsung bilang bahwa tindakan mencontek tidak bisa ditolelir?

Tapi coba tanyakan pada diri sendiri apakah anda juga pernah nyontek waktu sekolah atau kuliah? Adakah perasaan bersalah ketika itu? Atau justru membanggakan diri kalau bisa lulus karena hasil copy paste atas hasil karya orang lain?

Saya harus berkata jujur, kalaupun seandainya posisi saya sama persis dengan anak itu saat menghadapi ujian nasional SD, belum tentu saya bisa berbicara “benar” tentang kondisi yang ada dalam ruangan kelas.

Ada pelajaran yang bisa kita petik dari permasalahan ini :

  • Betapa beruntungnya kita mempunyai anak kecil ini yang berhati mulia seperti berlian sehingga bisa mengatakan tentang kebenaran.
  • Sanggupkan kita menyatakan kebenaran saat ini ditengah banyaknya orang ”ABS” dan berani mengambil resiko untuk berbeda dengan orang lain?

Semoga kita bisa ambil bagian untuk menyatakan ”kebenaran”

Tuesday, November 22, 2011

Selalu Ada Pelangi

Warna-warni pelangi yang muncul setelah hujan berhenti, membuat setiap orang yang menikmatinya, sejenak terpana akan keindahan pelangi dan melupakan hujan deras yang mengguyur bumi. Mungkin hanya dalam hitungan menit muncul bersama sinar mentari dari balik awan yang gelap.

Kemuraman , kesedihan, kerja keras yang terkadang sering menyakitkan, mungkin telah berlangsung lama dan terasa perjuangan begitu panjang serta melelahkan. Namun semuanya itu pasti akan ada batasnya. Jikalau waktu-waktu yang kita jalani ibarat hujan deras, maka akan ada saatnya hujan akan berhentu dan muncul pelangi yang indah.

Selama hampir 6 bulan terakhir di tahun 2010, banyak hal yang harus kami lalui, berbagai hal yang banyak menyita waktu, tenaga, semangat juga pengorbanan anak istri yang harus memahami kondisi saya. Bahkan sempat beberapa kali harus terkapar karena kelelahan, emosi yang tinggi, istirahat yang kurang dan tugas yang terlalu berat yang harus saya jalani.

Hingga di satu malam, dalam keletihan yang sangat menyesakkan, kusampaikan keinginanku kepada istriku “ Aku mau lempar handuk saja, karena terasa beban yang sangat berat dan tidak kuat untuk aku pikul sendiri”

Dengan tenangnya istriku berkata “ Jangan menyerah, semangatlah karena tidak mungkin Tuhan membiarkan kita menanggung beban kalau kita tidak kuat. Tetap bertahan hingga tugas selesai dan tetap berharap bahwa rencana Tuhan yang terindah buat kita”

Malam itu terasa sangat tenang dan damai, menyelimuti perasaan saya, betapa bodohnya saya memandang berbagai permasalahan hanya dari sisi manusiawi saja. Mengapa tidak segera bersimpuh dan meletakkan semua beban beratku di hadapanNya?

Apalah kekuatan manusia? Sangat terbatas, kekhawatiran tidak akan mampu merubah kondisi yang ada, tetapi sebaliknya dengan pasrah dan mengetahui kelemahan kita, maka Tuhan sendiri yang akan memberikan kekuatan bagi kita.

Ketika badai kehidupan menghadang kita, tetaplah berjalan dengan mengandalkan kekuatan kepada Tuhan, karena kita akan dituntunnya hingga badai itu berlalu hingga muncul pelangi kehidupan kita.

Tetap bertahan didalam badai kehidupan dengan berpegang dan mengandalkan pada Yang Maha Kasih, karena di akhir badai akan selalu ada pelangi kehidupan.

Labels: ,

Adakah Kasih Tanpa Syarat?

Dalam kehidupan bermasyarakat saat ini, pada umumnya hubungan yang terjadi antara satu orang dengan orang lain seperti layaknya sebuah transaksi kehidupan. Semua hubungan terjadi karena ada motif transaksi, bahkan seringkali memanfaatkan hubungan untuk memperoleh keuntungan diri sendiri.

Secara kasat mata, akan terllihat seolah seseorang membantu orang yang lain, namun tidak sepenuhnya orang tersebut membantu tanpa pamrih.

Terlebih lagi, ketika seseorang mulai menjalin hubungan kasih dengan pasangannya, berbagai hal dilakukan untuk memperoleh imbalan kasih dari pasangaannya agar tidak bertepuk sebelah tangan.

Apakah mungkin seorang pria akan mengasihi seorang wanita tanpa syarat sama sekali ? jawabannya “tidak mungkin”, bahkan dalam kehidupan saat ini, banyak sekali pernikahan yang harus pecah ditengah jalan meskpun baru seumur jagung. Ini terjadi karena landasan kasih adalah transaksional, ada hitungan untung rugi, ada rasa dendam, ada rasa benci, ada rasa marah ketika pasangannya bertindak tidak sesuai dengan keinginan berdua yang telah disepakati.

Atau mungkin juga, seseorang memberi bantuan kepada yang lain, baik atasan, rekan sekerja atau mitra bisnis atau juga hubungan pertemanan, sepanjang motif transaksi menjadi landasaran maka semuanya akan berakhir dengan tidak baik. Transaksi terjadi ketika kedua belah pihak menerima syarat2 meskipun hal tersebut tidak pernah diungkapkan.

Transaksi akan berakhir ketika syarat itu tidak terpenuhi olah salah satu pihak.

Sering terucap hubungan/ kasih transaksional dengan ciri khusus yaitu terselip sebuah kata “tetapi/ tapi”

“Aku mengasihi sepenuh hatiku, tapi apakah engkau juga mengasihiku?”

“ Saya akan bantu sekuat tenaga, tapi apakah engkau mau ……..”

“ Saya akan menyelesaikan masalahmu, tapi kami harus………”

Jadi jikalau kita berniat untuk mengasihi/ membantu sesama, lakukanlah itu tanpa mengucapkan ”tetapi/tapi”

Lalu, mungkinkah seseorang mengasihi sesamanya tanpa syarat?

Hareee geneee? Masih ada orang bisa mengasihi sesama tanpa syarat?? Mimpi kali ye !!!

