Ombak yang cukup besar di Pantai Balekambang, menjadi teman bermain para remaja.
Bergantian beridiri di atas batu karang, menunggu datangnya ombak dan bertahan berdiri ketika ombak datang.
Sekitar awal bulan April 2010, anakku yang cowok Abam ngajak ngobrol mengenai kuliah dan harapannya masa depan. Dengan bekal kuliah di NHI. Abam bilang kalau dengan bekal yang dimiliki akan dapat menghadapi masa depannya, karena profesionalisme di setiap bidang akan menjadi hal yang penting dalam berkompetisi di masa mendatang. Disisi lain, dia bilang kalau seseorang hanya ahli disatu bidang tapi tidak memiliki pengetahuan yang luas, juga akan berpengaruh dalam kecepatan berkarir.
Ujung-ujungnya dari ngobrol ini, dia bilang “Pa, boleh nggak kalau aku kuliah lagi di UNPAR, untuk ambil manajemen?”
Tidak langsung saya jawab pertanyaannya, tetapi saya balik bertanya “Mas, kamu ingin kuliah di UNPAR atau butuh kuliah manajemen?”
Kalau hanya sekedar “ingin”, banyak orang yang ingin kuliah dimana dia suka, tetapi beda bila dia merasa bahwa kuliah itu “kebutuhan”.
Jawaban Abam dengan mantab “ Saya membutuhkan ilmu manajemen untuk bekal saya dan sekaligus melengkapi keahlian saya yang diperoleh dari NHI”
Berbagai hal kami diskusikan mulai dari persiapan test masuk, pembagian waktu karena harus kuliah, juga masalah transportasi, dan kesiapan mental karena dua lingkungan yang sama sekali berbeda.
Aku bilang pada Abam “Secara prinsip papa mendukung rencanamu, dan kewajiban papa untuk memenuhi kewajiban jika Abam diterima di UNPAR”
Untuk mengetahui seberapa jauh minat Abam untuk kuliah di UNPAR, saya bilang “Mas kapan mau ambil formulir? Dan apa yang disiapkan untuk test masuk?”
Jawab Abam :“Secepatnya dan Abam mau panggil guru les untuk persiapan selama satu bulan mendatang”
“Ok,papa setuju,” dan untuk menge-test keseriusannya, saya katakan : “Mas, segera beli formulir, cari guru les ….., kalau mas ada tabungan, biaya pembelian formulir dan biaya guru les ambil dari tabungan mas, mengenai biaya kuliah nanti papa yang penuhi? Bagaimana ? setuju?”
“Ya pah, saya akan ambil dari tabungan, untuk beli formulir dan biaya les tambahan”, betapa terasa hati saya sangat dipenuhi dengan suka cita atas jawabannya. Puji Tuhan, karena Abam tahu apa yang menjadi kebutuhannya, bukan keinginannya.
Saya lihat kesungguhan hati Abam untuk masuk ke manajemen UNPAR, dengan belajar giat meskipun seharian dia sudah cukup lelah melakukan aktivitas job di salah satu hotel di
Dia juga bilang ke saya “Pah, aku akan gundul lagi jika diterima di UNPAR”
Ketika saya di
Satu pembelajaran dapat kita peroleh, seringkali kita punya banyak keinginan, dan seringkali kita tidak memahami dari banyak keinginan itu, mana yang sebenarnya menjadi kebutuhan kita?
Seringkali kita menyampaikan doa2 keinginan kita kepada Tuhan, namun karena kita juga tidak peka apa yang sebenarnya kita butuhkan, maka ketika doa2 keinginan kita belum /tidak dijawab oleh Tuhan Yang Maha Kasih, membuat kita jadi mengeluh mengapa doa-doa kita kepada Tuhan belum dijawab?
Kekurang pekaan manusia, kepada kehendakNya, dan berbagai keinginan manusia membuat hati tidak lagi jernih bahkan bisa menutupi nurani yang murni. Keserakahan manusia yang dibungkus dalam doa, bisa membuat seolah-olah berdoa seperti seseorang sedang berada di depan mesin ATM, kapanpun dan berapapun yang dimauinya dapat diterima dari mesin ATM.
Sebenarnya Tuhan sudah mengajarkan kepada kita, untuk bersyukur atas apa yang Tuhan berikan, untuk berdoa dengan sederhana, dan menyampaikan kebutuhan bukan keinginan2 kita.
“……berilah kami pada hari ini makanan yang secukupnya….”
Bagi banyak orang yang merayakan Hari Natal, menjelang awal bulan Desember, selalu melakukan ritual tahunan dengan menyambut Hari Natal.
Mulai dari lingkungan Keluarga, komunitas gereja, hingga ke Mall-mall di kota besar menyambut hari Natal dengan sangat meriah.
Berbagai aktivitas dilaksanakan dengan antusias untuk menyambut dan merayakan hari Natal,
Mulai membuka kotak penyimpan pohon natal yang mulai berdebu karena hampir satu tahun tidak dipasang.
