Monday, July 11, 2011

Situ Cileunca




Bagian 1 dari Catatan Perjalanan Menyusuri Pantai Selatan Jabar

(Mudah2an tulisan ini dapat menambah informasi bagi rekan2 semua, yang tertarik untuk melakukan perjalanan sepanjang pantai selatan jabar.
Setiap lokasi yang kami singgahi akan kami sampaikan gambar dan uraian singkat informasi yang terkait dengan lokasi tersebut
Semoga bermanfaat)



Rencana perjalanan ini sudah lama sekali kami perbincangkan dengan rekans sekerja, namun selalu tertunda untuk dilaksanakan dengan berbagai hal yang tidak bisa ditinggalkan.
Perjalanan ini untuk menepati janji saya untuk mengantar rekans menyusuri pantai jawa barat.
Perjalanan ini juga merupakan napak tilas sekitar 3 tahun yang lalu, saya sekeluarga menyusuri jalan bebatuan sepanjang jalur selatan hingga Pangandaran.

Rencana sudah ditetapkan, tanggal 9 s/d 10 Juli 2011 namun ternyata beberapa rekans mengundurkan diri karena ada kegiatan yang lebih penting.

Saya tawarkan kepada teman yang lain, juga tidak ada yang tertarik, maka kami berdua, saya dengan mas Fajar akhirnya berangkat juga.
Perjalanan dari Bandung berangkat sekitar jam 04.00 pagi menuju Pangalengan.
Jalan masih sangat sepi kami bisa melajukan kendaraan dengan lancer, ditambah lagi kondisi jalan yang sudah lebih baik khususnya mendekati Pangalengan, sangat mulus karena baru selesai di hotmix.

Pukul 05.00 kami sudah sampai di Pangalengan, dan singgah di Mesjid karena mas Fajar akan melaksanakan sembahyang Subuh.

Kabut masih cukup tebal di daerah ini, dan ketika tiba di Situ Cileunca sekitar 05.15 suasana hening pagi dank abut menyelimuti Situ…, terasa dingin sekali.
Kami menuju warung yang sudah terbuka, untuk menghangatkan badan sambil menunggu waktu sang Mentari mengahmpiri pagi.
Semangkuk indomie rebus dan segelas kopi susu menghangatkan badan kami.
Kabut pagi tidak beranjak pergi, mentari tertutup awan pagi....., kami menuju tepi situ dan menikmati keindahan alam di dinginnya pagi Situ Cileunca.
Awan tebal menggantung di ufuk timur dan diatas Pangalengan, Sang Surya tertutup awan pagi.

Terima kasih Gusti untuk menikmati dinginnya pagi di Pangalengan

Saturday, July 02, 2011

Biru di Jatiluhur




Jalan2 lagi ke Jatiluhur.. kali ini survey untuk rencana kegiatan wilayah.

Wednesday, June 29, 2011

Menu Ndeso Pinggir Kali Serayu




Hampir setiap kami pulang ke Wonosobo, menyempatkan untuk singgah di warung Ikan Goreng Lik Tuti. Tepatnya di Desa Kalibagor dekat Banyumas, berada dekat dengan tepi Sungai Serayu.
Yang khas di warung ini adalah Sambel dan ikan goreng dari kali Serayu.
ketika mampir bulan lalu ada yang menarik, selama ini kentang diolah jadi kentang goreng, sambel goreng kentang, perkedel kentang, atau campuran untuk sop.
Oseng-oseng kentang menjadi sajian selain oseng2 kacang panjang..

Untuk rasa.... wis.. maknyuss tenan
dan harga relatif murah

nah... jika rekans pas dalam perjalanan melalui banyumas, saya sarankan untuk singgah dan menikmati sambel dan ikan goreng kali serayu...
pasti akan ingin kembali kesini...

Monday, June 27, 2011

Es Toko OEN




Setiap ke Malang, anak & istri selalu minta mampir ke toko OEN
Siang hari yang panas, terasa nikmat es cream toko OEN
Mau???

Sunday, June 26, 2011

Bermain Cahaya di BNS




Batu - Malang. semakin lengkap tujuan wisata dan cukup menarik mulai dari Wisata Agro, Jatim Park, Secret Zoo, kini ada BNS (Batu Night Spectacular)
Berbagai macam permainan cukup menarik bagi pengunjung dan dibuka mulai senja hingga tengah malam.

Kesempatan buat saya untuk belajar lagi dan bermain dengan cahaya warna warni...
silahkan dinikmati
silahkan untuk dikritik

matur nuwun

Saturday, June 25, 2011

Keindahan Fajar di Punthuk Setumbu




Rasa penasaran minggu yang lalu sewaktu ke borobudur belum sempat naik ke Punthuk Setumbu.
Meluncur dari Yogya sekitar jam 04,00 menuju lokasi Wisata Borobudur dan dilanjutkan mengarah ke barat candi sekitar 4 Km.
Jalan akses cukup baik menuju Punthuk Setumbu dan sudah ada penunjuk arah.
Setelah sampai di kaki bukit, dilanjutkan dengan jalan kaki menyusuri jalan desa.
Cukup melelahkan buat saya... namun terasa lelah cepat hilang karena pemandangan yang sangat indah di Punthuk Setumbu

Terima kasih Gusti, untuk pagi yang indah ini.