Ya, benar, ucapan seperti itu akan meluncur dengan cepat, karena pada dasarnya kita manusia sudah banyak mementingkan diri sendiri terlebih lagi ketika untuk memperoleh sesuatu harus bekerja keras sekuat tenaga. Namun perlu diingat bahwa keberhasilan yang kita raih, bukanlah kemampuan kita semata, tetapi Tuhan Yang Maha Kasih memberi kemampuan kepada kita.

Lha, kalau kita merasa bahwa keberhasilan kita juga suatu anugerah, apa kita juga tetap sulit untuk berbagi kasih tanpa syarat???

Kita masih ingat Bunda Theresa, sebagai contoh Bunda Theresa tanpa banyak bicara, tanpa banyak seminar, tanpa banyak worskhop, namun Ibunda Theresa selalu bekerja, bekerja dan bekerja membagikan kasih kepada sesama, meskipun orang tersebut miskin, meskipun orang terebut terbuang, meskipun orang tersebut tidak dikenal, meskipun orang tersebut menolak dia, meskipun orang tersebut mendekati ajal.

Kasih yang tulus, kasih tanpa syarat sudah dicontohkan oleh Bunda Theresa.

Itulah wujud kasih tanpa syarat, membantu/ menolong orang lain tanpa kata tapi.

Sebentar lagi bagi umat Katholik/ Kristen akan merayakan Jumat Agung 2 April 2010 dan Hari Paskah 4 April 2010, yang merupakan wujud Kasih Allah kepada umatNya.

Begitu besar kasih Allah kepada manusia, mekipun kita banyak kesalahan, meskipun kita sering tidak taat, meskipun kita lupa mengucap syukur atas berkatNya, meskipun kita banyak dosa.

Melalui pengorbanan dan kematian Yesus di kayu salib sebagai karya keselamatan dan kasih Allah dinyatakan kepada setiap umatNya.

Selamat merayakan Hari Jumat Agung dan Hari Paskah bagi semua umat Katholik/ Kristen yang merayakan, semoga Kasih Tuhan selalu menyertai kita semua.

Bandung, 30 Maret 2010


Purwadi Siswana

Thank’s to Mr. IWN

Labels:

Pindahan

Pindahan, kata ini sagat bermakna bagi banyak orang yang sudah atau sering merasakan pindahan. Mungkin pindah rumah, pindah tempat kerja atau pindahan lainnya yang masing-masing membawa konsekuensi bagi orang yang melakukannya.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang pindah, baik dari sisi lingkungan sekitar maupun dari dalam diri sendiri. Tuntutan pekerjaan yang sangat berat juga bisa menyebabkan seseorang pindah, sebaliknya juga mungkin terjadi karena tidak ada tantangan lagi ditempat lama. Atau faktor lain seperti masalah kesehatan, bahkan juga mungkin mempertahankan prinsip dan idealisme.

Bagi karyawan atau pegawai perusahaan/ pemerintah, masalah pindah bukan menjadi hal yang aneh, bahkan menjadi hal yang lumrah/ wajar untuk dilakukan dengan maksud agar tetap terjaga kondisi yang baik bagi karyawan maupun perusahaan.

Memang kadangkala ketika pindah tanpa promosi, akan menjadi bahan pertanyaan banyak orang, terlebih lagi jika terjadi demosi dengan tanpa kesalahan . Otomatis hal ini akan berpengaruh pada karyawan tersebut.

Tinggal bagaimana menyikapi kepindahannya? Apakah disyukuri atau disesali tergantung dari bagaimana sudut pandang orang tersebut terhadap kejadian ini.

Secara kasat mata, jika pindah dan turun posisi maka pendapatan jelas turun, dan akan memberatkan dari segi ekonominya. Namun jika dipikir dengan jernih dan mencari makna yang terdalam dari peristiwa ini, mungkin yang muncul adalah rasa syukur. Karena value yang dimiliki seseorang bukan hanya dari sisi materi namun berbagai aspek yang bisa memberikan nilai tambah bagi orang tersebut antara lain :

  • Kesempatan untuk belajar hal baru
  • Kesempatan untuk menjalin hubungan yang lebih banyak
  • Kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga, yang selama ini sulit untuk diperoleh.
  • Kesempatan untuk menata kehidupan keluarga yang lebih baik karena waktu yang tersedia
  • Kesempatan untuk melakukan hoby yang selama ini terpendam karena sibuk kerja
  • Kesempatan untuk mendalami kehidupan beriman yang lebih baik dan mencoba untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan sesame.
  • Masih banyak kesempatan yang bisa dilakukan salah satunya adalah “sempat menulis artikel ini”

Yakinlah bahwa segala sesuatu yang terjadi atas diri kita, tentu seijin Yang Maha Kuasa, dan segala sesuatu yang terjadi tentulah yang terindah buat kita dan tepat pada waktunya, jika kita meyakini bahwa semua ini pemberian Yang Maha Kuasa.

Labels:

Tuesday, August 02, 2011

Lama nggak nulis

Kalau pikiran lagi buntu
mulutpun terasa kelu
tanganpun kaku
hingga nulispun aku nggak mampu...

ayo nulis lagi....

Wednesday, December 22, 2010

Menyambut NATAL dengan hati yang sederhana

Bagi banyak orang yang merayakan Hari Natal, menjelang awal bulan Desember, selalu melakukan ritual tahunan dengan menyambut Hari Natal.
Mulai dari lingkungan Keluarga, komunitas gereja, hingga ke Mall-mall di kota besar menyambut hari Natal dengan sangat meriah.

Berbagai aktivitas dilaksanakan dengan antusias untuk menyambut dan merayakan hari Natal,

Mulai membuka kotak penyimpan pohon natal yang mulai berdebu karena hampir satu tahun tidak dipasang.
Beramai-ramai dengan anggota keluarga untuk memasang dan menghiasi pohon Natal.

Mulai merencanakan pesta Natal, bagaimana acaranya, bagaimana hiasannya, bagaimana hidangan pestanya.

Mulai menyiapkan diri untuk tampil di acara Natal dengan pakaian terbaru, dan tampilan atau dandanan terbaru. Bahkan jika perlu dengan keluar masuk mall untuk memperoleh baju yang terbaik.

