Wednesday, February 20, 2008

Rancabuaya

Setiap akhir tahun, menjadi rutinitas yang harus saya lalui dengan perasaan harap-harap cemas, mengingat anak-anak libur panjang  dan tentunya anak-anak sangat berharap dapat liburan bersama  di akhir tahun. Namun bagi saya muncul juga rasa cemas  apakah saya dapat cuti dan liburan akhir tahun bersama keluarga?

 

Tempat wisata favorit liburan keluarga  kami adalah pantai, dan ada rasa penasaran mengenai pantai selatan pulau Jawa, khususnya di Jawa Barat karena lokasi yang kami kunjungi baru seputaran Pangandaran dan Pelabuhan Ratu . Beberapa artikel yang saya dapat menyatakan keindahan pantai selatan di Jawa Barat sangat indah dan eksotis, dan satu pantai yang menarik bagi saya yaitu pantai Rancabuaya, yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Garut.

 

Sembari tetap mengejar dead line  (kerjaan harus selesai sebelum libur panjang), saya coba cari info tentang Rancabuaya, mulai kondisi pantai, fasilitas juga rute perjalanan.

Akhirnya, saya dapatkan info fasilitas penginapan yaitu villa-café-zeandia-pantai rancabuaya, yang dikelola oleh Fardautourtravel.

Ketika melihat foto pemandangan dari vila ke arah pantai Rancabuaya,  langsung saya buat rencana ke Rancabuaya! Sambil membayangkan berdiri di pintu villa menghadap pantai, rasanya pilihan liburan kali ini cukup menantang dan menarik untuk segera dilaksanakan dengan rute pilihan : Bandung – Banjaran – Pangalengan – Cukul – Cisewu – Rancabuaya.

 

Thanks God!, pekerjaan selesai sesuai schedule, cuti di setujui……ah.. betapa nikmatnya akhir tahun ini, dapat dijalani dengan libur panjang.

Hari Jumat 21 Desember 2007,  saya datang ke Fardau Tour & Travel di Jl. Maskumambang no 3 Bandung.  Telp 022-7318129, untuk memperoleh info mengenai vila di Rancabuaya, ternyata  dari tgl 19 s/d 22 Desember 2007 sudah dibooking,  akhirnya saya pilih tgl 26 Desember 2007 karena rencana akan melanjutkan perjalanan jalur selatan-selatan Jawa barat hingga Jawa Tengah dan berakhir tahun di Jogya.

Tariff villa semalam Rp. 375. ribu, dan dapat memanfaatkan peralatan masak yang tersedia di sana, tersedia lima kamar tidur dan ruang keluarga yang besar. 

Ketika saya tanyakan bagaimana kondisi jalan dari Pangalengan hingga Rancabuaya?  Penjelasan dari pegawai travel, bilang kalau kondisi jalan cukup baik, menurut saya dia ragu untuk menjelaskan karena jawabannya normatif saja, mungkin dia belum pernah ke Rancabuaya.

 

 

 

 

Rabu pagi, tgl 26 Desember 2007, cuaca Bandung lumayan cerah setelah semalam hujan turun lebat, dan ketika saya lihat arah ke selatan, mendung menggantung cukup gelap, mudah2an dalam perjalanan ke Rancabuaya cuaca sekitar Pangalengan sudah cerah. Anak-anak & Istri sepakat untuk tidak sarapan pagi, karena kami sudah merencananakan sarapan pagi di Ayam Goreng Tangek letaknya dipinggir jalan arah Pangalengan, dimana suasana, pemandangan sangat indah dan jelas........, rasa ayam goreng plus sambal merah dan hijaunya mak nyuussss tenan!

Sekitar pk. 08.00 WIB, setelah cek perlengkapan dan bahan bakar full tank, kami mulai jalan menuju Banjaran melalui Baleendah, perjalanan relatif lancar karena masih dalam suasana libur panjang.  Perjalanan tersendat sebentar ketika memasuki area terminal & pasar Banjaran, karena banyak angkot yang parkir menunggu penumpang di pinggir jalan, bukan di dalam terminal.

 

Sarapan Pagi di Warung Ayam Goreng Tangek.

Dari Banjaran, belok kiri ke arah Pangalengan, kami lalui dengan lancar dan kami buka jendela untuk menikmati segarnya udara pegunungan, dan sesuai dengan rencana awal, kami akhirnya singgah di Ayam Goreng Tangek. Syukur sekali cuacana sudah mulai

cerah sehingga kami bisa menikmati sarapan pagi di pinggir tebing dengan pemandangan yang sangat indah. Kita bisa lihat jalur jalan raya yang telah kita lewati, serta hijaunya sawah dan ladang sepanjang mata memandang dan semilirnya angin pegunungan.

Kami Pesanan ayam goreng, tahu tempe dan pete goreng.

Untuk kami berempat, disediakan dua bakul nasi, sambel merah dan hijau beserta lalapan yang segar. Mungkin karena masih pagi, pesanan kami cepat tersaji, dan dalam keadaan hangat kami mulai menikmati sarapan pagi kami. Ayam goreng cukup kering dan kelihatan kuning menarik, dan ketika gigitan pertama kami rasakan, gurihnya minta ampun, empuk dan aromanya sangat khas. Saya coba cuilan ayam goreng dicocol ke sambal hijau, dan sesuap nasi putih yang pulen serta wangi dengan cepat sudah beralih dimulut, enak tenan campuran ayam yang gurih, sambal hijau rasa kencurnya nendang dan sedikit pedas. Pete gorengnya pun menarik karena berisi penuh dan..... ketika masih panas plus sambal hijau....mm.... membuat kami harus nambah nasi lagi.  

Saya coba tempe goreng juga tahu goreng, dicocol ke sambal merah, yang ternyata merahnya bukan karena semuanya cabai merah, tetapi juga ada campuran tomat merah, dan sedikit aroma terasi, ternyata juga nikmat! Nambah  nasi lagi,.... ini sarapan atau makan siang?

Kami berempat hanya perlu membayar sekitar Rp.40.000,-

Jadi saran saya cobalah kalau ke Pangalengan singgah di Ayam Goreng Tangek ini.

 

Menikmati suasana Situ Cileunca dan Perkebunan Teh

Tak terasa kami berhenti cukup lama untuk makan pagi, lebih dari 30 menit, karena kenyang dan harus menyesuaikan dulu dengan kondisi perut yang sudah full dan perjalanan yang masih panjang ke Rancabuaya. 

Kami meneruskan perjalanan menuju Pangalengan dengan perlahan dan jendela mobil kami buka lebar-lebar karena udara yang segar dan bisa menikmati hijaunya tanaman sayuran sepanjang jalan yang kami lalui.

Kurang dari seperempat jam kami sudah masuk ke Pangalengan dan, tepat di pertigaan ada pos layanan polisi yang selalu siap membantu bila ada yang perlu bantuan. Suasana Pangalengan relatif sepi dan terasa dingin karena mendung menggelayut diatasnya.

Untuk memastikan rute yang akan kami jalani menuju Rancabuaya, kami coba mencari informasi ke petugas jaga di layanan  polisi, dan sungguh surprise, karena mereka melayani dengan sangat ramah. Petugas menginformasikan jarak dari Pangalengan sampai Rancabuaya sekitar 80 Km dan kondisi jalan bisa dilalui mobil. Jalanan cukup bagus dari Pangalengan hingga akhir perkebunan teh.

Ada perasaan yang janggal ketika ditanya mengenai kondisi jalan s/d Rancabuaya, jawabannya kurang meyakinkan karena memang jalur tersebut sangat jarang kendaraan umum yang melayani rute tersebut.

Meskipun demikian, kami bertekad the show must go on, pokoknya harus nyampe ke Rancabuaya.

 

Dari pertigaan kota Pangalengan, kami mengambil jalur kearah kiri sejalan dengan rute ke Situ Cileunca. Jalanan mulus aspal hotmix, namun relative lebih sempit dibandingkan jalan utama menuju Pangalengan. Perumahan sepanjang jalan menuju Situ kelihatan rapi dan teratur, beberapa rumah memiliki halaman yang luas yang dimanfaatkan untuk bercocok tanam sayuran.

Tidak seberapa lama dari jauh kelihatan Situ Cileunca, yang kelihatan tenang dan terasa damai menyelimuti sekitar situ tersebut.

Area Parkir cukup luas dan tersedia camping ground juga persewaan tenda serta tersedia warung makan juga pedagang kaki lima, namun cukup teratur. Dan boleh dicoba jagung bakarnya yang manis dan gurih ditemani secangkir bajigur atau kopi panas, serasa menambah nikmatnya suasana dingin di pegunungan.

Untuk menikmati pemandangan kesemua sudut, kita bisa menyewa perahu untuk keliling situ (sekitar Rp.60.000 sekali jalan), serta singgah diseberang untuk menikmati buar arbei, dengan membayar sebesar Rp. 5.000 per orang untuk masuk kebun dan bisa makan sepuasnya.       

 

Untuk perjalanan kali ini, kami tidak singgah ke Situ cileunca tetapi hanya menikmati sepintas pemandangan Situ Cileunca, yang airnya sedikit menyusut dibandingkan beberapa bulan yang lalu saat kami berkunjung.

 

Setelah melewati Situ Cileunca, pemandangan berubah total karena memasuki area perkebunan teh. Sepanjang mata memandang kelihatan seperti permadani hijau yang terhampar sampai jauh. Jalanan masih baik dan halus karena masih dalam komplek perkebunan. Kami juga sempat melihat sepintas kegiatan dipabrik teh, ketika truk-truk pengangkut daun teh sedang menurunkan muatan didepan pabrik. Tidak jauh dari pabrik kami lihat berderet perumahan buruh pemetik teh,  berjejer rapi, namun ketika sudah mendekat kami cukup trenyuh melihat kondisi perumahan yang sebagian mulai kelihatan reyot dimakan oleh waktu dan alam.  Memang hampir sebagian besar perumahan di perkebunan teh kondisinya cukup memprihatinkan.

Jalan berkelok mengikuti irama kontur perbukitan dan memang indah untuk menikmati pemandangan di perkebunan teh ini, cukup sepi dan tidak terdengar hiruk pikuk dan deru mesin mobil. Yah......., sejenak bisa menghilangkan kepenatan karena rutinitas kerja sehari-hari.