Friday, June 24, 2011

Indahnya Pantai Balekambang




Perjalanan menuju Pantai Balekambang kami tempuh sekitar 2 Jam dari Malang.
Jalan menuju Pantai menurut saya masih cukup bagus, sudah beraspal, hanya sedikit ruas jalan yang rusak, selebihnya bisa menikmati perjalanan yang menembus perkebunan tebu, perkebunan pohon jati dan hutan kecil.

Pukul 7 pagi sudah sampai di Pantai, pengunjung masih sepi, udara terlihat mulai cerah.
Pantai pasri putih terhampar sepanjang pantai, dan terlihat pulau Ismoyo yang didalamnya ada Pura.
Sisi Timur dari pulau terlihat pantai yang lebih landai dan ombak relatif kecil,
sementara sisi barat terlihat pasir putih yang bersih, pepohonan hijau dipinggir pantai.

Pemandangan pantai yang sangat indah....,
Selamat menikmati....


Terima kasih Tuhan, untuk alam yang Kau berikan buat bangsa ini.

Thursday, June 23, 2011

Indahnya Alam Kita




Perjalanan dari Bandung ke Malang dengan KA Malabar yang berangkat agak sore sekitar 15.30. Membuat rasa penasaran karena pemandangan alam yang sangat indah ketika Kereta mulai menyusuri pedesaan sekitar Kabupaten Garut.
Demikian juga ketika pulang dari Malang ke Bandung, cuaca sore hari yang cerah, KA menyusuri pertengahan sawah yang mulai di garap.
Selamat menikmati keindahan alam kita.

Menikmati fajar dari Punthuk Setumbu Bersyukur untuk pagi yang indah Semburat jingga mentari diantara Merapi Merbabu ..... Dilembah yang dingin Kabut pagi menyelimuti Borobudur

Bermain Ombak




Ombak yang cukup besar di Pantai Balekambang, menjadi teman bermain para remaja.
Bergantian beridiri di atas batu karang, menunggu datangnya ombak dan bertahan berdiri ketika ombak datang.

Wednesday, June 08, 2011

Dipinggir kali Progo




Menghindari kemacetan jalur utama Magelang - Yogyakarta, saya mencoba jalur alterntif Magelang - Pakelan - Kalinegoro - Mungkin - Candi pawon hingga melewati jalur utama menuju Sendang Sono.
Sepanjang jalur tepi kali progo masih terlihat jelas kedahsyatan banjir lahar dingin dari merapi melalui anak sungai Kali Putih.
Terlihat anak2 berlarian dan bermain layang2 juga mandi disungai dengan riangnya,
Ditempat lain seorang bapak sedang menambang pasir, dan semangat seorang nenek untuk bertahan dengan memecah batu kali.

Simbah tetap semangat, pantang menyerah

Tuesday, June 07, 2011

Borobudur di Pagi Hari




Menanti semburat mentari di Borobudur, dinginnya pagi tidak terasa walaupun kabut pagi begitu tebal menyelimuti candi.
Berharap datangnya mentari dan berharap kabut terurai, ternyata pagi ini kabut tetap menyelimuti candi dan awan putih bahkan menyatu seolah menyelimuti mentari.
Namun suasana candi dan sekitarnya tetap indah dan menarik untuk dinikmati.

Selamat menikmati .....

Monday, June 06, 2011

DIENG - lagi




Dataran tinggi Dieng merupakan kawasan gunung berapi yang masih aktif.
Peningkatan aktivitas di kawah Timbang yang mengeluarkan gas CO menjadi bahan pemberitaan media massa.
Memang kejadian ini bisa berdampak fatal bagi kelangsungan hidup manusia apabila gas CO keluar dari rekahan tanah dan terhirup manusia.
Pemberitaan yang menyebutkan dataran tinggi Dieng berbahaya tanpa menjelaskan secara rinci dimana letak kawah timbang dan letak kawasan wisata berdampak pada penurunan wisata lebih dari 70%.
Hal ini sangat berpengaruh pada pendduduk setempat yang menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata.
Alangkah bijaknya apabila pemberitaan dilakukan secara tepat karena jarak antara kawah Timbang dengan kawasan Wisata Dieng sekitar 15 Km.

Tanggal 3 Juni 2011 yang lalu, saya mengantar teman2 untuk mengunjungi kawasan wisata Dieng, Sempat saya tanyakan apakah jadi ke Dieng atau tidak?
Sepengetahuan saya jarak antara Kawah TImbang dengan kawasan Wisata cukup jauh. Jika ragu2 sebaiknya tidak usah berangkat....., ternyata teman2 setuju untuk berangkat ke Dieng sekitar 05.00 WIB.
Cuaca di dataran tinggu dieng cukup cerah, namun diarah timur awan tebal menutupi sang surya pagi.

Silahkan untuk dinikmati oleh2 saya dari perjalanan ke Dieng.
Terima kasih Gusti

Wednesday, May 25, 2011

Sejoli




Anggrek liar di pohon mangga mekar 5 kuntum,
terlihat serangga kecil terbang dan hinggap di bunga anggrek yang harum aromanya.
tak lama kemudian datang lagi dan... sejoli bercumbu
tak menghiraukan jeprat jepret kameraku...