Mulai sibuk latihan Koor, latihan musik, latihan drama untuk perayaan natal, bahkan sampai kelelahan karena latihan yang intensif agar pada saat tampil bisa lebih baik.

Kesibukan membelenggu banyak orang, keluarga dan umat dalam menyiapkan Hari Natal dengan berbagai aktivitas yang sangat baik.

Namun dibalik itu, sering kali apa yang kita lakukan tidaklah sejalan dengan makna Natal yaitu kesederhanaan, kasih, pengampunan dan kedamaian.

Ketika seorang ibu sedang asyik menata pohon natal, lupa tersenyum manakala anak atau suaminya merasa lelah sehabis sekolah atau kerja, bahkan mungkin akan menghardik anaknya yang kecil ketika merengek untuk bermain.

Lebih fokus pada acara pesta Natal dan hidangannya, bukan pada makna persekutuan, ibadah dan saling menyayangi sesama.


Lebih fokus pada bagaimana ketika tampil dalam paduan suara atau musik atau drama, bukan pada makna puji kemulian bagi Allah melalui paduan suaranya.

Kesibukan yang dilakukan untuk menyambut Natal, sering kali terkait dengan motivasi seseorang bahkan identik dengan masa unjuk diri dengan berbagai hal yang dapat dilihat orang.

Maka ketika semua yang disiapkan ternyata tidak sesuai dengan harapan orang itu, yang muncul adalah rasa marah karena pestanya tidak baik, hidangan standar, acara membosankan.

Alangkah menyedikan, ketika semangat natal menggebu di awal Desember akhirnya berubah rasa kecewa.

Marilah kita menyiapkan Natal dengan hati yang sederhana, hati yang penuh kasih, hati yang penuh damai, hati yang penuh syukur....., agar kita juga selalu ingat masih banyak saudara kita yang menderita tertimpa bencana.

Menyambut Natal dengan hati yang sederhana...., semoga.

Selamat merayakan Hari Natal, Semoga Damai buat kita semua.

Bandung, 22 Desember 2010

Wednesday, December 15, 2010

Karena Gusti Allah

Kalaupun saya bisa menyelesaian tugas akhir tahun ini….,
Itu bukan karena kemampuanku
Itu karena rekan sekerjaku
Dan pasti..., itu karena Gusti Allah

Kalaupun saya bisa menahan amarah dan rasa geram...
Itu bukan karena aku orang yang sabar...
Itu karena dukungan dari rekan sekerjaku
Dan pasti.. itu karena Gusti Allah

Kalaupun saya bisa membagi waktu untuk kantor, keluarga juga gereja
Itu bukan karena saya mampu mengatur waktu
Itu karena rekan sekerja/ sepelayanan yang memahami peranku
Dan pasti ..., itu karena Gusti Allah

Kalaupun saya bisa tersenyum ketika sampai dirumah...
Itu bukan karena saya mampu melepas keletihan
Itu karena dukungan anak istriku yang bisa mengerti kondisiku
Dan pasti..., itu karena Gusti Allah

Kalaupun saya bisa tidur nyenyak ketika larut malam
Itu bukan karena saya mampu melepas stress karena beban kerjaku
Itu karena istriku yang membuat aku bisa melupakan kerjaan
Dan pasti...., itu karena Gusti Allah

Kalaupun saya bisa mengucap syukur
Itu bukan karena saya mampu menghitung berkatNya
Itu karena memang saya wajib bersyukur untuk segala yang Ia berikan
Dan pasti..., itu karena Gusti Allah

Kalau saya bisa cuti akhir tahun ini
Itu bukan karena hak saya semata untuk cuti
Itu karena kebaikan rekan sekerja, staf juga atasan saya memberikan kesempatan
Dan pasti..., itu karena Gusti Allah

Sunday, October 31, 2010

Wanita Perkasa yang penuh kasih

Setiap mendekati tanggal 22 Desember, yang sering muncul dalam angan maupun pikiran adalah sosok IBU. Semua orang juga setuju karena pada tanggal itu sebagai hari Ibu dan bagi keluarga yang berada akan merayakannya dengan meriah. Suami dan anak akan memberikan yang istimewa bagi ibu dengan memberikan layanan, hadiah dan kesenangan apa yang di-inginkan akan bisa terpenuhi.

Dalam tayangan televisi, berlomba-lomba untuk menayangkan secara khusus acara yang terkait dengan hari ibu, mulai dari keluarga pejabat, hingga testimoni para artis mengenai kasih dan kehidupan mereka tentang ibu mereka. Sangat menarik untuk ditonton karena semuanya menyatakan tentang kasih sayang ibu kepada anaknya. Meskipun kita tidak pernah tahu apakah yang ditayangkan juga menunjukkan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari mereka ? Who knows?

Namun dibanyak keluarga di Indonesia, hari Ibu adalah hari-hari yang biasa saja, seperti hari-hari yang telah mereka lalui dengan berbagai persoalan yang selalu harus dihadapi, kesulitan ekonomi, masalah kesehatan bahkan juga sangat mungkin harus membanting tulang untuk mencukupi makan keluarganya untuk hari itu.

Entah mengapa, tiba-tiba terbayang dengan jelas dalam memoriku yang seolah memutar kembali kehidupan keluargaku 37 tahun yang lalu. Di sebuah kota kecil seorang ibu janda dengan sembilan orang anaknya, hidup dengan serba kekurangan. Tanpa keahlian dan tidak ada dukungan ekonomi, harus memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk keluarga besarnya.

Ketika pagi masih sepi dan dingin yang menusuk tulang, kulihat ibuku sudah bangun dan memulai aktivitasnya menyalakan tungku kayu, memasak beras ketan dan singkong. Setelah masak lalu ditumbuk untuk dihaluskan, sehingga menjadi seperti adonan untuk dibuat getuk singkong dan ketan untuk digoreng. Selain ibu juga kakakku ikut membantu sebelum berangkat sekolah.