 

Kami juga menyempatkan mengambil gambar sebuah rumah besar model jaman belanda yang berada di lokasi perkebunan teh. Rumah tersebut bertingkat dan cukup tinggi sehingga jendela dan pintunya juga sangat besar, yang menjadi ciri khas bangunan tempo dulu. Tembok di cat putih sementara pilar-pilarnya dicat hitam dan kelihatan kokoh terlebih lagi dikelilingi oleh hijaunya hamparan teh. Selain itu ada sebuah danau kecil yang terletak di dekat rumah tersebut dan ditengahnya ditumbuhi bunga teratai. Sayang pada saat itu tidak terlihat bunga teratai yang mekar. Rumah besar ini sangat kontras dibandingkan dengan perumahan para pekerja pemetik teh, yang berdinding anyaman bambu. Ya, kondisi ini memang sudah terjadi semenjak jaman pemerintahan belanda dulu.

 

Memacu adrenalin,  menyusuri turunan tajam dan tanjakan terjal

Jalanan mulus berakhir sudah ketika melewati batas perkebunan teh, kini mulai aspal biasa yang disana-sini mulai mengelupas, namun relatif masih cukup nyaman untuk dilalui. Ketika dijalur tanjakan yang cukup tinggi, kami berhenti sejenak untuk meikmati indahnya pemandangan, antara hamparan teh yang tersusun rapi hutan diseberang lembah yang hijau serta deretan pegunungan yang berdiri megah diatasnya. Sangat menakjubkan  dan betapa bersyukurnya kita bisa menikmati indahnya alam semesta. Dibandingkan dengan daerah lain di Jawa barat, mungkin untuk lokasi didaerah ini dan Jawa Barat sebelah selatan masih cukup terjaga kelestarian alamnya.

 

Setelah melewati tanjakan yang berkelok, hingga akhirnya jalan mulai menurun dan menyempit, kini diperlukan konsentrasi yang cukup mengingat sebelah kanan adalah tebing tinggi dan sebelah kiri jurang yang sangat dalam. Kami eksta harus berhati-hati karena jalan cukup licin, turunan tajam dan sempit.  Sangat jarang kami berpapasan dengan kendaraan yang menuju Pangalengan, dan ketika ada satu kendaraan yang berpapasan, salah satu harus berhenti menepi karena sangat sempit. Jumlah desa/ dukuh yang kami lewati juga jarang dan kalaupun ada hanya ketemu beberapa sepeda motor dan orang yang duduk-duduk dipekarangan rumahnya.

Jalan terus menurun dan berkelok, dan kami sempat kaget ketika tepat diujung belokan jalan ada banyak orang bergerombol sambil menyalakan api dan sebagian tidak berbaju. Setelah dekat ternyata tepat dibelokan tersebut hampir separuh badan jalan longsor tergerus aliran sungai yang melintas jalan tersebut. Kami melintas pelan pada jalan yang longsor tersebut dan tidak jauh dari tempat itu ada tiga truk kecil yang bermuatan penuh parkir karena tidak berani melewati jalan tersebut. Oh..... syukurlah, ternyata orang yang bergerombol tersebut awak kendaraan yang sedang istirahat.

 

Jalan terus menurun dan akhirnya kami melewati jembatan pertama, langsung jalan mulai terasa menanjak terjal, berarti masih ada 2 jembatan lagi yang harus kami lalui karena informasi dari pegawai travel, untuk mencapai Rancabuaya ada 3 bukit dan 3 lembah yang harus dilalui.  Tak terasa perjalanan kami sudah cukup jauh akhirnya masuk ke Desa Cukul, suasananya cukup ramai tetapi jarang kendaraan roda 4 yang lewat, sebagian besar hanya roda dua saja.

 

Pada turunan lembah yang kedua, jalanan terasa licin dan mulai terlihat beberapa lereng tebing yang longsor, tetapi tidak menutupi badan jalan, sehingga kami bisa lewati meskipun dengan ekstra hati-hati. Terlihat juga dari jauh jalan yang menajan yang akan kami lalui setelah melewati jembatan ke dua, kelihatan semuanya coklat, seperti habis longsor. Sambil menyetir kami berdoa, mudah2an bisa dilewati, karena kalau tidak bisa kami harus balik ke desa terdekat.

Ternyata benar, terjadi longsor yang cukup besar, terlihat masih ada batu besar yang melintang dijalan, dan hanya tersisa satu jalur untuk kendaraan, untuk melalui jalan tersebut. Batu besar itu menghalangi separuh jalan, dan sisa tanah bercampir air masih menutup sebagian jalan tersebut, sementara sebelah kanan jalan terlihat jurang yang sangat dalam. Kami berhenti sebentar untuk mengamati apakah jalan tersebut mampu  kami lewati, sambil berdoa dengan perlahan kami coba melalui jalan tersebut dan ketika tepat ditengah longsoran tersebut terdengar bunyi gesekan gardan mobil dengan tanah longsor tersebut. Mungkin kalau mobil yang kami bawa jenis sedan, maka tidak akan bisa melalui jalan tersebut.

Terbebas dari kesulitan longsoran tanah, kami kembali bersyukur bisa melewatinya, namun kegembiraan kami langsung lenyap, ketika tidak jauh dari tempat itu terlihat jalan yang menajak dan terjadi longsor, bahkan masih terlihat longsoran yang melewati badan jalan, hingga jatuh kejurang.  Betapa kami harus bersyukur lagi, manakala terlihat banyak petugas dari DPU yang mulai membersihkan jalan dan membantu kami untuk melawatinya.

 

Sebenarnya, ditempat longsor tersebut terdapat pemandangan yang sangat indah karena pada posisi tebing yang tinggi, dan pemandangan mengarah pada jurang yang dalam serta di kejauhan pegunungan yang hijau oleh hutan yang masih baik. Kami tidak sempat untuk mengabadikan keindahan pemandangan karena baru hilang rasa gemetaran harus melewati jalan yang longsor.

 

Setelah itu kami melewati sebuah desa, jalanan mulai agak bagus dan sepintas jalan yang akan kami lalui menuju ke air terjun yang menghadang jalan. Pemandangannya cukup mengagumkan karena seolah jalan tersebut berkahir di depan air terjun. Ternyata memang jalur jalan berada didepan air terjun, dan ada jembatan kecil yang melintas di sungai dibawah air terjun tersebut.

Kami sempatkan untuk mengambil gambar ketika sudah melewati air terjun tersebut, namun tidak sempat kami tanyakan kepada penduduk setempat karena sangat jarang terlihat penduduk yang sedang dipinggir jalan.

 

Tak terasa, waktu sudah melewati pukul 13.30 tetapi kami belum juga sampai di Kecamatan Cisewu, hanya kami yakin jalan yang kami lalui tidak nyasar karena jalan besar satu-satunya yang ada yang kami lewati. Akhirnya kami masuk ke kecamatan Cisewu,  lumayan ramai dan kami lihat aktivitas di pasar dan terminal kecil namun tidak kelihatan adanya angkutan umum, yang ada hanya truk-truk kecil.

Kami sangat gembira karena perkiraan kami setelah Cisewu kemudian sampailah di Rancabuaya. Ternyata setelah kami tanya kepada seseorang, ternyata jarak menuju Rancabuaya masih 30 km!

 

Hujan besar ketika Ban depan bocor terkena batu.

Hujan mulai turun seiring kami lewati Cisewu, jalanan mulai bagus karena aspal sudah penuh, namun tanjakan juga masih ada dan ada juga beberapa tempat terdapat lubang yang cukup dalam. Lebih nyaman dibandingkan rute sebelum mencapai Cisewu.

Dengan sangat ”pede”, kami lanjutkan perjalan dengan mempercepat laju kendaraan, karena kondisi jalan sudah baik meskipun hujan sudah mulai agak besar.

 

Sekitar kilometer ke 11 setelah Cisewu, kami harus melalui tanjakan terjal dan kondisi jalan kurang baik karena berbatu, tiba-tiba terdengar suara mendesis dari arah depan kiri mobil, setelah masuk lubang yang cukup dalam. Saya paksakan tetap jalan agar bisa sampai di jalan yang datar dan agak lebar. Ternyata benar dugaan kami, ban depan bocor mungkin karena terkena batu runcing.  Beruntung sekali, diujung tanjakan tersebut ada perumahan dan terdapat warung yang sedang tutup, sehingga kami bisa parkir disitu. Hujan semakin deras, kami harus menurunkan bagasi karena ban serep ada di bawah bagasi. Sambil berhujan ria, kami coba mengganti ban yang bocor.

Istri dan anakku perempuan hanya termangu diemperan warung diterpa air hujan, sementara aku dan anaku yang pria bergotong royong untuk mengganti ban yang bocor. Ya, saya sangat bersyukur karena kami bisa bekerja sama, dan paling tidak menjalin komunikasi yang lebih baik, mengingat hampir sepanjang triwulan IV, saya sangat jarang punya kesempatan untuk beraktivitas bersama.

 

Tidak jauh dari tempat kami mengganti ban, ternyata ada tukang tambal ban. Kami berpikir, lebih baik langsung tambal ban tube less tersebut, supaya perjalanan kami lebih tenang.  Setelah kami pasang ban yang baru, segera kami mengarahkan mobil ke tukang tambal ban untuk memperbaikinya. Ternyata tukang tambal ban tersebut tidak bisa menambal ban tube less, tukang tersebut menginformasikan yang ada tambal ban tube less hanya di Cisewu, atau di daerah Pamengpeuk yang jaraknya sekitar 30 Km dari Rancabuaya.  Tetapi di Cisewu hanya ada satu tukang ban yang bisa menambal ban tube less, kalau untung yang bisa ketemu, kalau tidak berarti kehilangan waktu dan jarak yang cukup jauh untuk PP ke Cisewu.

Yah,..... dari pada harus balik lagi ke Cisewu, lebih baik kami berjalan hati-hati supaya sampai ke Rancabuaya dan memperbaikinya di Pamengpeuk.

 

Ketika tukang tambal ban bertanya apakah kami hanya semobil saja? Saya jawab ya, dan baru sekali ini melalui jalur ini. Dia sangat terkejut dan Tukang tambal ban tersebut langsung meminta saya untuk tidak mengambil jalan pulang ke Bandung melalui jalur tersebut, apalagi kalau sudah menjelang malam, karena masalah keamanan dan keselamatan, mengingat semalam hujan sangat deras dan terjadi banyak longsor dan bila hujan terus berlangsung potensi longsor akan sangat besar.

Secara tidak langsung saya tangkap kalau saya termasuk nekat melalui jalur Pangalengan hanya semobil saja.