Sunday, May 22, 2011

Mang Engking - Bandung




Jika kami mudik ke Yogya...., salah satu tempat favorit anak2 adalah Pondok Udang Mang Engking di daerah Minggir - Godean.
Udang bakar madu menjadi menu kesukaan anak2 serta tempat yang cukup nyaman berada dipinggir kota yang bersih terbebas polusi.
Bangunan gubug2 diatas empang/ kolam menjadi ciri khasnya.

Ternyata di Bandung sudah ada cabang yaitu di Jl Kopo (Bihbul)
Sabtu siang kami sekeluarga, juga mbah putri Yogya, menuju ke Kopo untuk "ngilangi rasa kangen".

Tempatnya cukup baik masuk dalam komplek sehingga ketika sudah di gubug mang Engking terasa seperti dalam suasana pinggiran yang jauh dari kemacetan...menikmati alunan degung yang mendayu....., padahal Jl. Kopo sudah terkenal dengan suasana macet sepanjang hari.

Menu yang disajikan, standar dengan Mang Engking di Yogya...
Siapa tahu ada rekan yang berwisata ke Bandung Selatan seprti Ciwidey...., cobalah untuk singgah ditempat ini...

Saturday, May 21, 2011

Selamat Pagi




Langit cerah dipagi hari, masih terlihat bintang dan bulan di sisi barat.
Keheningan pagi masih terasa di pinggir Bandung
Pengendara motor mulai menyusuri jalan sepi sepanjang tepi sawah.
Semburat jingga di ufuk timur...
Seolah menyambut dan menyapa petani yang mulai melangkah di pematang sawah.
Disisi selatan terlihat jajaran gunung di Bandung selatan masih dibalut birunya langit pagi

Terima kasih Tuhan untuk pagi yang indah ini

Friday, May 20, 2011

Karinding




Musik tradisional Sunda yang sudah cukup lama,
Anak2 ini begitu mencintai musik Karinding
Peralatan yang terbuat dari bahan yang sederhana, pelepah enau dan bambu menjadi bahan utama.
Namun alunan Karinding benar-benar bisa membuat hati menjadi tentram.

Salut... untuk anak2 ini.

Tuesday, April 19, 2011

Monday, April 18, 2011

Antara Keinginan dan Kebutuhan

Sekitar awal bulan April 2010, anakku yang cowok Abam ngajak ngobrol mengenai kuliah dan harapannya masa depan. Dengan bekal kuliah di NHI. Abam bilang kalau dengan bekal yang dimiliki akan dapat menghadapi masa depannya, karena profesionalisme di setiap bidang akan menjadi hal yang penting dalam berkompetisi di masa mendatang. Disisi lain, dia bilang kalau seseorang hanya ahli disatu bidang tapi tidak memiliki pengetahuan yang luas, juga akan berpengaruh dalam kecepatan berkarir.

 

Ujung-ujungnya dari ngobrol ini, dia bilang “Pa, boleh nggak kalau aku kuliah lagi di UNPAR, untuk ambil manajemen?” 

 

Tidak langsung saya jawab pertanyaannya, tetapi saya balik bertanya “Mas, kamu ingin kuliah di UNPAR atau butuh kuliah manajemen?”

Kalau hanya sekedar “ingin”, banyak orang yang ingin kuliah dimana dia suka, tetapi beda bila dia merasa bahwa kuliah itu “kebutuhan”.

 

Jawaban Abam dengan mantab “ Saya membutuhkan ilmu manajemen untuk bekal saya dan sekaligus melengkapi keahlian saya yang diperoleh dari NHI”

Berbagai hal kami diskusikan mulai dari persiapan test masuk, pembagian waktu karena harus kuliah,  juga masalah transportasi, dan kesiapan mental karena dua lingkungan yang sama sekali berbeda.

Aku bilang pada Abam “Secara prinsip papa mendukung rencanamu, dan kewajiban papa untuk memenuhi kewajiban jika Abam diterima di UNPAR”

 

Untuk mengetahui seberapa jauh minat Abam untuk kuliah di UNPAR, saya bilang “Mas kapan mau ambil formulir? Dan apa yang disiapkan untuk test masuk?”

Jawab Abam :“Secepatnya dan Abam mau panggil guru les untuk persiapan selama satu bulan mendatang”

 

“Ok,papa setuju,” dan untuk menge-test keseriusannya, saya katakan : “Mas, segera beli formulir, cari guru les ….., kalau mas ada tabungan,  biaya pembelian formulir dan biaya guru les ambil dari tabungan mas,  mengenai biaya kuliah nanti papa yang penuhi? Bagaimana ? setuju?”

 

“Ya pah, saya akan ambil dari tabungan, untuk beli formulir dan biaya les tambahan”,  betapa terasa hati saya sangat dipenuhi dengan suka cita atas jawabannya. Puji Tuhan, karena Abam tahu apa yang menjadi kebutuhannya, bukan keinginannya.

 

Saya lihat kesungguhan hati Abam untuk masuk ke manajemen UNPAR,  dengan belajar giat meskipun seharian dia sudah cukup lelah melakukan aktivitas job di salah satu hotel di Bandung, dari pagi jam 07.00 s/d jam 15.00. Sore hari dilanjutkan aktivitas belajar dan tambahan les untuk pelajaran matematika yang selama ini sudah tidak pernah ditengok.