Siang hari ketika pulang sekolah, kulihat ibuku masih sibuk untuk menggoreng pisang, tempe juga getuk singkong yang harus dibawa oleh kakakku perempuan untuk dijual dipasar. Beruntung bila hari cerah dan dagangan bisa habis, maka kami bisa menikmati “keuntungan” untuk membeli beras untuk makan kami hari itu. Namun bila hari hujan, terkadang kakakku pulang dengan sisa dagangan yang cukup banyak. Kami pun bersyukur karena masih ada modal untuk membeli bahan untuk jualan esok hari dan kami masih bisa menikmati sisa dagangan sebagai makan malam kami, karena mungkin ada keluarga yang belum bisa makan pada hari itu.

Ketika malam telah larut, dan aku terbangun kulihat ibuku masih dengan tekun menyiapkan singkong dan beras ketan untuk diolah pagi hari. Disela-sela waktu yang ada kadang aku bermanja dipangkuannya sambil ibuku menggoreng. Kadang ia memintaku untuk belajar dengan baik dan ibuku memiliki kemauan yang keras agar semua anaknya bisa tetap sekolah. Meskipun tahu bahwa biaya sekolah sangatlah memberatkan ekonomi keluargaku. Kami semua anak-anak setuju dengan keinginan ibu, bahkan kakakku yang nomor lima, dengan rela tidur di jok mobil angkutan sebagai penjaga malam, meskipun esok paginya harus sekolah. Seluruh upah yang diperoleh diserahkan semuanya pada ibu untuk menambah modal atau untuk membayar tunggakan uang sekolah kami.

Ketika kami ada yang jatuh sakit, ibu segera membawa kami ke pak mantri kesehatan meskipun tahu biaya untuk berobat sangat menyulitkan kami. Namun kami bersyukur karena pak mantri kesehatan tersebut sekali waktu membebaskan biaya pengobatannya. Di sela-sela pekerjaannya, ibu selalu menyempatkan untuk menengok dalam bilik dan dengan penuh kasih sayang membalur tubuh kami supaya tetap hangat dengan campuran minyak tanah, minyak kelapa dan bawang merah, sambil memanjatkan doa untuk kesembuhan kami.

Kehidupan sehari-hari dijalani ibu dengan penuh ketabahan, tidak mengeluh penuh semangat, tegar menghadapi kehidupan yang berat dan percaya diri untuk berusaha memenuhi kebutuhan keluarga besar kami tanpa harus menadahkan tangan kepada saudara kami yang mampu. Ibuku berkata “apabila kita mau berusaha keras, maka kita harus yakin bahwa Tuhan Maha Kasih akan memberikan rejeki bagi setiap umatNya”

Ibuku juga tidak berpendidikan tinggi, hanya sempat sampai kelas 2 Sekolah Rakyat, namun ibu selalu menekankan agar kami tetap sekolah, karena bila seseorang pintar dan mampu sekolah yang tinggi, maka kehidupannya akan dapat berubah. Keinginan ibu untuk mempertahankan kami agar tetap sekolah juga membawa konsekuensi yang berat karena kami harus melunasi uang sekolah manakala mulai menghadapi ulangan umum atau ujian. Kami harus ikut ulangan/ ujian dan ibu terkadang memaksakan diri mengambil hutang kepada pemberi pinjaman dengan bunga yang tinggi, manakala tidak ada lagi barang yang cukup berharga untuk digadaikan.

Sekali waktu ada seseorang diemperan rumah kami, kedinginan karena hujan dan kelihatan kelaparan, maka ibu dengan ringannya memberi makan bahkan terkadang membekali sedikit uang untuk pulang, meskipun tidak tahu asal-usul orang tersebut. Satu hal yang mendalam dalam benak kami, ibu berpesan kalau ada orang yang kekurangan dan memerlukan bantuan, bantulah kalau kita memang bisa membantu. Seperti pepatah sederhana kebanyakan orang Jawa, ibu mengatakan, biarlah ibu membantu orang ibaratnya menanam benih kebaikan dan tidak tahu kapan menuainya. Secara tidak langsung ibu telah menamam benih kasih dalam nurani kami tanpa banyak kata-kata tetapi dalam bentuk yang nyata.

Meskipun tahu bahwa keuntungan menjual makanan tidak seberapa, ibu juga melayani pembeli dengan membayar dibelakang (sistem bon) ketika sudah menerima upah. Namun tidak semua pelanggan itu berperilaku baik, hingga suatukali ada langganan yang dengan sistem bon pergi begitu saja. Ibuku tidak marah bahkan membiarkannya, karena berprinsip nanti Gusti akan memberikan lebih dari yang hilang. Rasanya tidak masuk akal pada masa yang susah bisa memafkan orang yang merugikan, kalau ibuku tidak memiliki rasa kasih, maka hal ini tidak mungkin terjadi.

Hidup yang serba kekurangan kami jalani dengan rasa pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Ibuku menjalani kehidupan ini dengan penuh tangis, perjuangan yang tidak mengenal menyerah, penuh pengharapan bersandar pada Tuhan dan mewujudkan kasih dalam keseharian.

Ibu, terima kasih atas didikan kehidupan bagi kami.

Ibu, aku kangen

Ibu, engkau Wanita Perkasa yang penuh kasih bagiku.


Bandung, 26 Januari 2008

Labels:

Monday, October 11, 2010

Sepeda Motor


Jika ditanya, kendaraan apa yang paling banyak ditemui di jalan raya saat ini? Hampir dapat dipastikan jawabannya adalah “sepeda Motor”.
Kali ini saya tidak membicarakan sepeda motor sebagai raja jalanan, tetapi mencoba memahami dan belajar, mengapa banyak orang memilih sepeda motor sebagai alat transportasi.

Banyak orang merasa heran ketika mengetahui saya tidak bisa mengendarai sepeda maupun sepeda motor. Bagi banyak orang persoalan naik sepeda adalah masalah sepele, demikian pula dengan mengendarai sepeda motor hampir semua orang bisa mengendari sepeda motor. Ketidakmampuan saya untuk naik sepeda berawal dari masa kecil saya dari keluarga yang tidak mampu dan sepeda merupakan barang yang mewah bagi kami sehingga tidak mungkin untuk terbeli. Sehingga sampai masa remajapun saya tidak pernah mampu untuk naik sepeda, dan akhirnya juga tidak mampu untuk mengendarai sepeda motor.