Beramai-ramai dengan anggota keluarga untuk memasang dan menghiasi pohon Natal.
Mulai merencanakan pesta Natal, bagaimana acaranya, bagaimana hiasannya, bagaimana hidangan pestanya.
Mulai menyiapkan diri untuk tampil di acara Natal dengan pakaian terbaru, dan tampilan atau dandanan terbaru. Bahkan jika perlu dengan keluar masuk mall untuk memperoleh baju yang terbaik.
Mulai sibuk latihan Koor, latihan musik, latihan drama untuk perayaan natal, bahkan sampai kelelahan karena latihan yang intensif agar pada saat tampil bisa lebih baik.
Kesibukan membelenggu banyak orang, keluarga dan umat dalam menyiapkan Hari Natal dengan berbagai aktivitas yang sangat baik.
Namun dibalik itu, sering kali apa yang kita lakukan tidaklah sejalan dengan makna Natal yaitu kesederhanaan, kasih, pengampunan dan kedamaian.
Ketika seorang ibu sedang asyik menata pohon natal, lupa tersenyum manakala anak atau suaminya merasa lelah sehabis sekolah atau kerja, bahkan mungkin akan menghardik anaknya yang kecil ketika merengek untuk bermain.
Lebih fokus pada acara pesta Natal dan hidangannya, bukan pada makna persekutuan, ibadah dan saling menyayangi sesama.
Lebih fokus pada bagaimana ketika tampil dalam paduan suara atau musik atau drama, bukan pada makna puji kemulian bagi Allah melalui paduan suaranya.
Kesibukan yang dilakukan untuk menyambut Natal, sering kali terkait dengan motivasi seseorang bahkan identik dengan masa unjuk diri dengan berbagai hal yang dapat dilihat orang.
Maka ketika semua yang disiapkan ternyata tidak sesuai dengan harapan orang itu, yang muncul adalah rasa marah karena pestanya tidak baik, hidangan standar, acara membosankan.
Alangkah menyedikan, ketika semangat natal menggebu di awal Desember akhirnya berubah rasa kecewa.
Marilah kita menyiapkan Natal dengan hati yang sederhana, hati yang penuh kasih, hati yang penuh damai, hati yang penuh syukur....., agar kita juga selalu ingat masih banyak saudara kita yang menderita tertimpa bencana.
Menyambut Natal dengan hati yang sederhana...., semoga.
Selamat merayakan Hari Natal, Semoga Damai buat kita semua.
Itu bukan karena kemampuanku
Itu karena rekan sekerjaku
Dan pasti..., itu karena Gusti Allah
Kalaupun saya bisa menahan amarah dan rasa geram...
Itu bukan karena aku orang yang sabar...
Itu karena dukungan dari rekan sekerjaku
Dan pasti.. itu karena Gusti Allah
Kalaupun saya bisa membagi waktu untuk kantor, keluarga juga gereja
Itu bukan karena saya mampu mengatur waktu
Itu karena rekan sekerja/ sepelayanan yang memahami peranku
Dan pasti ..., itu karena Gusti Allah
Kalaupun saya bisa tersenyum ketika sampai dirumah...
Itu bukan karena saya mampu melepas keletihan
Itu karena dukungan anak istriku yang bisa mengerti kondisiku
Dan pasti..., itu karena Gusti Allah
Kalaupun saya bisa tidur nyenyak ketika larut malam
Itu bukan karena saya mampu melepas stress karena beban kerjaku
Itu karena istriku yang membuat aku bisa melupakan kerjaan
Dan pasti...., itu karena Gusti Allah
Kalaupun saya bisa mengucap syukur
Itu bukan karena saya mampu menghitung berkatNya
Itu karena memang saya wajib bersyukur untuk segala yang Ia berikan
Dan pasti..., itu karena Gusti Allah
Kalau saya bisa cuti akhir tahun ini
Itu bukan karena hak saya semata untuk cuti
Itu karena kebaikan rekan sekerja, staf juga atasan saya memberikan kesempatan
Dan pasti..., itu karena Gusti Allah
ketika hujan turun
rindu aku untuk merasakan dinginnya air di tanganku yang menengadah
ketika hujan jatuh dirumput
rindu aku menerawang indahnya kemilau butir embun
ketika rumput dipotong
rindu aku pada oroma rumput hijau
ketika butir-butir embun jatuh di tanah
rindu aku bermain lumpur seperti masa kecilku
rindu aku menjejakkan kaki telanjang dipematang sawah
ketika mentari bersinar
rindu aku melihat secercah sinar yang menembus rumpun bambu
ketika mentari memuncak
rindu aku berteduh dibawah buaian cemara hijau
ketika mentari tenggelam
rindu aku menatap lembayung senja
ketika malam menjelang
rindu aku mendengar simphony katak, kicau burung malam dan derik jangkrik
ketika tengah malam
rindu aku padaMu Yang Maha Kasih,
rindu kupanjatkan dalam doa, syukur untuk hari yang Kau beri.