Dia juga bilang ke saya “Pah, aku akan gundul lagi jika diterima di UNPAR”

 

Ketika saya di Semarang pada sore hari tanggal 14 Mei  Mei 2010, Abam telepon saya dan bilang “Pah, saya sudah Gundul”,  Puji Tuhan, Abam diterima di UNPAR.

 

Satu pembelajaran dapat kita peroleh, seringkali kita punya banyak keinginan, dan seringkali kita tidak memahami dari banyak keinginan itu, mana yang sebenarnya menjadi kebutuhan kita?

 

Seringkali kita menyampaikan doa2 keinginan kita kepada Tuhan, namun karena kita juga tidak peka apa yang sebenarnya kita butuhkan, maka ketika doa2 keinginan kita belum /tidak dijawab oleh Tuhan Yang Maha Kasih, membuat kita jadi mengeluh mengapa doa-doa kita kepada Tuhan belum dijawab?

 

Kekurang pekaan manusia, kepada kehendakNya, dan berbagai keinginan manusia membuat hati tidak lagi jernih bahkan bisa menutupi nurani yang murni. Keserakahan manusia yang dibungkus dalam doa, bisa membuat seolah-olah berdoa seperti seseorang sedang berada di depan mesin ATM,  kapanpun dan berapapun yang dimauinya dapat diterima dari mesin ATM.

 

Sebenarnya Tuhan sudah mengajarkan kepada kita, untuk bersyukur atas apa yang Tuhan berikan, untuk berdoa dengan sederhana, dan menyampaikan kebutuhan bukan keinginan2 kita.

 

“……berilah kami pada hari ini makanan yang secukupnya….”

Friday, April 15, 2011

Negeri di atas awan (2)




Menikmati sunrise dari gardu pandang (km20) ke Dieng, dalam cuaca yang mulai mendung dipagi hari membuat suasana seakan berada di negeri atas awan.
Biasanya selalu menengadah ketika meihat awan berarak, kini dengan tunduk menyaksikan awan berarak.

Betapa indahNya pagi ini.

Monggo dinikmati

Serayu




Napak tilas dipinggir sungai Serayu, tempat favorit mancing ketika liburan tiba.
Jembatan gantung dari bambu sudah diganti kayu yang lebih kokoh, hijau sawah dan padi menguning disepanjang sisi serayu.

Tempat mancing favorit jadi tempat start arung jeram....
sudah jarang terlihat para pemancingnya....

Thursday, April 14, 2011

Dieng Lagi




Ketika mau mudik ke wonosobo, saya bilang ke temans "siapa mau ikut ke wonosobo, nanti saya antar ke Dieng"
Akhirnya ber4 yang mau bergabung : ii, ayu, thenmase, abadi
saya wajib nganter ke Dieng, untuk menikmati sunrise dan mengunjungi tempat wisata.

kapan lagi bisa ke Dieng ya.....

Wednesday, April 13, 2011

Nikmatnya Menu Ndeso




Diperbatasan Wonosobo dan Banjarnegara, terdapat satu warung makan yang sangat sederhana dengan menu Ndeso sebagai andalannya.
Terprovokasi cerita adikku mengenai oblok2 daun talas/ keladi, daun singkong dan tempe lombok ijo, meskipun sudah sarapan pagi serabi, saya ikut menuju ke perbatasan wonosobo - banjarnegara.
ternyata tidak sia-sia, dan benar2 nikmat.... sepiring nasi, oblok2 daun talas dan daun singkong serta tempe lombok ijo.
menu lainnya seperti oseng2 kacang panjang, oseng labu siam... dan ikan goreng dari sungai serayu... wis enak tenan.

siang hari menikmati semangkung es bubur kacang ijo dan soto daging sapi... plus tempe kemul.
enak tak terkira...biarpun menu Ndeso....

Sunday, March 06, 2011

Gunung Padang Ciwidey




Gunung Padang identik dengan situs megalitikum…, dan daerah Jawa Barat terdapat 3 lokasi Gunung Padang yaitu :
1. Gunung Padang di Cianjut : lihat disini http://3ojo.multiply.com/photos/album/132/Gunung_Padang
2. Gunung Padang Ciwidey
3. Gunung Padang Ciamis.

Kali ini saya mengunjungi Gunung Padang Ciwidey, berangkat dari Bandung sekitar jam 5.00 pagi, langsung menuju Soreang melalui Tol Purbaleunyi.
Berhenti sebentar didepa Kantor Kabupaten Bandung – Soreang menikmati fajar pagi.
Setelah mengambil gambar sunrise, perjalanan dilanjutkan menuju Ciwidey, jalan realtif masih sepi sehingga terasa lancer hingga sampai di Ciwidey sekitar 06.45.
Sebelum arah pasar Ciwidey, kami mengambil jalur lurus menuju desa Rawabogo, jalan relatif bagus, bahkan ketika mau masuk desa Rawabogo, jalan desa sudah diperbaiki dengan jalan beton.
Sekita pk. 07.00 sampai diterminal Rawabogo (sebenarnya tidak tepat dibilang terminal, karena tidak tersedia sarana terminal yang memadai, hanya tempat parker dan pangkalan ojeg)
Gerimis mulai turun dan terlihat awan yang cukup tebal disebelah barat, kami singgah di warung kecil dan memesan dua gelas kopi susu, untuk mengusir rasa dingin dan menunggu gerimis berlalu.
Sekitar 30 menit, akhirnya gerimis berhenti dan terlihat awan dari sebelah barat berangsur pindah kearah timur.