Saya mencoba untuk memahami mengapa banyak orang memilih sepeda motor untuk alat transportasi, maka saya memutuskan untuk mencoba naik sepeda motor membonceng keponakan dari Yogyakarta ke Wonosobo dengan jarak hampir 100 km. Ini merupakan rekor bagi saya mbonceng sepeda motor terjauh yang pernah saya lakukan.
Kebetulan ketika saya berangkat ke Yogyakarta membawa jaket kulit yang cukup tebal, sehingga dapat melindungi saya dari terpaan angina yang bisa membuat saya masuk angin.
Helm standar sudah disiapkan keponakan dan saya pakai untuk keselamatan saya, serta memenuhi aturan lalu lintas bahwa pengendara dan penumpang sepeda motor wajib menggunakan helm standar.

Perjalanan Yogyakarta ditempuh melalui rute Yogyakarta – Muntilan – Watucongol – Mendut – Borobudur – Salaman – Slento – Sapuran – Kretek dan berakhir di Wonosobo dengan lama perjalan sekitar 2 jam, termasuk isi bensin dan makan pecel.

Ketika sudah melewati Borobudur, keponakan saya singgah di SPBU dan mengisi bensin Rp.10.000,- (sepuluh ribu) untuk memenuhi tangki bensinya. Ketika sampai di Wonosobo, indicator bensin masih sekitar ¼ ukuran.
Boleh dikatakan, hanya dengan biaya Rp. 10.000,- kami berdua sudah sampai di Wonosobo, dan bila dibandingkan dengan bus umum, kami harus mengeluarkan biaya lebih dari Rp. 60.000,- dan dengan waktu tempuh lebih dari 3 Jam. Bila dibandingkan dengan travel, kami harus mengeluarkan biaya sekitar Rp. 100.000,- dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Jika sewa taksi, maka kami harus mengeluarkan biaya sekitar Rp. 350.000,-

Ketika kami ingin makan siang sesuai dengan keinginan kami, maka dengan mudah sepeda motor langsung berhenti ditempat yang kami tuju tanpa mengalami kesulitan, dan sembari menikmati makan siang, kami bisa melepas penat sesaat sebelum melanjutkan perjalanan.

Dari segi kepraktisan, rasanya sepeda motor lebih praktis dibandingkan dengan dengan naik kendaraan umum, karena dari rumah harus ke terminal bus, naik angkutan kota, turun diterminal ganti bus jurusan semarang, kemudian turun di Magelang untuk ganti jurusan Magelang Wonosobo. Sampai di Wonosobo harus ganti angkutan kota dari terminal bus sampai ke terminal angkutan kota, dan masih jalan kai sekitar 200 meter untuk sampai ke rumah di wonosobo.

Pengalaman naik sepeda motor dari Yogyakarta ke Wonosobo memberikan pelajaran bagi saya antara lain :
1. Berkendaraan dengan sepeda motor lebih efisien baik dari segi biaya maupun waktu tempuh karena bisa memilih jalur alternatif yang paling cepat.
2. Flexibilitas bagi pengendara untuk berhenti atapun melanjutkan perjalanan sesuai dengan kemampuan.
3. Tidak terlalu report gonta ganti kendaraan umum.

Menganalogikan perjalanan dari Yogyakarta ke Wonosobo dengan kegiatan tranportasi harian menggunakan sepeda motor, memberikan pelajaran bagi saya bahwa :
1. Sebagian besar keluarga di Indonesia memiliki kemampuan ekonomi dalam golongan menengah kebawah, dan sebagian besar letak perumahan jauh dari kota maka saya berpendapat bahwa sepeda motor lebih efisien baik dari segi biaya maupun waktu tempuh karena bisa memilih jalur alternatif yang paling cepat.
Mari kita coba menghitung berapa biaya transportasi harian untuk satu keluarga baru yang hidup di satu komplek perumahan yang tidak dillalui langsung oleh angkutan umum.
Ongkos becak untuk pulang pergi dari rumah ke jalan raya?
Ongkos angkutan kota atau bus ketempat kerja? Belum lagi kalau lokasi kerja harus ditempuh dengan dua kali kendaraan umum.
Mungkin biaya transportasi ini menjadi porsi yang cukup dominan mengkonsumsi gaji bulanan, dan biaya transportasi ini hilang begitu saja.
Jadi daripada uang terbuang percuma, akan lebih baik bila digunakan untuk angsuran sepeda motor dan akhirnya dapat memilikinya. Motif ekonomi menjadi hal yang penting mengapa sepeda motor sangat banyak dijalan raya saat ini.

2. Flexibilitas bagi pengendara untuk berhenti atapun melanjutkan perjalanan sesuai dengan kemampuan.
Dengan memilki sepeda motor, memungkinkan pengendara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saat pulang kantor singgah di warung, atau swalayan tanpa harus mengeluarkan waktu ekstra ataupun biaya tambahan.

3. Tidak terlalu report gonta ganti kendaraan umum karena seberapa jauh selama masih dapat ditempuh dengan sepeda motor maka waktu yang ditempuh lebih cepat.

4. Jalan macet, bukan kendala bagi sepeda motor karena menurut pengamatan saya, seakan sepeda motor mudah mencair ketika terjadi kemacetan dengan kemampuan melalui celah diantara mobil pribadi atau angkutan umum sehingga tetap berjalan lancar.

5. Ketika musim mudik tiba, tidak perlu repot antri tiket (kereta atau bus malam) untuk perjalanan pulang , dan lebih hemat lagi karena harga tiket biasanya mahal dan sangat tergantung waktunya.

6. Tambah lapangan pekerjaan, mulai dari bengkel sepeda motor, tambal ban, penjual perlengkapan sepeda motor, juga penjual bensin eceran, tukang ojek. Jangan lupa, masih ada pajak sepeda motor lho..

Jadi, menurut saya, jangan hanya memandang sisi negatif dari cara pengendara sepeda motor dijalanan, tetapi lihat sisi positif yang banyak dinikmati oleh para pemilik sepeda motor dan ternyata sangat mampu memberikan Multiplier efek yang sangat dahsyat yang mampu menyumbang pertumbuhan ekonomi negeri ini.

Bandung, 13 Mei 2009.

