Hujan bertambah deras, ketika mendekati arah pantai ke Pulau Manuk, membayangkan betapa indahnya disini ketika sunset. Meskipun hujan, kami bersyukur karena masih sempat menikmati dari jauh pulau Manuk.
Sepi pengunjung dan masih natural... pisan!
| Rating: | |
| Category: | Restaurants |
| Cuisine: | Other |
| Location: | Bandung |
Dalam kehidupan bermasyarakat saat ini, pada umumnya hubungan yang terjadi antara satu orang dengan orang lain seperti layaknya sebuah transaksi kehidupan. Semua hubungan terjadi karena ada motif transaksi, bahkan seringkali memanfaatkan hubungan untuk memperoleh keuntungan diri sendiri.
Secara kasat mata, akan terllihat seolah seseorang membantu orang yang lain, namun tidak sepenuhnya orang tersebut membantu tanpa pamrih.
Terlebih lagi, ketika seseorang mulai menjalin hubungan kasih dengan pasangannya, berbagai hal dilakukan untuk memperoleh imbalan kasih dari pasangaannya agar tidak bertepuk sebelah tangan.
Apakah mungkin seorang pria akan mengasihi seorang wanita tanpa syarat sama sekali ? jawabannya “tidak mungkin”, bahkan dalam kehidupan saat ini, banyak sekali pernikahan yang harus pecah ditengah jalan meskpun baru seumur jagung. Ini terjadi karena landasan kasih adalah transaksional, ada hitungan untung rugi, ada rasa dendam, ada rasa benci, ada rasa marah ketika pasangannya bertindak tidak sesuai dengan keinginan berdua yang telah disepakati.
Atau mungkin juga, seseorang memberi bantuan kepada yang lain, baik atasan, rekan sekerja atau mitra bisnis atau juga hubungan pertemanan, sepanjang motif transaksi menjadi landasaran maka semuanya akan berakhir dengan tidak baik. Transaksi terjadi ketika kedua belah pihak menerima syarat2 meskipun hal tersebut tidak pernah diungkapkan.
Transaksi akan berakhir ketika syarat itu tidak terpenuhi olah salah satu pihak.
Sering terucap hubungan/ kasih transaksional dengan ciri khusus yaitu terselip sebuah kata “tetapi/ tapi”
“Aku mengasihi sepenuh hatiku, tapi apakah engkau juga mengasihiku?”
“ Saya akan bantu sekuat tenaga, tapi apakah engkau mau ……..”
“ Saya akan menyelesaikan masalahmu, tapi kami harus………”
Jadi jikalau kita berniat untuk mengasihi/ membantu sesama, lakukanlah itu tanpa mengucapkan ”tetapi/tapi”
Lalu, mungkinkah seseorang mengasihi sesamanya tanpa syarat?
Hareee geneee? Masih ada orang bisa mengasihi sesama tanpa syarat?? Mimpi kali ye !!!
Ya, benar, ucapan seperti itu akan meluncur dengan cepat, karena pada dasarnya kita manusia sudah banyak mementingkan diri sendiri terlebih lagi ketika untuk memperoleh sesuatu harus bekerja keras sekuat tenaga. Namun perlu diingat bahwa keberhasilan yang kita raih, bukanlah kemampuan kita semata, tetapi Tuhan Yang Maha Kasih memberi kemampuan kepada kita.
Lha, kalau kita merasa bahwa keberhasilan kita juga suatu anugerah, apa kita juga tetap sulit untuk berbagi kasih tanpa syarat???
Kita masih ingat Bunda Theresa, sebagai contoh Bunda Theresa tanpa banyak bicara, tanpa banyak seminar, tanpa banyak worskhop, namun Ibunda Theresa selalu bekerja, bekerja dan bekerja membagikan kasih kepada sesama, meskipun orang tersebut miskin, meskipun orang terebut terbuang, meskipun orang tersebut tidak dikenal, meskipun orang tersebut menolak dia, meskipun orang tersebut mendekati ajal.
Kasih yang tulus, kasih tanpa syarat sudah dicontohkan oleh Bunda Theresa.
Itulah wujud kasih tanpa syarat, membantu/ menolong orang lain tanpa kata tapi.
Sebentar lagi bagi umat Katholik/ Kristen akan merayakan Jumat Agung 2 April 2010 dan Hari Paskah 4 April 2010, yang merupakan wujud Kasih Allah kepada umatNya.