 

Terbayar lunas rasa penasaranku

Setelah ngobrol dan mengecek tekanan angin, segera kami jalan lagi diringi hujan yang semakin deras. Kami terpaksa hati-hati karena sudah tidak ada ban serep lagi dan rasa penasaran ingin segera sampai ke Rancabuaya mampu menghilangkan kepenatan saya.

Hujan cukup besar disertai angin, namun kami lebih nyaman karena jalanan sudah hotmix dan relatif datar.

Kami lihat memang hujan merata dan cukup banyak ranting dahan yang jatuh kejalan akibat hujan dan angin yang cukup besar.

 

Akhirnya kami menemukan petunjuk jalan, arah kekiri ke Pamengpeuk, lurus ke Rancabuaya, ke kanan Cidaun.  Jalan menuju pantai sudah hotmix dan cukup rapi, sambil perlahan kami tengok kanan-kiri untuk mencari vIlla Fardau.

Akhirnya kami temukan disebelah kanan jalan sekitar 500 m sebelum pantai dan letaknya agak tinggi dibandingkan pantai.

Sekitar pukul 14.30 kami sampai di Rancabuaya. Saya masih penasaran ketika masuk ke palataran parkir villa, karena kondisi sekitar villa berantakan, banyak ranting dan dahan yang jatuh, dan saya lihat petugas di villa masih membersihkan villa.

Ternyata sebelum kami sampai di villa, telah terjadi hujan lebat dan angin badai sehingga banyak pohon/ ranting/ yang tumbang, bahkan air hujan sampai masuk dalam ruang keluarga.

 

Kami menunggu sementara waktu untuk penyelesaian pembersihan villa,  kami berkeliling di sekitar villa, benar-benar indah pemandangan dari villa ini, sesuai yang ditampikan di web Fardau Travel.

Ombak yang putih yang bergantian menuju pantai terlihat indah sejauh mata memandang, dan bunyi deburan ombak terdengar jelas dari belakang villa.

Villa utama terdiri dari 5 kamar yang cukup besar, selain itu ada beberapa bungalow kecil, jadi villa ini sangat memungkinkan bila mengajak rombongan besar menginap di sini.  Setelah villa dibersihkan, kami merasa sangat nyaman dengan suasana dan sarana yang ada, bahkan menurut kami benefit yang kami peroleh lebih besar dibandingkan harga sewanya!

 

Ketika masuk villa, saya langsung membuka pintu belakang villa dan langsung saya ambil camera untuk mengabadikan pemandangan dari ruang keluarga yang tembus langsung ke arah pantai.  Desir angin laut yang dingin dan segar, hijaunya pepohonan dan buih putih ombak yang bergulung terlihat dikejauhan, benar-benar seperti yang saya bayangkan sebelum menuju ke Rancabuaya.

 

Sambil melepas lelah kami nikmati secangkir kopi, ditemani musik alam deburan ombak, dan belaian angin laut.   Betapa nikmatnya suasana ini yang lepas dari rutinitas dan beban kerja yang cukup berat di akhir tahun 2007.  Tidak terasa waktu sudah mulai sore, dan perut mulai keroncongan karena hanya sarapan di ayam goreng Tangek sebelum Pangalengan.

Petugas di villa, kalau mau masak bisa menggunakan sarana yang ada, atau kalau mau pesan, bisa juga dilayani. Kami memesan ikan goreng dan cumi asam manis, untuk kami berempat. Kurang dari 30 menit pesanan kami sudah diantar, karena villa tersebut sudah punya langganan untuk memenuhi pesanan tamu.Tanpa basa-basi, kami langsung sikat habis dan nambah nasi lagi!

Mengenai rasa........, baru kali ini kami menikmasi cumi dengan gigitan empuk, gurih dan tidak terasa kenyal. Juga ikan gorengnya terasa masih manis dan segar.

 

Sore itu kami sempat bermain sebentar di pantai, tetapi karena habis hujan, kami tidak mendekat ke pantai, ombak masih cukup besar. Rumah makan juga TPI tersedia di sekitar pantai. Untuk penginapan ada beberapa laternatif selain villa Fardau, namun kami sangat merekomendasikan untuk bermalam di villa Fardau. (bukan semagai marketer lho!). Mengenai keindahan pantainya,....... tidak usah kami ceritakan, cukup kami sampaikan pemandangan di Rancabuaya berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

Terbayar lunas rasa penasaranku tentang indahnya Pantai Rancabuaya.

 

Bandung, awal tahun 2008

TRIPLE "O"

Ojo lali bersyukur - Ojo lali mengasihi sesama - Ojo lali berbagi

Hidup ini akan lebih sempurna bila kita selalu bersyukur atas apa yang kita terima.

Hidup ini akan lebih indah bila kita selalu mengasihi sesama

Hidup ini akan lebih bermakna bila kita selalu berbagi rejeki dengan sesama

Wednesday, January 10, 2007

BEKERJA ITU …. BELAJAR

Semua orang akan setuju dengan kalimat “bekerja itu ibadah”, karena memang pada hakekatnya apabila seseorang bekerja dengan sepenuh hati dan mempertanggung jawabkan hasil pekerjaannya bukan hanya sekedar memenuhi kewajiban tetapi merupakan wujud dari rasa syukurnya, pada Yang Maha Kuasa, maka sebenarnya ia sedang beribadah.

Ada kalanya intensitas pekerjaan sangat padat, dan target penyelesaian yang sangat ketat, seringkali akan membuat seseorang merasa beban dan tanggungjawabnya menjadi lebih berat dari yang seharusnya. Berbagai macam tanggapan akan muncul tergantung dari persepsi orang tersebut dalam memaknai pekerjaannya.

Mungkin yang satu akan berpendapat, “rasanya tidak adil, mengapa beban pekerjaan tersebut tidak dibagi dengan yang lain, sementara dari sisi penghasilan tidak berbeda”
Atau mungkin akan muncul pendapat, “Orang yang rajin akan mendapat limpahan kerjaan yang lebih banyak, semakin rajin semakin berat tanggungjawabnya, sementara yang lain bisa menikmati rutinitas dengan datang siang, pulang sore”

Bahkan juga bisa muncul pendapat “Salahnya sendiri mengapa harus rajin bekerja, kalau memang tidak ada pengaruhnya”

Malas, rajin, bertanggungjawab, atau menghindar dari tugas, itu sudah menjadi pilihan masing-masing orang. Karena setiap keputusan yang diambil akan menentukan masa depannya. Pengambilan keputusan yang salah, akan dapat berdampak pada masa yang akan datang.

Memang pada kondisi tertentu, seseorang akan mengalami tambahan pekerjaan yang sebenarnya sudah diluar tanggungjawabnya. Jika seseorang selalu berpikir positif maka tambahan pekerjaan tersebut bukan lagi menjadi beban namun justru akan diambil hikmahnya yaitu adanya kesempatan untuk memperoleh hal baru. Tidak semua orang memperoleh kesempatan yang sama dalam proses “belajar” dalam menangani pekerjaan tersebut.

Secara tidak langsung ia akan “belajar” untuk hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ditangani karena lingkup tanggungjawabnya yang terbatas.
Banyak hal yang bisa diperoleh ketika seseorang berpikir positif atas tambahan pekerjaannya, seperti misalnya :
Tambahan pekerjaan secara tidak langsung belajar untuk menerima tambahan tanggungjawab.
Menuntut lebih cerdas dalam menyiasati keterbatasan waktu dan tenaga.
Menuntut flexibililtas, adaptasi dan penguasaan pekerjaan yang lebih baik ketika harus mengkomunikasikan pekerjaan kepada level yang lebih tinggi.
Memperoleh kesempatan untuk “tampil” di forum yang lebih tinggi.
Belajar untukmengambil keputusan dengan cepat dan tepat sejalan dengan resiko yang harus dihadapi.
Dan lebih dari itu adalah bersyukur atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan, karena segala sesuatu selalu ada hikmahnya.

Jadi, tetaplah berpikir positif apabila beban pekerjaan bertambah, karena ketika kita sedang bekerja, sebenarnya saat itu kita sedang belajar.

Semoga kita bisa selalu belajar dalam melaksanakan pekerjaan kita.

Wednesday, December 06, 2006

CUTI

Rutinitas pekerjaan ditambah dengan target-target yang harus dicapai dapat menyebabkan tekanan yang berat bagi seseorang dalam bekerja. Pergi pagi dan pulang larut malam sudah menjadi hal biasa, bahkan diakhir pekanpun terkadang harus bergulat dengan pekerjaan yang harus diselesaikan. Bagi beberapa orang, semakin berat tantangannya akan menambah semangat kerja yang akhirnya akan merasakan bahwa hal itu sudah menjadi “makanan sehari-hari”, namun bagi orang lain hal ini bisa juga menjadi masalah karena tidak siap menghadapi masalah sehingga stress.

Bagaimanapun kuatnya seseorang dalam menghadapi tantangan kerja, tentu ada batasnya, karena manusia bukanlah “mesin”. Dan kita tahu bahwa “mesin”pun perlu istirahat dengan dilakukan overhaul agar performansinya tetap terjaga.
Istirahat sangat diperlukan bagi para pekerja keras, namun seringkali karena tuntutan pekerjaan, cuti tahunanpun tidak dapat dilaksanakan karena alasan “target”.

Sebenarnya, cuti bukan hanya sekedar istirahat, tetapi lebih dari itu.
Banyak hal yang dapat diperoleh bila seseorang menikmati CUTI antara lain :
1. Melepaskan kejenuhan karena ritme kerja yang sangat padat.
2. Menjernihkan kembali memory dengan membaca dan meningkatkan pengetahuan.
3. Memulihkan stamina dengan rekreasi, olah raga, bahkan bisa memanjakan diri dengan terapi, refleksi atau hal lainnya
4. Menikmati berjalannya waktu tanpa harus dikejar target
5. Menikmati suasana baru diluar rutinitas
6. Menikmati canda dan tawa dengan keluarga
7. Menikmati indahnya matahati terbit dipagi hari dan kemilau senja.
8. Memperoleh tenaga baru dan semangat baru
9. Memungkinkan muculnya ide-ide yang cemerlang karena pikiran menjadi lebih jernih.

Bila Cuti dilakukan, bukan hanya orang tersebut yang memperoleh manfaat, tetapi perusahaan juga akan memperoleh manfaat yang lebih besar karena ada semangat baru yang dibawa setelah menikmati Cuti.