Budaya Instant

Budaya Instant

Perkembangan teknologi yang sangat cepat dan menyentuh semua aspek kehidupan, secara umum berdampak positif terhadap peningkatan kualitas kehidupan karena dukungan teknologi memungkinkan seseorang untuk melakukan berbagai kegiatan dengan lebih cepat dan lebih akurat. Termasuk juga dalam hal dukungan teknologi bagi perkembangan ilmu kesehatan, yang dapat membantu untuk memudahkan diagnosa suatu penyakit atau memonitor perkembangan janin dengan sangat akurat.

Namun ada juga sisi negatif yang muncul dari perkembangan teknologi yang berdampak pada perubahan budaya, karena seringkali bantuan teknologi tersebut dimanfaatkan oleh seseorang untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya dengan cara yang singkat tanpa harus memperhatikan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.

Kejahatan untuk memperkaya diri sendiri dapat melalui dukungan teknologi informasi, hal ini sudah banyak terjadi dan ketika orang ingin memiliki sesuatu dengan cepat maka teknologi informasi disalahgunakan menjadi alat untuk memperkaya diri salah satu kejahatan kartu kredit yang terbesar didunia adalah di Indonesia,
Kasus kartu kredit ini berdampak negatif bagi bangsa Indonesia karena tingkat kredibilitas para penggunaan kartu kredit menjadi semakin memburuk.

Ketika tingkat keberhasilan seseorang diukur dalam bentuk materi, kedudukan dan ketenaran yang semuanya itu bersifat hedonisme, maka secara perlahan dan pasti, generasi muda sekarang juga terpengaruh dengan pola hidup yang hedonisme bahkan mungkin sudah banyak yang terjerat dengan cara hidup seperti ini. Impian keberhasilan dan ketenaran semakin menyelimuti banyak anak muda, mulai dari ingin tenar dengan cepat maka muncullah segala macam festival/ kontes menuju ketenaran dalam sekejap. Orang berbondong-bondong mengantri untuk pendaftaran, kemudian rela mengorbankan waktu, tenaga juga biaya untuk mengikuti audisi, dan ketika masuk final, lebih banyak lagi biaya yang dikeluarkan untuk mendukung kemenangan melalui SMS. Akhirnya, seberapa banyak orang yang berhasil melalui kontes dan festifal itu? Siapa yang untung? Siapa yang buntung?
Penyelenggara akan mengeruk keuntungan yang besar, termasuk provider SMS, sementara banyak keluarga yang akhirnya terjerat hutang karena impian kemenangan dan ketenaran yang akan diraih secara instan hilang dalam hitungan detik.

Bagaimana dengan pola hidup masyarakat sekarang? Pola hidup yang sehat diawali dengan mengkonsumsi makanan yang sehat, namun kenyataan sekarang banyak orang yang menginginkan serba instan dalam dalam mengkonsumsi makanan. Dengan alasan sibuk tidak ada waktu sehingga tidak sempat untuk menyiapkan makanan sehat, atau cari mudahnya saja, banyak orang tua mengajak anak-anak makan bersama di gerai siap saji. Seberapa banyak gerai makanan siap saji di kota anda, maka semakin banyak jumlah gerai makanan siap saji itu semakin menurun tingkat kesehatan masyarakat setempat. Bahan makanan yang berasal dari peternakan yang menggunakan hormon pertumbuhan memungkinkan hasil ternak dapat lebih cepat untuk dijual, dan keuntungan tentu akan diperoleh bagi peternak juga gerai makanan siap saji, seolah para konsumen diuntungkan karena dapat menyantap makanan dengan cepat dan mudah diperoleh dibanyak tempat, namun sebenarnya konsumen yang setia menyantap makanan tersebut sedang menabung penyakit juga meningkatnya hormon pertumbuhan bagi anak-anak kita. Secara jujur dapatkah kita mengatakan bahwa jenis makanan siap saji (instan) seperti ini dapat menurunkan tingkat kualitas kesehatan?

Lebih parah lagi, banyak orang tua yang menyiapkan makan pagi untuk anak-anak dengan membeli satu kardus mie instan dengan alasan mudah dan cepat disajikan. Adakah pembaca yang belum pernah menyantap mie instan? Jika belum pernah, berbahagialah dan usahakanlah tidak menyantapnya.
Berbagai jenis makanan instan dengan mudah dapat diperoleh di warung atau supermarket mulai dari mie instan, sop instan, bubur instan, nasi goreng instan juga tersedia berbagai jenis makanan kaleng yang dapat dimasak secara instan.
Dapatkan makanan jenis instan memenuhi kebutuhan gizi seseorang secara layak? Jelas tidak, bahkan bisa dikatakan hanya untuk memenuhi rasa lapar saja dan selanjutnya menabung berbagai zat yang berbahaya bagi tubuh kita apabila dikonsumsi secara rutin dan jangka panjang.

Apakah budaya instan juga sudah mencemari dunia pendidikan? Jawabannya ya, dan sudah mulai mencengkeram erat dalam dunia pendidikan.
Nilai yang diajarkan dalam dunia pendidikan kita bukan lagi nilai kehidupan yang hakiki, tetapi nilai ukuran berhasil tidaknya memenuhi standar.
Kalau dari segi kesehatan berkorelasi dengan banyaknya gerai siap saji, maka dunia pendidikan yang berkualitas berkorelasi negatif dengan menjamurnya Bimbingan Belajar. Semakin banyak tempat Bimbingan Belajar, maka keberhasilan yang akan dicapai lebih banyak pada pemenuhan nilai standar, bukan lagi nilai-nilai kehidupan yang hakiki.
Solusi untuk keberhasilan Ujian Nasional, masuk perguruan tinggi, dengan metode mengerjakan soal dengan cepat dan tepat diajarkan dalam Bimbingan Belajar.
Bagaimana dengan mahasiswa? Tidak jauh berbeda karena bekal belajar yang instan sudah mulai merasuk ketika menjelang akhir di SD, kemudian diakhir SMP juga diakhir SMA, maka ketika menjadi mahasiswa bibit belajar instan sudah mulai tumbuh dan menjadi pohon belajar instan. Sistem SKS menjadi plesetan dan menjadi sesuatu yang benar, karena banyak mahasiswa terlalu santai dalam belajar dan sibuk ketika menjelang ujian semester.
Lebih parah lagi, ketika menyusun tugas akhir, lebih banyak mencari referensi Skripsi yang sejenis dengan topik yang akan diajukan ke dosen pembimbing, bukan mencari referensi ilmu yang harus mendasari dalam penyusunan skripsinya.