Begitu besar kasih Allah kepada manusia, mekipun kita banyak kesalahan, meskipun kita sering tidak taat, meskipun kita lupa mengucap syukur atas berkatNya, meskipun kita banyak dosa.
Melalui pengorbanan dan kematian Yesus di kayu salib sebagai karya keselamatan dan kasih Allah dinyatakan kepada setiap umatNya.
Selamat merayakan Hari Jumat Agung dan Hari Paskah bagi semua umat Katholik/ Kristen yang merayakan, semoga Kasih Tuhan selalu menyertai kita semua.
Bandung, 30 Maret 2010
Purwadi Siswana
Thank’s to Mr. IWN
Alam yang diciptakan oleh Tuhan Sang Pencipta, begitu indah, nyaman, teratur dan sempurna.
Namun banyak manusia yang tidak pernah merasakan begitu indahnya alam ini, karena terbenam dalam berbagai kesibukan sehari-hari, bahkan tidak pernah mensyukuri keindahan yang ada dialam ini.
Ketika panas menerpa di siang hari, yang ada keluh kesah mengapa hari ini terasa begitu panas? Ketika turun hujan, banyak orang mengeluh mengapa harus hujan?.
Panas dan hujan diturunkan untuk maksud yang baik bagi alam ini, bagi semua orang tak terkecuali untuk orang yang baik maupun orang yang jahat.
Panas dan hujan pasti memberikan manfaat, tinggal bagaimana kita mau memahami dan belajar dari alam ini.
Banyak hal yang terjadi dialam ini yang sebenarnya memberikan kesempatan bagi semua orang untuk memahami, menghayati dan belajar dari alam.
Namun kepekaan itu semakin pudar, sehingga yang banyak terjadi adalah ”mengakali” alam ini untuk dijadikan sarana tujuan hidupnya. Hutan ditebang, tanah digali, mata air dikuasai demi untuk kepuasan duniawi. Ibarat seorang yang merasa kehausan, dihilangkan kehausan itu dengan segelas air laut, sehingga menambah rasa haus lagi. Itulah kehidupan jaman ini.
Alam bukan lagi menjadi sahabat, sehingga banyak hal kecil yang terabaikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya semut, seolah tidak bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Masih sempatkah anda melihat semut beriringan di dahan atau di pagar rumah?
Atau mungkin sudah terlalu lama tidak pernah melihat semut beriringan? Atau mungkin merasa marah ketika melihat semut beriringan dihalaman rumah dan langsung menyemprotkan insektisida?
Bila anda telah lupa karena tidak pernah melihatnya, cobalah sekali waktu tengok halaman rumah, teliti pagar rumah atau pohon disekitar rumah.
Bila ada semut beriringan, amatilah dengan seksama, dengan hari jernih bukan membunuhnya.
Apa yang dapat anda pelajari dari semut binatang kecil yang lemah ?
Semut selalu berjalan teratur dijalurnya, tidak seperti manusia yang sering melanggar jalur untuk hidupnya.
Semut selalu beriringan dan memberi jarak bagi yang lain, ada rasa teposliro, tidak seperti manusia saat ini yang sering menginjak atau melukai lainnya untuk keberhasilannya.
Semut selalu menyapa yang ditemuinya, tidak seperti manusia yang menyapa karena melihat ”wajah”, kepada siapa yang layak untuk disapa, dan membuang muka bila tidak menginginkannya.
Semut selalu rukun dengan sesamanya, namun kebencian dan pertengkaran selalu ada dalam kehidupan manusia.
Semut selalu bekerja keras, menghimpun makanan sedikit demi sedikit dengan teratur, tidak seperti jaman sekarang, manusia banyak mengambil jalan pintas untuk menumpuk kekayaannya, dengan berbagai cara.
Semut selalu bergotong royong ketika harus memindahkan beban yang berat, seia sekata ”berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”, tidak seperti jaman sekarang, biar orang lain bekerja, kita menikmati hasilnya.
Semut selalu mengerti kapan harus bekerja, dimusim panas semut mengumpulkan makanannya, untuk menyambut musim hujan. Namun di jaman ini waktu seakan habis untuk bekerja, tanpa mengenal siang malam.
Betapa indahnya keteraturan, sapaan, kerukunan, kerja keras, gotong royong dan mampu memahami dan memanfaatkan waktu secara tepat seperti layaknya kehidupan semut dalam alam ini.
Janganlah merasa malu untuk belajar pada semut, karena belajar pada semut akan membuat anda lebih bijaksana.
Semoga
Bandung, 24 Oktober 2005
Purwadi Siswana
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Other |