Segera kami ambil rangsel, dan kami putuskan untuk jalan kaki saja menuju Gunung Padang meskipun beberapa tukang ojeg menawarkan untuk diantar sampai kaki gunung padang (tarif sekitar Rp.15 ribu s/d Rp.20 ribu).
Tanjakan tinggi sudah menghadang didepan, ketika meninggalkan desa Rawabogo kemudian belok kiri menuju jalan kecil arah ke Gunung Padang. Suasana masih sangat sepi, mulai melewat jalan berbatu, hingga sekitar 500 meter, jalan tanah merah yang membelah ladang penduduk.

Hanya kami berdua yang menyusuri jalan tanah yang cukup licin, benar-benar sepi dan kami bersyukur bias menikmati indahnya pagi, kicauan burung juga desir angina yang menerpa daun2 cemara seakan menikmati simphoni alam yang indah.

Sempat juga kami ragu ketika mencapai jalan persimpangan, karena tidak ada petunjuk jalan kea rah Gunung Padang, akhirnya kami harus bertanya kepada sorang petani yang akan mengangkut pupuk kandang ke kebun.
Dengan ramahnya menunjukkan arah ke Gunung Padang, “ikuti saja jalan ini dan lihat bekas roda motor saja, sebentar lagi akan sampai ke Gunung Padang”

Tanjakan yang cukup curam buat saya, karena terasa sangat”ngos-ngosan” ketika mulai menapak kea rah tanjakan curam dan licin. Tak berapa lama, dari jauh kelihatan bangunan pondok tempat masuk ke Wanawisata Gunung Padang.

Beruntung sekali, pak Dasep anak dari jurukunci, Gunung Padang bersedia menemai kami untuk menyusuri jalan setapak menuju puncak Gunung Padang.

Memasuki areal tempat wisata, kami disambut dengan gapura batu besar dengan lorong kecil yang terjal, ketika saya mencoba mulai mendaki memasuki tangga, ternyata rangselku nyangkut karena nggak muat, terpaksa harus di loggarkan agar bisa melewati lorong pertama. (maklum SETULEGI)

Setelah ambil nafas sebentar, kembali menaiki trap kedua, dengan sedikit merangkak karena memang jalan setapak cukup terjal dan sebelah kirinya tebing terjal yang menganga.
Betapa batu2 raksasa tersusun rapi dan dibalut akar-akar pohon yang mencengkeram sehingga terasa kokoh walau berada di gunung.

Hingga pada satu tempat harus merangkak mendaki tangga untuk menuju batu tinggi yang merupakan tempat favorit bagi pengunjung karena bisa memperoleh pemandangan yang sangat indah. dari puncak kearah Bandung maupun ke Saguling.
Hanya sayangnya saya tidak bisa menaiki batu tersebut karena memakai celana jeans, sehingga tidak bisa melangkah dengan leluasa.... :(.

Suasana cukup sepi, dan sedikit ada nuansa mistis karena banyak sisa dupa atau sesaji dibeberapa tempat, karena banyak orang yang melakukan tirakat di sini.

Betapa saya beruntung bisa menikmati keindahan alam parahyangan dari ketinggian sekitar 2.500 meter, di bebatuan yang besar-besar, rimbunya pepohonan dan hembusan angin yang sejuk.
Sejenak menikmati alam dipuncak Gunung Padang, ternyata tidak terlalu lama terdengar teriakan anak2 remaja yang dengan riangnya naik ke puncak Gunung Padang. Tidak terlihat rasa lewah di wajah mereka, bahwkan canda tawa terus mereka lakukan dan dengan senangnya berpose untuk diambil gambarnya.

Ketika akan pulang, menuju jalan setapa yang berbeda dengan arah naik, baru terasa kalau cukup tinggi dan terjal sewaktu menaiki Gunung Padang. Dengan bersusah payah dan harus berpegangan pada akar2 pepohonan secara perlahan dan pasti mulai menuruni jalan setapak. Wuih... terasa berat banget apalagi dengan kondisi badan "kelas berat"

Sampailah di pondok untuk istirahat adn sarapan pagi, dengan menu mie rebus, terasa nikmat dalam keadaan lapar....,
dua mangkok mie rebus, 4 bala-bala hanya mengeluarkan Rp. 7.000,-

Sejenak istirahat, ternyata mulai banyak pengunjung yang berdatangan, kebanyakan anak2 remaja, dan cukup terkejut ketika terdengar suara motor menuju tempat kami istirahat...., ojek motor dengan roda berantai agar bisa melalui jalan tanah yang licin.
Kami mulai menuruni jalan tanah yang terjal, sambil menikmati perkebunan sepanjang jalan.

Hitung-hitung hari ini saya sudah sebanding dengan mengelilingi lapangan sepakbola 10x..., kaos basah kuyup karena keringat yang menetes deras....., dapat rekreasi, dapat gambar, dapat sehat mengurangi kolesterol.

Sekitar pukul 11.00 kami sudah sampai di terminal Rawabogo, dan melanjutkan perjalanan menuju Ciwidey dan pulang ke Bandung.

Selamat menikmati.

Fajar di Soreang




Sabtu pagi alam perjalanan menuju ke Gunung Padang Ciwidey, ketika sampai di Soreang tepat di depak Kantor Kabupaten, terlihat semurat merah diufuk timur.
Kami berhenti untuk sejenak menyambut pagi...
langit biru cerah dan semburat merah sangat indah untuk dinikmati..
Selamat pagi Soreang.

Thursday, March 03, 2011

Kerupuk Jumbo




Bagi penggemar kerupuk, biasanya setiap makan selalu ditemani kerupuk.
Berbagai jenis kerupuk, mulai kerupuk ikan, kerupuk udang hingga kerupuk aci.
Cobalah menikmati jenis kerupuk jumbo ini, ditanggung tidak akan habis meskipun sudah nambah nasi berkali-kali.

Monday, February 28, 2011

LAYANG-LAYANGKU MENCUMBU REMBULAN




Ketika benang terbentang dan layangku siap terbang
Kulantunkan tembang mantra pemanggil angin
“cempe-cempe golekno angin gede tak opahi duduh tape”
“cempe-cempe golekno angin gede tak opahi duduh tape”

Tembang mantraku berhasil
Terasa lembut semilir mulai menyapaku
Anginpun datang dan layangku terbang
Terbang melayang dibirunya langit sore

Senja membiru disebelah timur
Senja semburat jingga disebelah barat
Biru mengantar bulan berwarna perak menyambut malam
Temaram jingga menutup siang

Merah layangku membumbung tinggi,
Benang kutarik dan layangku naik
Benang kendur terulur layangku menjauh
Merah layangku menuju langit biru

Layangku menuju rembulan perak dilangit biru
Kusalurkan rinduku lewat benang terjulur menyatu dilayangku
Mendekat, mencumbu rembulan
Kelepas kerinduanku pada rembulan

Ujunggenteng 6 Pebruari 2011

Sunday, February 20, 2011

Kuliner sehari di NHI




Abram anakku yg kuliah di NHI, ngasih undangan dari Kampus untuk orang tua siswa, untuk menghadiri case study siswa jurusan pastery dan kicthen.
Tlg 12 Pebruari 2011, sekitar pk 10.00 siang hingga pk.14.00 untuk melihat hasil karya siswa SM III yang praktek sesuai dengan tugas yang dibagikan.
Satu kelompok teridiri dari 5 s/d 6 orang untuk tiap negara, dan ada sekitar 12 kelompok atau 12 negara yang akan menyajikan makanan khas mereka.

Baik dari segi tampilan maupun rasa, benar-benar prima......,
Sedikit demi sedikit mencoba untuk mencicipinya.... hingga akhirnya ...
terasa kenyang....

Pilihan mereka masuk NHI membanggangkan orang tua kalilan.

Silahkan untuk dinikmati gambarnya saja....

Waduk Jatiluhur




Setelah beberapa kali berjunjung ke waduk Jatiluhur…., rasanya sulit sekali memperoleh kesempatan menikmati indahnya langit biru di atas waduk. Kali ini saya beruntung banget, sepulang mengantar ibu dari Bekasi, terlihat cuaca yang sangat cerah…., langsung mengarahkan kendaraan ke Waduk Jatiluhur.

Langit biru cerah dan sedikit awan putih menambah indahnya pemandangan Jatiluhur.
Mengunjungi perkampungan terapung yang banyak memelihara ikan, nengok water boom yang cukup asri dan menyenangkan bagi anak2, juga menyusuri dam serta melihat dari dekat penginapan yang tersedia.

Rasanya Jatiluhur bisa menjadi alternative tujuan wisata dan bermalam disana.

Silahkan untuk menikmati keindahannya.
Jangan lupa sarannya....

Matur nuwun

Wednesday, February 16, 2011

Senja di Ujunggenteng




waktu menjelang senja, kami segera menyusuri jalan tanah berbatu menuju TPI Ujunggenteng untuk menikmati indahnya lembayung senja.
Langit mulai memerah di ujungbarat, perlahan sang surya menghilang
tinggal semburat jingga yang tersisa.
terima kasih Gusti..., untuk senja yang indah

Tuesday, February 15, 2011

Ujunggenteng




MInggu pagi jam 09.00 start dari Bandung, kami ber3 berangkat ke Ujunggenteng.
Ini merupakan kunjungan saya yang ke2 dan sekaligus melunasi janji ingin mengantar rekans ke sana..... (lunas janjiku).
Kami hanya mengunjungi ujungnya Ujunggenteng... dan menikmati sunset di TPI Ujunggenteng.
Biru langit, biru laut.... mengharu biru.....siapa suka?
Monggo dinikmati...

Tuesday, February 08, 2011

Tokyo Tower & Tokyo Sky Tree




Tokyo Tower dibuka untuk umum mulai tahun 1958
Tinggi bangunan 332,6 M

Tokyo Sky Tree masih dalam tahap penyelesaian, rencana peresmian 2012
Tinggi bangunan 662 M

Sunday, February 06, 2011

Wednesday, January 26, 2011

Dago Car Free Day




Setiap hari Minggu, sepanjang jalan Dago mulai dari perempatan Cikapayang s/d Simpang Dago, bebas kendaraan bermotor.
Ternyata pengunjung sangat banyak, baik yang membawa sepeda (karena jalan penuh terpaksa di tuntun) maupun yang ingin joging akhirnya hanya jalan kaki saja.
Yang menarik adalah memperhatikan perilaku banyak orang dikeramaian...,
saya coba kendit .......selamat menikmati

Monday, January 24, 2011

DIbawah Ranting Dedaunan




BONBIN




Sejenak melepas rutinitas, setelah nganter istri kegiatan rutin...., dari pada nungguin lebih baik nyari obyek jepretan di Bonbin....,
iseng belajar ambil gambar satwa di bonbin.

Monday, January 10, 2011

Curug MALELA




Letak obyek wisata curug Malela berada di Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di Kecamatan Rongga.
Jarak dari bandung ke Gunung halu sekitar 60 Km, dengan alternatif rute yang nyaman melalui tol Purbaleunyi, keluar gerbang Padalarang. Ambil jalur kekiri menuju ke Cimareme, akan ketemu pertigaan menuju ke Cililin.
Ambil jalur ke Cililin hingga ke Gunung Halu, kondisi jalan relative bagus dan sebagian sudah di cor beton.
Meskipun jarak dekat namun perjalanan dari Bandung ke Gunung Halu sekitar 3 jam perjalanan karena melalui beberapa pasar yang membuat jalan menjadi macet.
Setelah sampai di Gunung Halu, perjalanan dilanjutkan hinggal ketemu pertigaan, lurus ke CIwidey, kekanan ke Buni Jaya kecamatan Rongga.

Sebenarnya ada juga angkutan kota dari Ciroyom ke Buni Jaya, namun perjalanan akan memakan waktu lebih dari 3 jam.

Sampai ke BuniJaya ambil arah ke kanan menuju perkebunan the Montaya, kita akan menikmati perkebunan the dan pohon2 mahoni yang besar2 sepanjang jalan. Sekitar 4 Kilo meter perjalanan masih bisa dilalui kendaraan roda 4 asal garden cukup tinggi.

Setelah mencapai ujung perekebunan teh, kondisi jalan rusak, dan tidak beraspal, jika hujan berlumpur, biasanya dipertigaan sudah banyak tukang ojek yang mencegat pengendara mobil untuk meinggalkan mobil di daerah tsb diganti ojeg.

Kami abaikan saja permintaan tukang ojeg, dan dengan perjalanan off road akhirnya bisa mencapai desa terdekat, mobil bisa diparkir di dekat sekolah SD. Dari sini berganti dengan ojeg menuju curug Malela, tarif PP Rp. 25.000,-
Namun apabila kita menggunakan jeep 4x4, masih bisa melalui kondisi jalan yang parah, hingga mencapai jalur setapak yang sedang di pasang beton untuk jalur pengunjung.

Terlihat banyak pekerja yang sedang menyiapkan prasarana tempat wisata, mulai dari tempat istirahat, kamar mandi juga tempat jaga.
Dari tempat ini terlihat dikejauhan curug Malela yang gemuruhnya terdengar jelas meskipun jaraknya lebih dari 1 Km.

Perjalanan dilanjutkan melalui jalan setapak dan turunan tajam, namun pemandangan benar-benar indah.
Turun dengan tertatih-tatih melewati jalur setapak dan akhirnya ada ruang terbuka yang sudah disiapkan bangunan untuk istirahat bagi pengunjung. Kita bisa menikmati indahnya curug dari kejauhan warna putih diantara hijau lereng pegunungan.

Wis.... dengan napas ter-engah-engah (karena SETULEGI), saya mencoba untuk terus turun dan akhirnya sampai di tepi curug...., rasanya sangat sesuai dengan perjuangan menuruni bukit ke lembah curug Malela.

Benar-benar curug yang besar dan tinggi, dibandingkan dengan beberapa curug yang pernah saya kunjungi. Curug ini masih sangat natural, belum ada fasilitas untuk para pengunjung, tidak ada tempat bilas, ataupun kamar kecil.

Bebatuan yang besar-besar dan curah air yang turun dari curug membuat kita terasa kecil dibandingkan curug ini.
Silahkan untuk dinikmati.

Terima kasih Tuhan untuk kesempatan menikmati keindahan alamMu.

Bandung, 8 Januari 2010


nb : curug Malela mulai ramai dikunjungi wisatawan semenjak bpk Wagub Jabar Dede Yusuf mengunjungi tempat ini tahun lalu.

Sunday, January 09, 2011

Surabaya




Jejak yang tertinggal pada saat liburan akhir tahun 2010.
Napak tilas di Surabaya, menyusuri jalan2 dan menemukan kembali tempat dimana kami bertemu pertama kali.
Mengajak anak2 mengunjungi museum kapal selam

Thursday, January 06, 2011

Pantai Sraung, Pasir Putih




Selepas makan siang di Pantai Teleng Ria, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Sraung, TPI dan Pantai Pasir Putih.
Jalur menuju lokasi, cukup nyaman, aspal hotmix halus hanya agak sempit, namun penunjuk lokasi minim sekali.
Kami sempat bertanya beberapa kali.
Ketika sampai di gardu jaga, kami sangat penasaran dengan suara deburan ombak yang cukup keras.
Pantai Sraung cukup panjang dan ada 3 lokasi dengan kondisi yang berbeda, yang pertama dekat dengan pintu masuk, banyak terlihat peselancar yang menikmati ombak besar pantai ini, lokasi kedua... pasir putihnya memanjang namun terlihat warna air lautnya langsung biru pertanda cukup dalam, dan yang ketiga.... deburan ombaknya cukup besar, sama sekali tidak ada yang bermain air dilokasi ini.

Dari pantai Sraung menuju TPI dan Pasir Putih kami harus mengambil rute balik hingga pertigaan, dan berbelok kearah barat.
Kembali kami harus bertanya kepada beberapa orang karena minimnya petunjuk jalan.
Kita akan menjumpai TPI sebelum ke Pasir Putih, nampak sekali kebanyakan perahu "tertulis MINA CIAMIS". Tidak salah duga karena nelayan jawabarat lebih piawai dan sekaligus menjadi penggerak di pantai selatan pulau jawa.

Tidak jauh dari TPI kami mengunjungi Pantai Pasir Putih yang memanjang....,
meskipun mendung, kami coba untuk menikmati sejenak keindahan pantai ini.

Maksud hati akan melanjutkan perjalanan ke pantai Klayar..., mengambil jalan pinggir pantai, namun lama kelamaan jalan menjadi sempit, aspal mulai mengelupas, lama kelamaan sepi tidak ada perkampungan, jalan rusak parah...,
akhirnya balik kanan.. tidak jadi melanjutkan ke Pantai Klayar.

Silahkan untuk dinikmati


Aman dibawah sayap




Bagi anak ayam yang masih kecil, tempat paling nyaman dan aman adalah ketika berada dibawah sayap induknya.
Demikian pula kita sebagai manusia, akan nyaman, aman dan damai kalau berlindung dibawah Tangan KasihNya.

Pantai Teleng Ria - Pacitan




Siang hari sekitar pk.10.30 sudah sampai di Pantai Teleng Ria Pacitan, langsung buru-buru menuju pantai, main air.
Suasana cukup ramai, meskipun mendung menggantung di atas Pacitan.
Selesai main air, kami langsung menuju warung makan yang berada tepat di depan pantai untuk makan siang.

Silahkan untuk dinikmati

Sungai di Pacitan




Perjalanan dari Ponorogo ke Pacitan cukup mengasyikan karena harus mendaki bukit dan turun ke lembah serta mengikuti aliran sungai yang bermuara di Pacitan.
Air berwarna coklat keruh karena kondisi hulu yang sudah tidak terjaga hutannya,
Banyak jembatan beton yang rubuh diganti dengan jembatan gantung...maksimal jumlah orang yang melintas hanya 10 orang dalam waktu yang sama.
Dibeberapa bagian sungai terdapat batu2 besar sepanjang sungai.

Silahkan untuk dinikmati

Candi Penataran




Sehabis mengunjungi makam Bung Karno, langsung menuju candi Penataran yang letaknya tidak begitu jauh.
Rasa penasaran terlunasi ketika masuk kawasan candi yang cukup rapi.
Ada yang menarik, ketika akan mengambil gambar di candi utama, ternyata ada pengunjung yang sedang melakukan ritual.
Diujung belakang komplek candi terdapat mata air yang tidak pernah kering dan terlihat sangat jernih.
Silahkan untuk dinikmati.

Wednesday, January 05, 2011

Jejak Sang Proklamator




Melanjutkan liburan akhir tahu dari Surabaya - Porong - Malang - Blitar, sesuai permintaan anak & istri....
Di Malang hanya dua tujuan, satu ke toko Oen, icip2 es cream dan ke RM Gloria makan siang (cui mie, nasgor kepiting) belakang Kantor Kabupaten.
Blitar dengan tujuan Istana Gebang dan Makam Sang Proklamator Soekarno, dilajutkan ke Candi Penataran.

Berikut beberapa gambar rumah Bung Karno, Gedung perpustakaan dan Makam Bung Karno.

Masih ada semburan




Semburan lumpur porong masih berlanjut, entah kapan berhenti.
Penderitaan korban lumpur masih berlanjut, entah kapan berlalu

Monday, January 03, 2011

Kenjeran jilid 2




Tahun lalu ketika ke Pantai Kenjeran Surabaya, air pasang dan matahari ada disebelah utara. Kali ini air surut dan matahari ada disebelah selatan.

Ternyata saya datang sudah kesiangan, matahari sudah cukup tinggi, dan banyak juga rombongan yang lagi hunting disini, beserta beberapa model yang menyertai.

Kesulitan akses masuk lokasi taman ria Pantai Kenjeran rasanya tidak seberapa dibandingaan suasana sepi dan indahnya pagi di pantai Kenjeran.

Silahkan untuk dinikmati, juga sarannya... saya terima dengan hati terbuka.

Madura




Banyak orang merasa penasaran ketika jembatan SURAMADU sudah diresmikan, hingga saat ini jembatan SURAMADU menjadi ikon dan sebagai tempat tujuan wisata.
Namun demikian, masih banyak para wisatawan yang hanya menyeberang jembatan SURAMADU dan singgah sebentar di ujung jembatan Madura kemudian kembali lagi ke Surabaya.

Kali ini kami sekeluarga sengaja, mengunjungi Madura mulai dari Jembatan SURAMADU terus menyusuri jalur selatan Madura hingga sampai ke Sumenep.
Ternyata banyak pemandangan indah, juga obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi, antara lain pantai, api abadi di Pamekasan, Masjid Kuno, Musium dan keraton Sumenep.

Sebagian dari foto yang sempat kami singgahi..., silahkan dinikmati.