Setelah lulus secara instan, dan dengan bekal yang minim, mulai mencari pekerjaan dengan bantuan sanak saudara untuk memperoleh koneksi. Ini cara instan untuk memperoleh pekerjaan, bukan pada usaha yang mandiri.
Dengan koneksi dan sedikit uang pelicin, maka ketika bekerja juga muncul buah-buah dari budaya instan, yaitu bagaimana memperoleh karir yang tinggi dengan cara yang cepat. Karir yang tinggi tidak mungkin dapat diperoleh secara cepat apabila seseorang tidak memiliki keunggulan yang istimewa dibandingkan teman sekerja lainnya. Namun kondisi sekarang sudah banyak pimpinan perusahaan ataupun eksekutif muda yang memiliki karir instan, dan memperoleh banyak keuntungan bagi dirinya, namun tidak demikian dengan perusahaan atau instansi yang dipimpinnya, karena keberhasilan yang diperoleh adalah singkat dan tidak berkelanjutan. Keberhasilan ini identik dengan ukuran yang ada saat ini yaitu kedudukan dan kekayaan yang berlimpah, meskipun kekayaan itu tidak membawa berkah. Pola karir instan ini, tidak ubahnya seperti perilaku katak yang memerlukan pijakan untuk dapat meloncat yang lebih tinggi. Mengorbankan orang lain atau anak buah untuk memperoleh prestasi yang tinggi, menginjak kemampuan orang lain untuk menonjolkan dirinya.

Jika banyak karyawan/ pegawai yang berperilaku seperti ini, maka dalam waktu sekejap perusahaan akan terlihat berkembang bila dilihat sepintas dari sisi laporan keuangannya. Perusahaan besar banyak yang memanipulasi angka-angka sehingga terlihat sangat bagus kinerjanya, meskipun sebenarnya pondasi bisnis berdiri diatas pasir bukan diatas beton atau batu, sementara tiang utamanya bersandar pada pimpinan instan sehingga dengan mudahnya perusahaan tersebut bangkrut dan para pemimpinnya kabur membawa keuntungan sendiri.

Jika mulai dari hal yang terkecil dalam sisi kehidupan masyarakat dimulai dari yang serba instan, bukan suatu hal yang mustahil, ketika kehidupan religinya juga bersifat instan. Supaya dilihat atasan, maka secara menyolok akan melakukan ritual agamanya, bukan pada keyakinan melakukan hal tersebut. Supaya dapat pujian masyarakat maka pada saat memberikan bantuan bencana dipublikasi besar-besaran.
Mungkin saat ini juga sudah banyak yang melakukan doa instan, nggak perlu berjamaah di masjid, nggak perlu datang kegereja atau tempat ibadah lainnya, karena doanya disampaikan secara instan, langsung minta pada Tuhan, dan berharap semua permintaannya dipenuhi dalam sekejap.

Betapa parahnya jika bidaya instan sudah mendarah daging dalam bangsa ini, jangan berharap banyak untuk terjadi perubahan budaya bangsa ini bila tidak dimulai dari diri kita sendiri.

Bandung, 28 Mei 2009

Labels: ,

Berpelukan

Jika kita masih punya anak kecil atau adik kecil yang senang nonton TV acara Teletubis, sering ada adegan berpelukan antara tingky, winky, pooh dan lala. Setelah berpelukan dilanjutkan loncat-loncat dan tawa riang. Jika hanya dilihat sebagai hiburan anak-anak, maka adegan berpelukan itu hanya sekedar ritual dan tidak ada maknanya, bahkan seringkali menjadi bahan bercanda dengan kata-kata : “berpelukan….”

Jika pembaca ditanya “ seberapa sering saudara memeluk suami/istri/anak saudara?”
Jika jawabannya sering, berapa kali dalam sehari berpelukan?
Jika lebih dari satu kali, pada waktu kapan paling nyaman dilakukan? Pagi hari, siang hari atau malam hari?
Jika jawabannya tidak pernah berpelukan, cobalah setelah selesai membaca tulisan ini untuk memulai memeluk istri/suami/ anak.
Tentunya jangan sampai salah sasaran dalam berpelukan .... he...he...he..
Atau pernahkan saudara mengucapkan ” Peluk aku dong?” baik kepada pasangan maupun pada anak saudara?
Atau mungkin malu untuk mengucapkan kalimat itu?

Bagi kami sekeluarga, rasanya sudah seperti resep makan obat saja, pagi hari bangun tidur, dan ketika anak mau berangkat sekolah/ kerja, juga malam hari sepulang kerja dan berangkat tidur. Bahkan Abi putriku, hampir setiap hari minta diselimuti dan dipeluk sebelum tidur.
Terlebih lagi apabila ada kegiatan diluar kota hingga tidak bertemu beberapa hari, maka anak2 dan istriku akan langsung memeluk ketika saya menginjak rumah.
Perasaanku menjadi semakin lega ketika memeluk mereka.

Mungkin akan timbul pertanyaan, apa sih manfaatnya dengan berpelukan?
Jawabannya adalah banyak manfaat yang diperoleh dari berpelukan.
Berpelukan bisa mencerminkan wujud kasih sayang kepada pasangannya, bisa juga mewujudkan rasa kasih kepada anak2.
Berpelukan bisa juga mengurangi rasa kegelisahan, bahkan juga bisa mengurangi rasa stress.
Manfaat berpelukan lebih detil silahkan lihat di sini pada situs ini http://forum.detik.com/showthread.php?t=932)

Satu hal yang ingin saya sharingkan ke rekans, khususnya yang mempunyai anak kecil yang sering marah2 karena berbagai kondisi, seperti kesulitan untuk belajar, kesulitan untuk menyampaikan pendapatanya, ingin selalu menang sendiri sehingga muncul ketegangan dan berakhir dengan kemarahan yang mungkin bisa membahayakan diri pada anak kecil itu.
Munculnya kemarahan ini diakibatkan tegangnya saraf pada anak2 karena keinginannya tidak bisa dipenuhi ataupun tidak bisa menyampaikan keinginannya secara jelas.