Jadi, lakukan dan jangan ditunda keinginan untuk Cuti.

Semoga anda bisa menikmati cuti.

Bandung, 6 Desember 2006

Tuesday, September 26, 2006

Bola Karet vs Bola Krital

Dalam perjalanan pulang kerja yang sudah larut malam, terasa melelahkan dan sepi sepanjang jalan. Untuk mengurangi kesunyian yang mencekam...... saya bunyikan radio favorit "MAESTRO FM", dan ketika alunan musik berhenti, dilanjutkan dengan dialog antara dua orang sahabat yang membicarakan masalah karir pekerjaan dan bagaimana membangun keluarga yang baik.

Masa kini, ukuran keberhasilan seseorang sering dikaitkan dengan keberhasilan dalam karir pekerjaan dibandingkan dengan keberhasilan yang sifatnya non materi seperti kehidupan keluarga yang harmonis.
Keberhasilan dalam karir juga menuntut orang untuk bekerja lebih keras dan banyak menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan, sehingga boleh dikatakan tidak ada waktu untuk keluarganya.

Dalam kurun waktu yang lama, akan terakumulasi berkurangnya waktu untuk anak istri, berkurangnya canda dan tawa, berkurangnya belai kasih orang tua, dan yang lebih fatal lagi.....berkurangnya bimbingan rohani dari orang tua. Kondisi inilah yang akhirnya menciptakan generasi tanpa kasih sayang, generasi yang egois, generasi yang serba instan.
Dan terciptanya keluarga yang harmonis hanya impian, yang terjadi keluraga yang berantakan, bahkan bisa diakhiri dengan perceraian atau hancurnya masa depan anak-anak.

Karir seseorang sangat bervariatif, kadang bisa melesat dengan cepat mencapai puncak karir, namun kadang bisa turun lalu naik lagi. Tidak banyak berpengaruh secara signifikan terhadap diri pribadi dari orang tersebut karena ada kesempatan untuk maju, ada kesempatan untuk belajar, ada kesempatan untuk memperbaiki diri sejalan dengan berlalunya waktu.
Terlebih lagi bila orang itu sangat tahan banting, maka proses naik atau turun dalam karir tidak menjadi masalah, bahkan dapat diibaratkan sebagai bola karet yang kuat, lentur dan tahan banting.
Ya..., karir seseorang memang dapat dibaratkan seperti bola karet yang bisa naik atau turun tanpa banyak mengalami kerusakan.

Namun sebaliknya, keluarga yang harmonis dapat diibaratkan seperti bola kristal yang indah. Nilainya sangat mahal, namun sebanding dengan keindahannya dan harus dijaga dengan sangat hati-hati agar tidak pernah jatuh kelantai. Sekali jatuh maka akan terjadi kehancuran yang sangat hebat.
Dalam keluarga bila tiada canda tawa, tiada kasih, tiada perhatian, tiada sapa dan tiada pelukan..... keluarga tersebut bukan lagi sebagai bola kristal, karena sudah ada cacat-cacat dari pecahan kecil yang terjadi berulang kali.

Pilihan sangat tergantung dari kita masing-masing, masihkah tetap menjadi bola karet yang tahan banting, lentur dan flexible tetapi mengabaikan bola kristal rumah tangga? Atau menjaga bola kristal rumah tangga dengan sedikit mengurangi kelenturan bola karet?

Tanpa terasa malam itu menjadi terasa hangat di hati, dan terucap syukur kepada Yang Maha Kasih karena hal ini mengingatkan kembali apa sebenarnya tujuan hidup kita?

Friday, September 08, 2006

Burung Rajawali

Berbagai macam burung memiliki karakteristik yang sangat berbeda, satu diantaranya yang menarik bagi saya adalah burung rajawali.
Gagah, perkasa dan memiliki sorot mata yang tajam, seakan padangannya dapat langsung mengujam tajam, mampu terbang tinggi, membangun sarang ditempat yang tinggi dan aman, dan dengan cakar yang kuat serta sayap yang lebar menambah kegagahannya.
Namun bukan hanya secara fisik saja, ada satu hal yang bisa saya contoh dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu rajawali selalu siap menghadapi badai atau angin yang besar dengan mengembangkan sayapnya. Dengan tenang dan pasti, ketika angin badai datang, rajawali selalu siap menghadapinya, ketika sayapnya dikembangkan..... rajawali akan membumbung lebih tinggi,
tidak terbawa oleh badai atau angin yang besar.
Sayapnya mengembang seakan dia berkata " kan kuhadapi angin kencang dengan sayapku yang terkembang", kan ku naiki angin kencang untuk membawaku ketempat yang lebih tinggi.
Seandainya angin kencang datang, lalu rajawali menutup sayapnya seperti ketika dia akan menerkam mangsanya...., rajawali pasti terhempas dan hancur di tanah.
Apa yang dapat dipelajari dari rajawali?
Ketika badai kehidupan, atau angin ribut yang datang melanda kehidupan kita, contohlah seperti rajawali yang siap dan tenang untuk menghadapi tantangan itu, bukan melarikan diri dengan menutup sayap, tapi buka dan kembangkan sayap agar dapat menyelesaikan tantangan dan menang! Sehingga kita bisa menapak lebih tinggi lagi dalam tataran kehidupan.
Tantangan kehidupan bukan untuk dihindari, tetapi untuk dihadapi dan dijalani, yang akhirnya akan memberikan manfaat pada kematangan pribadi, terlebih lagi bila selalu meminta pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kasih.
Belajarlah pada burung rajawali.

Tuesday, February 21, 2006

Green Canyon Pangandaran

Biasanya orang akan langsung membayangkan tempat yang nun jauh di Louisiana, bila mendengar "Green Canyon". Tetapi yang ini ternyata tempatnya dekat dengan Pangandaran, sekitar 30 km kearah Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang.
Memang terkadang banyak diantara kita lebih banyak menikmati pantai di Pangandaran dan menikmati lesatnya seafood yang segar, dibandingkan harus sedikit berpetualang untuk menengok green canyon ini.

Saya sendiri tertarik untuk mengunjungi green canyon ini karena rasa penasaran dan terlebih lagi ketika melihat foto green canyon di sebuah ruangan di hotel kami menginap.
Dengan berbekal rasa penasaran, kami menuju ke lokasi green canyon setelah sarapan pagi, supaya bisa sekalian singgah dibeberapa tempat wisata lainnya.

Singkat cerita, ketika sampai ditempat "terminal perahu kayu", yang akan mengantar kami ke green canyon, kami sempat sedikit khawatir, mengingat semalam hujan turun cukup lebat.
Mudah-mudahan air sungai tidak banjir. Kami lihat berjejer secara rapi dan indah warna-warni perahu yang disandarkan menunggu giliran untuk mengantar wisatawan.

Kami menyewa satu perahu, cukup untuk lima penumpang, sementara perahu dijalankan oleh dua orang awak.Faktor keselamatan sangat diperhatikan oleh para awak, penumpang diminta untuk menggunakan jaket penyelamat.
Perahu kecil secara perlahan mulai berjalan melawan arus, awalnya ada rasa was-was, namun lama kelamaan terasa asyik mulai menelusuri sungai yang berliku.
Sepanjang tepi aliran sungai, dapat dinikmati hijaunya pepohonan yang cukup besar, tidak nampak adanya penebangan liar di sini. Hal ini disebabkan adanya kerjasama yang baik antara PEMDA dengan warga sekitar yang bermukim di dekat aliran sungai, sehingga suasana hutan masih terasa, meskipun sebenarnya dalam jarak puluhan meter dari sungai ada perkampungan.

Setelah perahu berjalan lebih dari 10 menit, kami berpapasan dengan wisatawan lain yang sudah balik dari green canyon, ya.... ternyata sudah ada yang lebih dahulu menuju kesana.
Ketika kami tanyakan kepada awak perahu mengenai pengunjung, diceritakan kalau pada musim hujan biasanya agak kurang, tetapi bila musim kemarau dan bertepatan dengan liburan sangat banyak. Bahkan ketika mau memasuki atau keluar dari lokasi greeen canyon harus bergantian.

Tak terasa kami sudah mendekati lokasi, dari kejauhan terlihat terowongan yang cukup besar, dan derasnya air yang turun dari dinding terowongan.
Rasa penasaran semakin besar, terlebih lagi ketika ketika mulai memasuki lorong yang cukup tinggi dan gemericiknya air yang terjatuh dari atap terowongan. sangat menakjubkan !
Perlahan perahu memasuki terowongan untuk menghindari batuan yang cukup besar ditepi sungai.
Rasa penasaran terobati ketika berhasil turun dari perahu, meloncat ke bebatuan yang memisahkan aliran sungai dibawah dengan bagian diatas. Dari tempat ini bisa melihat lebih jelas keluar terowongan kearah hulu ..... dinding yang menjulang tinggi dipenuhi dengan tumbuhan hijau..... tetesan air dan nuansa serba hijau... ya.. sesuai dengan namanya green canyon....

Tidak rugi rasanya kalau harus bersusah payah untuk menuju lokasi ini.... karena sangat sebanding dengan suasana dan pemandangan sekitar green canyon.

luar.... biasa.

Rindu

ketika hujan turun
rindu aku untuk merasakan dinginnya air di tanganku yang menengadah

ketika hujan jatuh dirumput
rindu aku menerawang indahnya kemilau butir embun

ketika rumput dipotong
rindu aku pada oroma rumput hijau

ketika butir-butir embun jatuh di tanah
rindu aku bermain lumpur seperti masa kecilku
rindu aku menjejakkan kaki telanjang dipematang sawah

ketika mentari bersinar
rindu aku melihat secercah sinar yang menembus rumpun bambu

ketika mentari memuncak
rindu aku berteduh dibawah buaian cemara hijau

ketika mentari tenggelam
rindu aku menatap lembayung senja

ketika malam menjelang
rindu aku mendengar simphony katak, kicau burung malam dan derik jangkrik

ketika tengah malam
rindu aku padaMu Yang Maha Kasih,
rindu kupanjatkan dalam doa, syukur untuk hari yang Kau beri.

Indah dan tepat pada waktunya

Jalan hidup setiap orang tidak akan pernah ada yang sama
Cita-cita yang telah diimpikan, akan bisa terwujud namun juga bisa sebatas impian saja.
Semua dicapai dengan usaha dan doa
Terkadang seseorang berharap untuk memperoleh sesuatu, yang menurutnya adalah terbaik.
Namun ketika pada kenyataan, berbeda dengan yang diharapkan, sering terjadi rasa kesal, uring-uringan bahkan bisa jadi marah.

Secara manusiawi, wajar bila itu terjadi.
Impian yang selama ini diinginkan, dan telah dibarengi dengan usaha keras juga disertai doa tentunya.
Namun kenyataan jauh dari yang diharapkan.
Apa yang sebenarnya baik menurut pribadi manusia, belum tentu sesuai dengan kehendakNya.

Harusnya kita bisa menerima segala keadaan, karena semuanya tidak terjadi dengan kebetulan.
Bersyukurlah untuk segala keadaan, karena kita tidak pernah tahu hikmat yang ada dari setiap kejadian itu.
Ketika waktu mulai berlalu, biasanya pikiran jernih akan muncul dan menjadi tahu apa sebenarnya makna atau hikmat dari kejadian tersebut. Dan yakinlah bahwa hal itu terjadi pasti akan membawa kebaikan bagi diri kita.

Tuhan Yang Maha Tahu, akan memberikan sesuatu kepada umatnya pada saat yang tepat dan indah pada waktunya. Tinggal bagaimana kita mau untuk mampu memahami setiap kejadian yang merupakan kehendakNya. Dekat dengan Tuhan dan berserah kepadaNya akan membuat kita menjadi orang yang senantiasa bersyukur dan berpikiran positif terhadap setiap kejadian yang menimpa kita.
Smoga

Wednesday, December 14, 2005

Hujan

Ketika musim kemarau panjang berakhir…..,
Ditandai dengan datangnya awan hitam, semua orang akan memanjatkan syukur, karena kekeringan, panas terik, juga bencana kebakaran akan segera berakhir.
Titik-titik air yang turun dari langit seakan menghilangkan rasa gerah, haus dan akan menyejukkan hati di bumi ini.
Gerimis kecil diakhir musim kemarau akan menjadi berita yang besar ditempat yang mengalami kekeringan.
Gerimis secara pasti akan menjadi hujan yang membuat semua orang akan bersuka cita.
Hujan adalah anugerah bagi semua orang, untuk orang yang benar juga bagi orang yang salah.

Menginjak di akhir tahun, hampir seluruh daerah mengalami hujan yang cukup deras, terkadang dari pagi sampai esok harinya masih terjadi hujan dan seolah matahari enggan memancarkan sinarnya terhalang awan gelap.

Petani bersuka cita menyambut hujan untuk memulai masa tanam yang baru, tanah yang kering kerontang menjadi gembur dan mulai kelihatan hijau karena rumput telah tumbuh.
Di sisi lain, mulai banyak orang yang mengeluh karena hujan, karena harus siap mengungsi bila hujan besar akan terjadi banjir, jalanan macet karena lampu lalulintas tidak berfungsi, juga genangan air ada dimana-mana.
Sementara ada juga orang-orang yang tidak ambil pusing dengan hujan, karena tidak terpengaruh dengan hujan.

Hujan bagi sebagian orang identik dengan penderitaan, karena ancaman banjir dan longsor. Tidak sepenuhnya penderitaan itu sebagai akibat dari perilaku mereka, tetapi lebih banyak disebabkan oleh orang lain yang terlalu rakus secara duniawi karena penebangan hutan liar untuk memperoleh keuntungan yang besar, atau memanfaatkan lahan dengan tidak benar, seperti pembangunan perumahan, villa di tempat yang semestinya hanya diperuntukan sebagai tangkapan hujan.

Kemacetan dijalan raya karena banjir, yang lebih diakibatkan tidak tersedianya saluran pembuangan di kota, saluran/ got yang tertutup bangunan, dan yang menyedihkan lagi.... upaya untuk penyerapan anggaran dengan membuat saluran/ got dimusim hujan (membangun saluran air di musim hujan, sebenarnya suatu pekerjaan yang tidak masuk akal, tapi setiap tahun selalu terjadi), jalan menjadi sempit karena separuh badan jalan ditutup, dibongkar untuk dibuat saluran.
Mengapa tidak memperbaiki dan membuat saluran dimusim kemarau?
Betapa runyamnya perencanaan pembangunan saluran yang tidak memperhatikan waktunya, dan biasanya kualitasnya juga sepadan dengan perencanaanya. Sangat menyedihkan.

Terlebih lagi bila hujan sudah mulai mengguyur di pagi buta, sementara lokasi kerja atau tempat sekolah jauh dari rumah, dan rute yang harus dijalani selalu banjir dan macet, sungguh menjadikan hari itu menjadi kurang menyenangkan,

Lengkaplah sudah, kegalauan, kegelisahan, kekhawatiran dan penderitaan yang harus dihadapi oleh banyak orang karena hujan.
Kejadian ini selalu berulang setiap tahun, sementara untuk bisa mengembalikan alam seperti semula, sangat sulit untuk dilaksanakan, terlebih lagi bila tujuan untuk menumpuk materi sudah bermaharajalela maka keseimbangan alam menjadi sekedar angan-angan.

Tidak lagi bisa dinikmati jatuhnya rintik hujan yang membasahi bumi, baik tumbuhan, binatang juga manusia menjadi gelisah ketika hujan tercurah.

Lirik lagu anak-anak akan bisa berubah ” Tik tik tik bunyi hujan diatas genting, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok daun dan ranting, pohon dan kebuh basah semua” menjadi kota dan desa banjir semua.
Pohon dan kebun sudah tidak ada, alam sudah rusak dan menyebabkan banjir dimana-mana.

Bisakah kita semua membantu mengurangi banjir?
Ya, pasti ! antara lain, jangan buang sampah disaluran air, jangan membangun dibantaran sungai, membuat sumur resapan, jangan membangun rumah atau beli rumah dilereng bukit dan banyak lagi yang bisa dimulai dari diri kita.

Sedia payung sebelum hujan, karena sekarang musim hujan
dan jangan lupa bersyukurlah semasih ada hujan yang turun karena hujan itu berkah.

Bandung, 15 Desember 2005

Sunday, December 11, 2005

MENENGOK KE MASA DEPAN

Ritual tahunan, selalu terjadi ketika mulai mendekati akhir tahun.

Detik, bergulir ke menit,
Menit berjalan ke jam,
Jam melompat ke hari,
Hari berlari ke bulan dan ....
mencapai ke penghujung tahun.
Waktu berulang secara teratur
dari awal tahun ke akhir tahun
semua sama dan tidak ada yang berubah.

Bagi banyak orang, mendekati akhir tahun digunakan untuk introspesksi diri sebagai bekal untuk menyongsong tahun yang baru.
Apa saja yang telah kita lakukan selama tahun ini, dan apa saja yang telah dicapai hingga akhir tahun?

Sudahkah kita mampu membagi waktu dengan adil, untuk pekerjaan, untuk keluarga dan untuk ibadah?
Sudahkah kita mampu untuk memanfaatkan rejeki yang kita terima dengan benar?
Sudahkah kita selalu mensyukuri atas nikmat yang kita terima?
Sudahkah kita mampu memenuhi target yang dibebankan perusahaan?
Atau mungkin kita bercermin kepada kegagalan-kegagalan yang telah terjadi, sehingga lebih paham akan kekurangan-kekurangan kita?

Masing-masing dari kita mempunyai pandangan yang berbeda mengenai sejarah yang kita lalui sepanjang tahun ini.
Jika kita selalu berpikir positif, maka yang ada dalam benak kita adalah rasa syukur atas apa yang telah kita jalani.
Sebaliknya bila selalu berpikir negatif, maka kekecewaan akan terpendam dalam hati kita.

Keberhasilan yang kita capai maupun kegagalan yang kita terima, sudah lewat dan biarlah itu menjadi sejarah, dan tidak perlu lagi kita bawa kemasa depan, karena tidak akan pernah terulang lagi.

Meniti dipenghujung tahun, ibarat mengupas tuntas keberadaan kita, sisi hidup kita, yang orang lain mungkin tidak pernah tahu, hanya diri kita yang tahu. Apakah hasil instrospeksi diri ini akan kita manfaatkan sebagai bekal menyongsong tahun baru?
Hampir semua orang akan menjawab : ya, karena akan dapat dipakai sebagai awal pijakan untuk meloncat ke tahun berikutnya yang penuh dengan ketidakpastian.

Apakah yang akan terjadi ditahun mendatang?
Apakah kita akan dapat melalui tahun mendatang ?
Apakah kita akan memetik keberhasilan ditahun mendatang?
Apakah karir kita akan lebih baik ditahun mendatang?
Tidak ada jawaban yang 100% mampu menjawab secara tepat.

Namun diatas ketidakpastian dan kabut kehidupan yang harus kita tembus di tahun yang akan datang, pasti ada satu pengharapan. Pengharapan untuk memasuki tahun yang baru, menjalani dan melalui tahun depan dengan harapan lebih baik dari tahun ini.

Pengharapan itu bukan berpijak pada keyakinan diri atas kemampuan kita selama ini, tapi keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Kasih akan senantiasa menolong dan membimbing kepada setiap umatNya yang selalu bersandar kepadaNya.
Manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang menentukan.

Tengoklah pengharapan dimasa yang akan datang, bahwa kedamaian dan sukacita selalu dijanjikan dan ditepati oleh Tuhan Yang Maha Kasih, kepada siapapun yang selalu berserah kepadaNya.

Meniti waktu dipenghujung tahun.....
mengajak kita untuk menatap kemasa depan
masa depan yang penuh ketidakpastian.
Ketidakpastian akan membuat orang ragu,
Keraguan akan membuat orang takut
Ketakutan akan membuat orang tidak bertindak.

Tataplah masa depan dengan penuh pengharapan
Karena pengharapan akan membuat orang menjadi teguh
Keteguhan akan membakar semangat
Semangat akan membuat kita berani melangkah....
Melangkah dengan pasti berbekal tuntunan Ilahi.

Bandung, 12 Desember 2005

HANYA MENYENANGKAN HATINYA ....

Nyanyian kanak-kanak sewaktu saya masih kecil dan hingga sekarang yang selalu membekas dalam hati adalah syair lagu :
“Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia
Pada saat saya kecil, hanya sekedar menyanyi dan belum memahami akan arti dari kata-kata tersebut. Namun setelah beranjak dewasa, saya sangat kagum kepada pencipta lagi ini, betapa dalam makna yang tersirat dari lagu ini tentang kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya.

Siapakah yang mampu memelihara dengan tulus, sehingga seorang anak dapat tumbuh berkembang dengan baik? Siapakah yang mampu membimbing dan mengarahkan dalam menjalani tantanganan hidup ini? Siapakah yang selalu menanti kala kita pulang kerumah semasa masih remaja? Siapakah yang selalu memeluk dengan penuh kasih kala kita sakit? Hanya seorang ibu yang mampu untuk berbuat itu semua.

Sepanjang hidupnya, ibu selalu bersedia berkorban untuk anak-anaknya hingga mampu untuk hidup mandiri. Bahkan ketika anak sudah dewasa dan berkeluarga, ibu akan selalu setia mengunjunginya terlebih lagi setelah ada cucu yang dikasihinya.
Apapun yang ibu miliki seperti waktu, tenaga, perasaan, bahkan juga materi, akan diberikan kepada anaknya agar anaknya bisa hidup damai dan bahagia. Itulah cita-cita luhur setiap ibu yang berharap bahwa anak-anaknya akan dapat hidup dengan damai dan berguna bagi sesamanya.

Apakah ibu mengaharapkan balasan dari anak-anaknya? Tentu tidak !
Seperti syair lagu diatas, dang ibu ”bagai sang surya menyinari dunia”, seperti matahari yang setia terbit dari timur, memberikan terang, kehangatan, panas yang selalu dinantikan oleh semua mahluk hidup.
Begitu setianya ibu kepada anak-anaknya, selalu tercurah kasih sayang, perhatian dan segala keperluan anaknya, tanpa mengharap balas jasa.

Ketika anak-anak menginjak masa remaja, kemudian dewasa. Sikap memberontak mulai muncul karena menghadapi masa puber, merasa sudah mampu untuk melakukan sesuatu tanpa harus minta bantuan kepada ibu. Terlebih lagi adanya kesenjangan baik pendidikan maupun lingkungan yang sudah berbeda dengan masa lalu, membuat pandangan anak-anak banyak berseberangan dengan pandangan ibu.
Memang tidak sepenuhnya anak-anak keliru, karena jaman yang sudah berubah, namun akan lebih baik bila perbedaan pandangan menjadi pembuat jarak antara ibu dengan anak.

Ketika sudah dewasa dan secara ekonomi mapan, banyak pandangan yang lebih bersifat materialistis mengenai bagaimana mengasihi ibu. Karena alasan sibuk, maka lebih banyak orang hanya mengirim uang secara teratur dalam jumlah yang lebih dari cukup dengan anggapan ibu akan senang bila memperoleh kiriman uang. Sementara jarang sekali mengunjungi ibunya secara khusus, atau mengajak ibunya untuk bersama dirumahnya.
Mungkin yang ada dalam benak anak itu adalah bila mengirim uang maka akan dapat membalas budi ibunya, karena secara materi anaknya memang sangat mencukupi.
Berapapun materi yang diberikan kepada ibunya, tidak mungkin untuk membalas kebaikannya.
Adakah yang bisa mengitung secara materi mengenai pengorbanan seorang ibu, mulai dari masa mengandung, melahirkan, memelihara ketika masih bayi, bangun malam hari hingga pagi untuk menyusui, mengganti popok yang basah, kemudian ketika mulai belajar jalan, mulai sekolah hingga menghantar sampai ke pelaminan untuk siap membentuk keluarga yang baru.
Jelas tidak akan mungkin kita membalas kebaikan ibu, apalagi bila dihitung secara materi.

Apa yang mungkin kita lakukan untuk ibu?
Hanya dengan menyenangkan hati ibu, maka ibu akan merasa bahagia terhadap perilaku anaknya.
Sikap patuh, senyuman yang tulus, menemani berbicara atau bercerita, menjenguk ibu secara khusus seperti masa lebaran atau natal atau hari-hari istimewa lainnya bagi ibu.
Perhatian-perhatian kecil yang menyenangkan, seperti misalnya makanan kecil kesukaan ibu, syal, sapu tangan, tas atau sandal yang harganya juga tidaklah mahal, tetapi hal itu disukai oleh ibu.
Atau mungkin mengajak jalan-jalan bersama, ketempat yang disukai ibu. Semua itu bila dibandingkan dengan kiriman uang yang besar setiap bulan, mungkin tidak ada artinya, namun bila ditinjau dari sudut non materi, hal ini akan berdampak besar bagi ibu karena akan mampu menyenangkan hatinya.
Hanya sebatas menyenangkan hati ibu, yang bisa kita lakukan selaku anak-anaknya, karena untuk membalas kebaikannya kita tidak akan pernah mampu melakukannya, dan perlu diingat ibu seperti matahari yang tidak pernah berharap ada balas budi.

Apabila saat ini, pembaca masih diberi kesempatan untuk menyenangkan hati ibu, lakukanlah sekarang karena ketika ibu sudah pulang ke pangkuanNYa, kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk menyenangkan hatinya.

Ibu, aku kangen pelukanmu
Ibu, aku kangen belaianmu
Ibu, aku kangen usapan tanganmu dikepalaku
Ingin kutumpahkan tangis dan rinduku dipangkuanmu.

Bandung, 12 Desember 2005

Wednesday, December 07, 2005

Negeri 1001 Slogan

Ketika masih kanak-kanak, sering saya dengar juga saya baca tentang dongeng seribu satu malam. Diantaranya cerita mengenai Aladin dan lampu wasiatnya, atau tentang cerita Abunawas.
Cerita itu sangat menarik dan sangat membekas dalam ingatan saya sampai sekarang. Kebaikan vs keburukan, Kejujuran vs kebohongan, kepandaian vs kebodohan dan semuanya jelas serba hitam dan putih.
Tanyakan kepada anak-anak kita tentang dongeng negeri 1001 malam, dijamin mereka tidak akan tahu karena sudah terlalu asyik dengan tayangan film anak-anak ditelevisi, juga permainan game yang sangat menarik. Namun dari segi pendidikan boleh dikatakan tayangan tersebut tidak sepenuhnya mendidik anak-anak kita.

Ketika kita dewasa, mulai jaman kuda gigit besi, masa pembangunan, masa reformasi hingga saat ini, hampir setiap hari selalu mendengar, membaca atau bahkan mengucapkan slogan atau jargon untuk maksud tertentu.
Slogan atau jargon sebenarnya merupakan alat untuk mempermudah atau memperlancar suatu proses aktivitas dan pencapaian tujuan yang diharapkan mudah dimengerti oleh banyak orang dan diharapkan dapat melaksanakan sesuai dengan tujuan slogan tersebut.
Namun pada kenyataan, slogan hanya terpasang dan tujuan tidak pernah tercapai. Menyedihkan.

Benarkah negeri ini adalah negeri 1001 slogan?
Hitunglah berapa banyak hari peringatan nasional, sebanyak itu pula slogan selalu terpasang dan dikumandangkan sesuai dengan temanya.
Hitunglah berapa banyak program pemerintah dari pusat hingga sampai daerah, maka sebanyak program tersebut slogan yang dimunculkan.
Hitunglah berapa kali ganti presiden, berapa kali ganti kabinet, maka sebanyak pergantian itu pula slogan akan berganti.
Hitunglah berapa kali proses pemilihan umum, berapa partai yang ikut, maka sebanyak kontestan disetiap pemilu akan meluncurkan slogan yang indah dan sangat sedikit yang terealisir.

Berbagai slogan telah diluncurkan.... dan biasanya diawali kata ”Dengan ......” sebagai contoh:
”Dengan semangat ......”
”Dengan program .....”
”Dengan pengamalan..................”
”Dengan Gerakan ......”
Saya tidak tahu, apakah slogan-slogan itu sudah menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang benar atau tidak.
Namun seingat saya ketika mulai belajar menulis, atau membuat kalimat rasanya belum pernah diajari menulis kata yang diawali kata ”dengan ....” Lha payahnya, kalau kaidahnya sudah salah... apalagi pelaksanaannya.

Tentunya masih ingat ketika diluncurkan program Gerakan Disiplin Nasional (GDN), banyak kader yang dipilih untuk membantu program tersebut. Slogan ”Dengan GDN kita wujudkan ........”, bergema dari Sabang sampai Merauke.
Para kader memakai jaket oranye dan tertulis GDN banyak bertebaran dimana-mana, membantu menertibkan pedagang kaki lima, pedagang asongan, pengemudi angkotan kota.
Tetapi adakah kader GDN yang membantu untuk menertibkan perilaku para aparat pemerintah, orang-orang yang memiliki kekuasaan, membantu tertib administrasi, tertib aturan, tertib hukum, tertib pajak, tertib anggaran.
Sama sekali tidak menyentuh hal yang hakiki, programnya berjalan dengan sukses, beli seragam GDN namun hasilnya lebih memberatkan rakyat kecil yang diuber-uber kader GDN.

Atau mungkin masih ingat slogan ”Dengan program wajib belajar .....”, diharapkan semua anak-anak usia sekolah dapat memperoleh pendidikan gratis....(katanya...). Program berjalan, dana pendidikan sudah turun, tapi nggak tahu turun sampai dimana.....
Jumlahkah yang menjadi tujuan atau kualitaskah yang diharapkan? Nyatanya sekarang banyak anak putus sekolah, dan kualitaspun tidak seperti yang diharapkan.

Masih banyak terjadi bahwa satu slogan meluncur dan belum jelas hasilnya, kemudian sudah meluncur slogan lainnya.

Apakah kita juga termasuk orang yang suka meluncurkan slogan?
Jika kita ambil bagian dalam meluncurkan slogan, tanyakan adakah dampak positif dari slogan tersebut.
Jika kita tidak pernah membuat slogan, lebih baik kita melakukan kegiatan nyata yang membawa dampak positif bagi negeri ini, meskipun sangat kecil dan dimulai dari diri sendiri, akan lebih bermanfaat dari pada 1001 slogan yang tidak jelas hasilnya.

Salam dari anak negeri 1001 slogan.

Tuesday, December 06, 2005

OLAHRAGA

Hidup sehat, bagi sebagian orang sudah menjadi gaya hidup karena kesehatan menjadi hal yang sangat penting bagi setiap orang agar dapat melakukan aktivitas sehari-hari, tanpa ada hambatan karena masalah kesehatan.
Berbagai upaya dilakukan oleh banyak orang antara lain, dengan program hidup sehat, pengaturan pola makanan, dan tentu saja harus didukung dengan olah raga yang teratur.

Di sisi lain, banyak pula orang yang tidak sempat melakukan olah raga karena tuntutan kesibukan sehari-hari, harus berangkat kantor pagi hari dan pulang malam hari. Selain itu juga keterbatasan fasilitas olah raga diberbagai tempat karena ruang terbuka atau taman yang dulunya biasa digunakan untuk olah raga sudah lenyap, tergantikan dengan mal dan bangunan lainnya.

Berubahnya pola hidup jaman sekarang yang serba nyaman, seperti tersedianya sarana angkutan, kendaraan pribadi, lift dan eskalator, semuanya membuat berkurangnya aktivitas phisik seseorang. Di sisi lain, pola makan juga menjadi tidak baik, ketika harus dihadapkan pada pilihan makanan fast food yang bergizi buruk.

Apabila pola hidup seperti itu tidak diimbangi dengan olah raga, maka akan muncul banyak masalah kesehatan, mulai dari kolesterol, asam urat dan merembet yang lebih berat lagi seperti tekanan darah tinggi, jantung koroner, diabetes …., dan masih berderet kenis penyakit yang bisa muncul.

Olahraga, bisa dilakukan diberbagai tempat dan situasi, bisa murah bisa sangat mahal, bisa sebentar bisa sangat lama. Tinggal kita memilih sesuai dengan kondisi yang sesuai, baik dari segi waktu, sarana maupun biaya.


Banyak orang yang ingin berolahraga, tapi hanya sedikit yang melakukannya. Sebenarnya masalah berolahraga itu terkait dengan “hati dan kaki” . Keinginan berolahraga ada, tetapi tidak pernah dilakukan karena tidak mau melangkahkan kaki, sehingga olahraga hanya menjadi angan-angan saja. Juga sebaliknya, ketika keinginan kaki untuk memulai olahraga tetapi ditidak didukung dengan hati, secara fisik memang berolah raga tapi dengan hati yang tertekan tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Sebagai contoh, ketika rekan sekerja banyak yang hoby golf, sementara kita tidak atau belum bisa menikmati, maka ketika selesai bermain golf yang diperoleh rasa capex, dan tidak ada suasana hati yang senang karena terpaksa. Atau karena teman sekerja banyak yang ke fitness, rasanya nggak gaul kalau tidak bergabung di fitness, padahal kita sangat senang jogging ditempat terbuka.

Hati dan kaki, menjadi modal untuk memulai olah raga, dimanapun dan kapanpun bisa dilakukan.
Jika anda terlalu sibuk, dan banyak menghabiskan waktu untuk perjalanan pergi-pulang kantor, cobalah untuk berjalan kaki lewat tangga, jangan menggunakan lift.
Jika anda punya waktu disore hari karena menghindari macet, kunjungilah fitness center, atau berolah raga dilingkungan kantor.
Jika anda harus mengantar anak sekolah pagi hari, sementara jam masuk kantor masih lama, anda bisa jalan kaki atau joging di lingkungan kantor setelah mengantar anak sekolah.
Jika anda memiliki banyak waktu, dan juga ingin membangun relasi, anda bisa memilih menjadi member di sport center atau oalah raga lainnya.
Jika anak-anak mengajak renang di akhir pekan, anda bisa bergabung berenang bersama dan menikmati keceriaaan keluarga.

Jadi, lakukanlah olahraga secara teratur dengan berbagai pilihan yang sesuai dengan keinginan anda, dan tentunya lakukan olahraga dengan hati dan kaki, sehingga diperoleh badan yang sehat dan hati yang senang.

Semoga kita bisa berolah raga secara teratur.

Monday, December 05, 2005

Siapkah menghadapi perubahan ?

Dalam kehidupan manusia, selalu ada perubahan dan perubahan itu terjadi sejalan dengan bergeraknya waktu.
Perubahan yang dihadapi bisa berdampak langsung dan fatal, namun juga mungkin berdampak positif bagi yang siap untuk menghadapi perubahan.
Sering orang berpandangan yang berbeda mengenai dampak perubahan. Ada yang khawatir dan cemas, ada yang masa bodoh, ada pula yang "nrimo ing pandun" karena segala sesuatu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Hadapi perubahan dengan kesiapan yang benar sambil senantiasa pasarah kepada Yang Maha Kuasa, karena Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi umatNya bila senantiasa bersandar pada Nya, bukan pada kemauan diri sendiri.

Perubahan akan selalu terjadi, dan kita harus menghadapinya

Thursday, December 01, 2005

BELAJAR PADA SEMUT ??


Alam yang diciptakan oleh Tuhan Sang Pencipta, begitu indah, nyaman, teratur dan sempurna.
Namun banyak manusia yang tidak pernah merasakan begitu indahnya alam ini, karena terbenam dalam berbagai kesibukan sehari-hari, bahkan tidak pernah mensyukuri keindahan yang ada dialam ini.
Ketika panas menerpa di siang hari, yang ada keluh kesah mengapa hari ini terasa begitu panas? Ketika turun hujan, banyak orang mengeluh mengapa harus hujan?.
Panas dan hujan diturunkan untuk maksud yang baik bagi alam ini, bagi semua orang tak terkecuali untuk orang yang baik maupun orang yang jahat.
Panas dan hujan pasti memberikan manfaat, tinggal bagaimana kita mau memahami dan belajar dari alam ini.

Banyak hal yang terjadi dialam ini yang sebenarnya memberikan kesempatan bagi semua orang untuk memahami, menghayati dan belajar dari alam.
Namun kepekaan itu semakin pudar, sehingga yang banyak terjadi adalah ”mengakali” alam ini untuk dijadikan sarana tujuan hidupnya. Hutan ditebang, tanah digali, mata air dikuasai demi untuk kepuasan duniawi. Ibarat seorang yang merasa kehausan, dihilangkan kehausan itu dengan segelas air laut, sehingga menambah rasa haus lagi. Itulah kehidupan jaman ini.

Alam bukan lagi menjadi sahabat, sehingga banyak hal kecil yang terabaikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya semut, seolah tidak bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Masih sempatkah anda melihat semut beriringan di dahan atau di pagar rumah?
Atau mungkin sudah terlalu lama tidak pernah melihat semut beriringan? Atau mungkin merasa marah ketika melihat semut beriringan dihalaman rumah dan langsung menyemprotkan insektisida?

Bila anda telah lupa karena tidak pernah melihatnya, cobalah sekali waktu tengok halaman rumah, teliti pagar rumah atau pohon disekitar rumah.
Bila ada semut beriringan, amatilah dengan seksama, dengan hari jernih bukan membunuhnya.

Apa yang dapat anda pelajari dari semut binatang kecil yang lemah ?

Semut selalu berjalan teratur dijalurnya, tidak seperti manusia yang sering melanggar jalur untuk hidupnya.
Semut selalu beriringan dan memberi jarak bagi yang lain, ada rasa teposliro, tidak seperti manusia saat ini yang sering menginjak atau melukai lainnya untuk keberhasilannya.
Semut selalu menyapa yang ditemuinya, tidak seperti manusia yang menyapa karena melihat ”wajah”, kepada siapa yang layak untuk disapa, dan membuang muka bila tidak menginginkannya.
Semut selalu rukun dengan sesamanya, namun kebencian dan pertengkaran selalu ada dalam kehidupan manusia.
Semut selalu bekerja keras, menghimpun makanan sedikit demi sedikit dengan teratur, tidak seperti jaman sekarang, manusia banyak mengambil jalan pintas untuk menumpuk kekayaannya, dengan berbagai cara.
Semut selalu bergotong royong ketika harus memindahkan beban yang berat, seia sekata ”berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”, tidak seperti jaman sekarang, biar orang lain bekerja, kita menikmati hasilnya.
Semut selalu mengerti kapan harus bekerja, dimusim panas semut mengumpulkan makanannya, untuk menyambut musim hujan. Namun di jaman ini waktu seakan habis untuk bekerja, tanpa mengenal siang malam.

Betapa indahnya keteraturan, sapaan, kerukunan, kerja keras, gotong royong dan mampu memahami dan memanfaatkan waktu secara tepat seperti layaknya kehidupan semut dalam alam ini.

Janganlah merasa malu untuk belajar pada semut, karena belajar pada semut akan membuat anda lebih bijaksana.

Semoga

HOME SWEET HOME ???

Kebanyakan orang ketika memulai meniti hidupnya dalam rumah tangganya, akan memiliki impian masing-masing dan dalam jangka menengah kebutuhan pokoknya akan diupayakan. Sandang, pangan dan papan menjadi tujuan awal sehingga dalam mengarungi kehidupan berumah tangga akan dapat menikmati rumah sendiri, bukan di rumah pondok mertua.
Berbagai upaya dilakukan dengan kerja keras, berhemat dan komitmen bersama untuk menggapai impian memiliki rumah sendiri, meskipun harus mengangsur melalui KPR. Sebuah impian yang indah, rumah sendiri yang nyaman, enak dan damai untuk bercengkerama dengan keluarga, meskipun dalam ukuran rumah sederhana namun seluruh penghuninya merasa nyaman ketika berada dirumah, bahkan merupakan tempat yang paling nyaman dibanding hotel berbintang sekalipun. Impian yang sederhana……home sweet home.

Seirama dengan berjalannya waktu, maka anggota keluarga bertambah dan anak-anak menjadi semakin besar menginjak remaja, karir orang tua juga melesat cepat karena memang memiliki dedikasi tinggi dan mampu untuk mengimbangi perubahan jaman. Secara ekonomi sangat mapan, rumah juga sudah bertambah, kendaraan juga tersedia, tabungan juga ada.
Sepintas orang luar melihat bahwa keluarga tersebut berhasil (karena parameter keberhasilan saat ini lebih diukur dari sifat keduniawian saja).
Orang lain melihat bahwa rumahnya sangat indah, megah, nyaman dan asri karena penataan taman dan bunga-bunga yang bertebaran.
Namun apakah benar hal itu ? apaklah rumah yang megah itu masih sama dengan impiannya ? Home sweet home?

Sebagai seorang bisnisman yang berhasil, hampir setiap hari pulang larut malam, dan berangkat pada pagi hari. Demikian pula sang istri sangat sibuk dengan berbagai kegiatan, sehingga hampir semua kegiatan rumah tangga telah diserahkan kepada pembantunya.
Makan siang, hampir pasti tidak pernah dilakukan bersama, demikian pula makan malam sulit untuk dilaksanakan karena kesibukan orang tua juga anak-anak yang sudah terbiasa dengan kehidupan café.
Ngobrol bareng, merupakan barang langka dirumah itu, apalagi canda dan tawa bersama sudah tidak pernah terdengar lagi.
Bertatapmuka setiap hari mungkin juga sulit untuk dilakukan bagi anggota keluarga.
Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing, terlebih lagi dukungan sarana yang sangat memadai, ada telepon, HP untuk masing-masing, kendaraan dan sopir yang selalu tersedia menyebabkan hilangnya “sentuhan antar anggota keluarga”.
Rumah yang megah bagaikan istana, lebih berfungsi sebagai hotel part time, datang larut malam, pagi sudah pergi. Akhir pekan keluar kota untuk liburan dengan tujuan masing-masing,. Rumah yang megah …. kosong tanpa penghuni di akhir pekan.
Impian home sweet home yang telah tercapai diawal….., namun tidak pernah dipelihara akhirnya tinggal kenangan.

Apakah pembaca juga mengalami hal yang sama dengan tulisan diatas?
Jika pembaca mengalami hal serupa di atas, bersyukurlah…….. karena dengan membaca tulisan ini anda diingatkan untuk menggapai impian home sweet home yang telah melayang jauh.
Bersyukurlah masih ada kesempatan untuk memperbaiki suasana hotel part time menjadi istana seutuhnya bagi seluruh anggota keluarga.
Sehari hanya 24 Jam saja, berapa lama waktu yang tersisa untuk menikmati istanamu bersama anak istrimu?

JIka pembaca masih merasakan suasana home sweet home, bersyukurlah dan ingatlah agar suasana itu tetap dipelihara.

Nikmati istanamu dengan makan malam bersama,
nikmati dengan ngobrol malam hari dengan secangkir teh atau kopi,
nikmati dengan canda dan tawa di sore hari,
nikmati dengan doa dan sembahyang bersama keluarga.

Ada sapa, canda, senyum, peluk manja, kasih sayang dan damai dalam istanamu.
Home sweet home bukan sebatas impian bila anda mau mewujudkan.
Semoga

SENYUMAN


Mulailah dengan senyuman ketika kita bangun pada pagi hari, karena senyuman itu akan mengawal kita sepanjang hari baik di rumah, dijalan, dikantor dan kembali kerumah lagi. Mengapa ??
Ketika kita membuka mata dipagi hari, senyumlah dan bersyukurlah bahwa Tuhan memberikan kesempatan kita untuk menikmati hari yang baru dan mengisinya dengan penuh rasa syukur.
Sediakan waktu khusus untuk menyapa Tuhanmu dengan senyuman dan ucapan syukur, mohon padaNya untuk mengiringi setiap langkah kita agar sepanjang hari yang akan kita lewati menjadi lebih baik dibandingkan hari kemarin.
Ucapkan salam dengan senyuman kepada anak, istri, suami dan orang tua ketika pertama kali bertemu dipagi hari. Senyuman itu akan membuat suasana pagi menjadi lebih riang dan damai, dan hal ini akan mengiringi sepanjang waktu yang kita lewati hari ini.

Namun yang sering terjadi, pada pagi hari suasana yang serba tergesa-gesa karena takut macet. Sehingga sering terdengar teriakan untuk cepat bangun pagi, cepat mandi, cepat ganti pakaian, cepat sarapan dan cepat berangkat.
Tanpa sapaan sayang dan senyuman....... akan berdampak besar pada perilaku kita semenjak kaki melangkah keluar rumah.
Bagi yang punya kendaraan, akan segera memacu kendaraan secepat mungkin agar segera sampai ditempat tujuan, tidak ada rasa sabar dalam mengemudi kendaraan, saling serobot dan saling berpacu, bahkan mungkin akan keluar umpatan bukan senyuman.
Bagi yang belum punya kendaraan, akan segera mencari angkutan atau bis, dengan berebut, bahkan harus dengan sedikit mendorong agar dapat naik tanpa memperhatikan calon penumpang lainnya yang sudah berumur, atau anak-anak.
Dan mungkin ketika terlambat naik karena diserobot calon penumpang lainnya, atau mungkin kena sikut atau terinjak, akan mudah naik pitam.
Itulah gambaran yang sering terjadi dipagi hari, lebih banyak terjadi umpatan dari pada senyuman, karena tidak diawali dengan senyuman.

Ketika sudah sampai dikantor atau tempat kerja, cobalah sapa setiap orang yang berjumpa dengan anda, tanpa harus membeda-bedakan kedudukan atau jabatan. Bila sapa dan senyuman disampaikan kepada siapapun di tempat kerja, akan membuat hubungan kita menjadi lebih baik, dan bagi diri sendiri ketika mengawali kerja dengan penuh suka cita akan berdampak positif sepanjang hari.

Namun yang sering terjadi, semua berlalu begitusaja seperti layaknya mesin otomatis, masuk kantor, pencet tombol lift, masuk, diam tanpa ada sapa dan senyuman karena semua merasa tergesa-gesa. Sehingga tercipta suasana kaku dan kesepian ditengah keramaian.


Dalam berbagai hal kehidupan sehari-hari, senyuman akan memberikan manfaat yang sangat dahsyat !,
Ketika menghadapi seseorang yang sedang marah dan kalut, senyuman akan dapat meredupkan amarah seseorang.
Ketika bertemu dengan orang yang sedang berkeluh kesah, dengarkanlah dengan seksama dan beri senyuman yang tulus, akan mampu menyejukkan hatinya.
Ketika menghadapi orang yang melakukan kesalahan, hadapilah dengan senyuman bukan amarah, karena akan mengurangi beban yang ditanggungnya.
Ketika harus bertemu orang banyak dan tidak ada yang kenal, senyuman akan dapat mencairkan susana kekakuan.
Ketika setiap hari anda memberikan senyuman kepada siapapun yang anda temui, akan dapat membangun rasa persaudaraan yang lebih baik.

Dan terlebih dari itu...... ketika anda memberikan senyuman secara tulus, otot-otot muka anda akan terlatih dengan baik, sehingga tidak mudah keriput dimakan usia, lebih cerah, segar dan menarik secara alami. Orang lainpun akan lebih senang ketika bertemu dengan anda dan senyuman yang tulus itu akan merambat dengan pasti mempengaruhi orang lain untuk tersenyum.

Seandainya setiap hari, diawali dengan senyum, dan setiap orang bisa tersenyum, akan terciptalah dunia yang penuh dengan damai, canda dan tawa.
Betapa dahsyatnya senyuman tulus itu !
Semoga setiap hari ada senyum diantara kita.

UCAPKAN "TERIMA KASIH"

Ketika kita masih kanak-kanak, seringkali orang tua kita mengajari untuk dapat menyampaikan kata “Terima Kasih” kepada siapapun yang memberi atau menolong kita. Dan ketika kita sudah menjadi orang tua, hal itu juga kita ajarkan kepada anak kita.

Namun dengan bergesernya pola tata kehidupan yang sering bersifat ”transaksional” dan mengarah materialistis, cenderung mengakibatkan terasa mahalnya ungkapan ”terima kasih” yang disampaikan secara tulus. Bahkan akan terasa janggal ketika harus mengucapkan terima kasih kepada orang lain yang lebih rendah strata sosialnya. Mengapa harus berterima kasih kalau itu memang sudah kewajibannya? Atau mungkin gengsinya akan turun kalau harus mengucap terima kasih? Hal seperti ini sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana dengan kehidupan dikeluarga kita? Masihkah ucapan itu terdengar setiap hari, antara orang tuan dengan anak, suami dengan istri dan sebaliknya?
Atau mungkin ucapan ”terima kasih” juga sudah menjadi kata-kata yang asing dalam keluarga karena semua berjalan secara otomatis, tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Perhatikan dalam kehidupan sehari-hari di kantor, seolah-olah seorang bawahan kerjanya hanya untuk ” disuruh mengerjakan tugas, kemudian kalau tidak selesai dimarahi oleh boss”. Sebaliknya boss hanya menyuruh dan memarahi bawahannya. Hal ini menguatkan bahwa pola transaksional masih sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari, dan ucapan terima kasih menjadi kata yang tabu bagi atasan atas keberhasilan bawahannya.

Sering juga terjadi, ketika seseorang akan keluar dari tempat parkir, kemudian ketika akan berlalu datang petugas parkir yang langsung meminta uang parkir, yang muncul dalam benaknya adalah ”enak saja kok minta uang parkir” sehingga muncul rasa tidak rela memberikan uang parkir, rasa kesal dan cemberut.
Memberi uang parkir dengan rasa marah, dan tidak mengucapkan terima kasih, kelihatannya sah-sah saja. Namun bila kita berpikir lebih jernih siapa yang menjagai mobil ketika ditinggal diparkiran? Siapa yang akan membantu parkir atau keluar parkir?
Kemarahan dan rasa tidak rela memberi uang parkir tidak memberikan manfaat baginya, sebaliknya bila mampu memaafkan dan ucapkan terima kasih akan membawa dampak yang baik bagi emosi kita.




Pada awal berkeluarga, ucapan terima kasih menjadi menu utama sehari-hari, bahkan terasa mesra karena diucapkan dengan kata ”terima kasih, sayang”

Kesibukan, tantangan kehidupan, beban keluarga, tuntutan pekerjaan dan bertambah besarnya anak-anak, maka secara lambat laun dan pasti..... ucapan terima kasih menjadi kata yang sangat mahal, sehingga jarang diucapkan dalam kehidupan berkeluarga.
Orang tua tidak perlu mengucapkan terima kasih ketika anak-anak pulang tepat waktu dan rajin dalam belajar, karena itu sudah kewajibannya.
Anak-anak tidak perlu mengucap terima kasih kepada orang tuanya ketika segala keperluan dan perhatian diberikan orang tua, karena itu sudah kewajibannya.
Jika masing-masing bersifat transaksional maka ucapan terima kasih akan dapat hilang di kamus perbendaharaan kata keluarga tersebut.

Akankah kata terima kasih menjadi sesuatu yang antik dan tidak pernah diucapkan lagi baik dalam keluarga, kantor dan kehidupan sehari-hari?

Marilah, kita mulai dari diri kita dahulu, ucapkan terima kasih kepada siapun yang membantu kita, terlebih pada orang tua, anak, istri atau suami agar hidup kita menjadi lebih bermakna.

Terima kasih, kepada yang tidak membaca maupun mau membaca tulisan ini.