Dalam kondisi seperti ini, ada sebagian orang tua yang sabar menghadapi anak yang mudah marah, namun ada juga yang tidak sabar bahkan ikut marah-marah.
Cobalah bersabar dan peluklah anak itu dengan lembut dan usaplah punggungnya dengan lembut dan teratur, maka emosi anak tersebut akan mereda karena pelukan dan usapan lembut dipunggungnya akan membuat anak itu merasa tetap disayangi dan ketegangan sepanjang punggung akan berkurang dan yang muncul rasa nyaman.
Pelukan yang lembut dan usapan lembut dipunggung merupakan salah satu cara relaksasi bagi anak yang dipeluk, selain itu bagi orang tua akan lebih sabar dan lebih sayang.

Akan lebih baik lagi apabila menjelang tidur, peluklah anak kita kemudian suruh berbaring tertelungkup dan usaplah punggungnya sambil diajak bicara atau cerita maka ia akan merasa nyaman dan segera tidur nyenyak.

Secara perlahan dan pasti, akan terjadi perubahan yang mencengangkan karena sifat anak yang pemarah itu berubah total, menjadi semakin manis dan lebih pengertian terhadap kondisi lingkungan dan prestasi bejalarpun membaik.

Jika anak atau adik kecilmu mudah marah, cobalah untuk dipeluk dan usaplah punggungnya secara lembut, pasti akan terjadi perubahan, karena saya telah membuktikan.

Ayooo, budayakan berpelukan dalam keluarga kita.

Salam Teletubis........., berpelukan!

Labels:

Ketika Sakit Tiba

Beberapa minggu yang lalu, kami berkunjung ke beberapa kenalan kami yang sudah lanjut usia sedang menjalani perawatan di rumah sakit maupun yang baru pulang dari rumah sakit. Meskipun kunjungan itu hanya sebentar namun sangat berarti bagi mereka juga bagi kami karena ada jalinan silaturahmi juga saling menguatkan dan doa untuk kesembuhan mereka.

Semua orang ingin tetap sehat dan dapat menjalankan semua aktivitasnya dengan baik dan lancar, namun terkadang ketika semuanya lancar dan kondisi kesehatan prima, seringkali membuat seseorang lupa betapa berharganya nilai kesehatannya. Hingga lupa waktu untuk beristirahat ataupun meluangkan waktu untuk berolahraga agar badan tetap sehat. Ujung-ujungnya adalah terkurasnya tenaga dan pikiran untuk mencapai target tersebut dan jatuh sakit karena keletihan yang sudah menggunung.

Akhirnya sadar, setelah sakit menimpa dan mengharuskan untuk istirahat total dalam jangka waktu tertentu. Masih beruntung apabila ternyata sakitnya hanya karena kelelahan, sehingga dengan istirahat maka kondisi badan akan menjadi kembali lebih baik. Namun ada kalanya sakit tersebut berujung pada sakit yang permanent seperti stroke, yang berakibat pada kelumpuhan sehingga tidak bisa bisa sembuh seperti sediakala.

Sehat dan sakit bagi seseorang tentunya bisa terjadi kapan saja, dan semuanya membawa hikmat bila kita mampu memahami betapa Tuhan Yang Maha Kasih selalu menyertai kita dikala sehat maupun di kala sakit. Bersyukur untuk segala kondisi yang kita terima karena semuanya membawa kebaikan buat kita.
Memang seringkali ketika sakit tiba, akan membuat banyak orang merasakan sebagai penderitaan karena secara ekonomi akan mengeluarkan banyak biaya untuk proses perawatan dan penyembuhan, selain itu juga membawa kesedihan bagi keluarga dekatnya.

Namun dibalik penderitaan itu, ada juga hikmah yang diperoleh bagi sipenderita maupun bagi keluarga. Berbagai macam hikmah bisa tumbuh ketika sakit tiba seperti hal sebagai berikut :
• Ketika seorang ibu yang sudah renta harus dirawat dirumah sakit, akhirnya bisa mengumpulkan semua anak2nya yang selama ini kurang begitu rukun karena masing-masing punya pendirian yang sangat berbeda, namun tegur sapa juga pengertian kembali terjalin manakala bisa berkumpul dan menghadapi persoalan yang sama, yaitu bagaimana supaya ibu cepat sehat kembali.
• Pertemuan antar keluarga yang selama ini jarang terjadi karena masing-masing anggota mempunyai kesibukan sendiri, bisa terjalin kembali manakala ada anggota keluarga ada yang terbaring di rumahsakit.
• Ketika terbaring di tempat tidur dan tidak bisa beraktivitas, memungkinkan adanya perenungan diri tanpa terganggu rutinitas, terasa lebih dekat dengan Tuhan Yang Maha Pemurah. Berdoa, memuji Tuhan dengan sepenuh hati dan lebih memaknai arti kehidupan.
• Ketika sakit, kita mulai sadar akan banyaknya potensi berkurangnya kesehatan karena berbagai hal yang disebabkan pola hidup yang tidak sehat, maka timbul semangat untuk merubah pola hidup menjadi pola hidup sehat.

Jadi, ketika kita sedang sehat, bersyukurlah untuk kesehatan yang Tuhan berikan buat kita serta jangan lupa untuk menjaga kesehatan tersebut. Sebaliknya ketika sedang sakit, bersyukurlah karena Tuhan memberi kesempatan kita untuk beristirahat juga mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha kasih.

Ternyata hal ini juga terjadi pada keluargaku, 8 hari putriku harus terbaring dirumah sakit karena DB, dan kami jalani semuanya dengan rasa pasrah dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Puji Tuhan putriku sudah kembali sehat, dan selama berbaring di rumah sakit, kami sekeluarga selalu ngumpul bareng.

Jadi, bersyukurlah senantiasa dalam sehat maupun dalam sakit, karena Tuhan Yang Maha Kasih selalu melindungi kita dan memberikan yang terbaik buat kita sesuai dengan kehendak-Nya.

Salam Sehat.


3 Maret 09

Labels: