Wednesday, December 06, 2006

CUTI

Rutinitas pekerjaan ditambah dengan target-target yang harus dicapai dapat menyebabkan tekanan yang berat bagi seseorang dalam bekerja. Pergi pagi dan pulang larut malam sudah menjadi hal biasa, bahkan diakhir pekanpun terkadang harus bergulat dengan pekerjaan yang harus diselesaikan. Bagi beberapa orang, semakin berat tantangannya akan menambah semangat kerja yang akhirnya akan merasakan bahwa hal itu sudah menjadi “makanan sehari-hari”, namun bagi orang lain hal ini bisa juga menjadi masalah karena tidak siap menghadapi masalah sehingga stress.

Bagaimanapun kuatnya seseorang dalam menghadapi tantangan kerja, tentu ada batasnya, karena manusia bukanlah “mesin”. Dan kita tahu bahwa “mesin”pun perlu istirahat dengan dilakukan overhaul agar performansinya tetap terjaga.
Istirahat sangat diperlukan bagi para pekerja keras, namun seringkali karena tuntutan pekerjaan, cuti tahunanpun tidak dapat dilaksanakan karena alasan “target”.

Sebenarnya, cuti bukan hanya sekedar istirahat, tetapi lebih dari itu.
Banyak hal yang dapat diperoleh bila seseorang menikmati CUTI antara lain :
1. Melepaskan kejenuhan karena ritme kerja yang sangat padat.
2. Menjernihkan kembali memory dengan membaca dan meningkatkan pengetahuan.
3. Memulihkan stamina dengan rekreasi, olah raga, bahkan bisa memanjakan diri dengan terapi, refleksi atau hal lainnya
4. Menikmati berjalannya waktu tanpa harus dikejar target
5. Menikmati suasana baru diluar rutinitas
6. Menikmati canda dan tawa dengan keluarga
7. Menikmati indahnya matahati terbit dipagi hari dan kemilau senja.
8. Memperoleh tenaga baru dan semangat baru
9. Memungkinkan muculnya ide-ide yang cemerlang karena pikiran menjadi lebih jernih.

Bila Cuti dilakukan, bukan hanya orang tersebut yang memperoleh manfaat, tetapi perusahaan juga akan memperoleh manfaat yang lebih besar karena ada semangat baru yang dibawa setelah menikmati Cuti.

Jadi, lakukan dan jangan ditunda keinginan untuk Cuti.

Semoga anda bisa menikmati cuti.

Bandung, 6 Desember 2006

Tuesday, September 26, 2006

Bola Karet vs Bola Krital

Dalam perjalanan pulang kerja yang sudah larut malam, terasa melelahkan dan sepi sepanjang jalan. Untuk mengurangi kesunyian yang mencekam...... saya bunyikan radio favorit "MAESTRO FM", dan ketika alunan musik berhenti, dilanjutkan dengan dialog antara dua orang sahabat yang membicarakan masalah karir pekerjaan dan bagaimana membangun keluarga yang baik.

Masa kini, ukuran keberhasilan seseorang sering dikaitkan dengan keberhasilan dalam karir pekerjaan dibandingkan dengan keberhasilan yang sifatnya non materi seperti kehidupan keluarga yang harmonis.
Keberhasilan dalam karir juga menuntut orang untuk bekerja lebih keras dan banyak menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan, sehingga boleh dikatakan tidak ada waktu untuk keluarganya.

Dalam kurun waktu yang lama, akan terakumulasi berkurangnya waktu untuk anak istri, berkurangnya canda dan tawa, berkurangnya belai kasih orang tua, dan yang lebih fatal lagi.....berkurangnya bimbingan rohani dari orang tua. Kondisi inilah yang akhirnya menciptakan generasi tanpa kasih sayang, generasi yang egois, generasi yang serba instan.
Dan terciptanya keluarga yang harmonis hanya impian, yang terjadi keluraga yang berantakan, bahkan bisa diakhiri dengan perceraian atau hancurnya masa depan anak-anak.

Karir seseorang sangat bervariatif, kadang bisa melesat dengan cepat mencapai puncak karir, namun kadang bisa turun lalu naik lagi. Tidak banyak berpengaruh secara signifikan terhadap diri pribadi dari orang tersebut karena ada kesempatan untuk maju, ada kesempatan untuk belajar, ada kesempatan untuk memperbaiki diri sejalan dengan berlalunya waktu.
Terlebih lagi bila orang itu sangat tahan banting, maka proses naik atau turun dalam karir tidak menjadi masalah, bahkan dapat diibaratkan sebagai bola karet yang kuat, lentur dan tahan banting.
Ya..., karir seseorang memang dapat dibaratkan seperti bola karet yang bisa naik atau turun tanpa banyak mengalami kerusakan.

Namun sebaliknya, keluarga yang harmonis dapat diibaratkan seperti bola kristal yang indah. Nilainya sangat mahal, namun sebanding dengan keindahannya dan harus dijaga dengan sangat hati-hati agar tidak pernah jatuh kelantai. Sekali jatuh maka akan terjadi kehancuran yang sangat hebat.
Dalam keluarga bila tiada canda tawa, tiada kasih, tiada perhatian, tiada sapa dan tiada pelukan..... keluarga tersebut bukan lagi sebagai bola kristal, karena sudah ada cacat-cacat dari pecahan kecil yang terjadi berulang kali.

Pilihan sangat tergantung dari kita masing-masing, masihkah tetap menjadi bola karet yang tahan banting, lentur dan flexible tetapi mengabaikan bola kristal rumah tangga? Atau menjaga bola kristal rumah tangga dengan sedikit mengurangi kelenturan bola karet?

Tanpa terasa malam itu menjadi terasa hangat di hati, dan terucap syukur kepada Yang Maha Kasih karena hal ini mengingatkan kembali apa sebenarnya tujuan hidup kita?

Friday, September 08, 2006

Burung Rajawali

Berbagai macam burung memiliki karakteristik yang sangat berbeda, satu diantaranya yang menarik bagi saya adalah burung rajawali.
Gagah, perkasa dan memiliki sorot mata yang tajam, seakan padangannya dapat langsung mengujam tajam, mampu terbang tinggi, membangun sarang ditempat yang tinggi dan aman, dan dengan cakar yang kuat serta sayap yang lebar menambah kegagahannya.
Namun bukan hanya secara fisik saja, ada satu hal yang bisa saya contoh dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu rajawali selalu siap menghadapi badai atau angin yang besar dengan mengembangkan sayapnya. Dengan tenang dan pasti, ketika angin badai datang, rajawali selalu siap menghadapinya, ketika sayapnya dikembangkan..... rajawali akan membumbung lebih tinggi,
tidak terbawa oleh badai atau angin yang besar.
Sayapnya mengembang seakan dia berkata " kan kuhadapi angin kencang dengan sayapku yang terkembang", kan ku naiki angin kencang untuk membawaku ketempat yang lebih tinggi.
Seandainya angin kencang datang, lalu rajawali menutup sayapnya seperti ketika dia akan menerkam mangsanya...., rajawali pasti terhempas dan hancur di tanah.
Apa yang dapat dipelajari dari rajawali?
Ketika badai kehidupan, atau angin ribut yang datang melanda kehidupan kita, contohlah seperti rajawali yang siap dan tenang untuk menghadapi tantangan itu, bukan melarikan diri dengan menutup sayap, tapi buka dan kembangkan sayap agar dapat menyelesaikan tantangan dan menang! Sehingga kita bisa menapak lebih tinggi lagi dalam tataran kehidupan.
Tantangan kehidupan bukan untuk dihindari, tetapi untuk dihadapi dan dijalani, yang akhirnya akan memberikan manfaat pada kematangan pribadi, terlebih lagi bila selalu meminta pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kasih.
Belajarlah pada burung rajawali.

Tuesday, February 21, 2006

Green Canyon Pangandaran

Biasanya orang akan langsung membayangkan tempat yang nun jauh di Louisiana, bila mendengar "Green Canyon". Tetapi yang ini ternyata tempatnya dekat dengan Pangandaran, sekitar 30 km kearah Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang.
Memang terkadang banyak diantara kita lebih banyak menikmati pantai di Pangandaran dan menikmati lesatnya seafood yang segar, dibandingkan harus sedikit berpetualang untuk menengok green canyon ini.

Saya sendiri tertarik untuk mengunjungi green canyon ini karena rasa penasaran dan terlebih lagi ketika melihat foto green canyon di sebuah ruangan di hotel kami menginap.
Dengan berbekal rasa penasaran, kami menuju ke lokasi green canyon setelah sarapan pagi, supaya bisa sekalian singgah dibeberapa tempat wisata lainnya.

Singkat cerita, ketika sampai ditempat "terminal perahu kayu", yang akan mengantar kami ke green canyon, kami sempat sedikit khawatir, mengingat semalam hujan turun cukup lebat.
Mudah-mudahan air sungai tidak banjir. Kami lihat berjejer secara rapi dan indah warna-warni perahu yang disandarkan menunggu giliran untuk mengantar wisatawan.

Kami menyewa satu perahu, cukup untuk lima penumpang, sementara perahu dijalankan oleh dua orang awak.Faktor keselamatan sangat diperhatikan oleh para awak, penumpang diminta untuk menggunakan jaket penyelamat.
Perahu kecil secara perlahan mulai berjalan melawan arus, awalnya ada rasa was-was, namun lama kelamaan terasa asyik mulai menelusuri sungai yang berliku.
Sepanjang tepi aliran sungai, dapat dinikmati hijaunya pepohonan yang cukup besar, tidak nampak adanya penebangan liar di sini. Hal ini disebabkan adanya kerjasama yang baik antara PEMDA dengan warga sekitar yang bermukim di dekat aliran sungai, sehingga suasana hutan masih terasa, meskipun sebenarnya dalam jarak puluhan meter dari sungai ada perkampungan.

Setelah perahu berjalan lebih dari 10 menit, kami berpapasan dengan wisatawan lain yang sudah balik dari green canyon, ya.... ternyata sudah ada yang lebih dahulu menuju kesana.
Ketika kami tanyakan kepada awak perahu mengenai pengunjung, diceritakan kalau pada musim hujan biasanya agak kurang, tetapi bila musim kemarau dan bertepatan dengan liburan sangat banyak. Bahkan ketika mau memasuki atau keluar dari lokasi greeen canyon harus bergantian.

Tak terasa kami sudah mendekati lokasi, dari kejauhan terlihat terowongan yang cukup besar, dan derasnya air yang turun dari dinding terowongan.
Rasa penasaran semakin besar, terlebih lagi ketika ketika mulai memasuki lorong yang cukup tinggi dan gemericiknya air yang terjatuh dari atap terowongan. sangat menakjubkan !
Perlahan perahu memasuki terowongan untuk menghindari batuan yang cukup besar ditepi sungai.
Rasa penasaran terobati ketika berhasil turun dari perahu, meloncat ke bebatuan yang memisahkan aliran sungai dibawah dengan bagian diatas. Dari tempat ini bisa melihat lebih jelas keluar terowongan kearah hulu ..... dinding yang menjulang tinggi dipenuhi dengan tumbuhan hijau..... tetesan air dan nuansa serba hijau... ya.. sesuai dengan namanya green canyon....

Tidak rugi rasanya kalau harus bersusah payah untuk menuju lokasi ini.... karena sangat sebanding dengan suasana dan pemandangan sekitar green canyon.

luar.... biasa.

Rindu

ketika hujan turun
rindu aku untuk merasakan dinginnya air di tanganku yang menengadah

ketika hujan jatuh dirumput
rindu aku menerawang indahnya kemilau butir embun

ketika rumput dipotong
rindu aku pada oroma rumput hijau

ketika butir-butir embun jatuh di tanah
rindu aku bermain lumpur seperti masa kecilku
rindu aku menjejakkan kaki telanjang dipematang sawah

ketika mentari bersinar
rindu aku melihat secercah sinar yang menembus rumpun bambu

ketika mentari memuncak
rindu aku berteduh dibawah buaian cemara hijau

ketika mentari tenggelam
rindu aku menatap lembayung senja

ketika malam menjelang
rindu aku mendengar simphony katak, kicau burung malam dan derik jangkrik

ketika tengah malam
rindu aku padaMu Yang Maha Kasih,
rindu kupanjatkan dalam doa, syukur untuk hari yang Kau beri.

Indah dan tepat pada waktunya

Jalan hidup setiap orang tidak akan pernah ada yang sama
Cita-cita yang telah diimpikan, akan bisa terwujud namun juga bisa sebatas impian saja.
Semua dicapai dengan usaha dan doa
Terkadang seseorang berharap untuk memperoleh sesuatu, yang menurutnya adalah terbaik.
Namun ketika pada kenyataan, berbeda dengan yang diharapkan, sering terjadi rasa kesal, uring-uringan bahkan bisa jadi marah.

Secara manusiawi, wajar bila itu terjadi.
Impian yang selama ini diinginkan, dan telah dibarengi dengan usaha keras juga disertai doa tentunya.
Namun kenyataan jauh dari yang diharapkan.
Apa yang sebenarnya baik menurut pribadi manusia, belum tentu sesuai dengan kehendakNya.

Harusnya kita bisa menerima segala keadaan, karena semuanya tidak terjadi dengan kebetulan.
Bersyukurlah untuk segala keadaan, karena kita tidak pernah tahu hikmat yang ada dari setiap kejadian itu.
Ketika waktu mulai berlalu, biasanya pikiran jernih akan muncul dan menjadi tahu apa sebenarnya makna atau hikmat dari kejadian tersebut. Dan yakinlah bahwa hal itu terjadi pasti akan membawa kebaikan bagi diri kita.

Tuhan Yang Maha Tahu, akan memberikan sesuatu kepada umatnya pada saat yang tepat dan indah pada waktunya. Tinggal bagaimana kita mau untuk mampu memahami setiap kejadian yang merupakan kehendakNya. Dekat dengan Tuhan dan berserah kepadaNya akan membuat kita menjadi orang yang senantiasa bersyukur dan berpikiran positif terhadap setiap kejadian yang menimpa kita.
Smoga

Wednesday, December 14, 2005

Hujan

Ketika musim kemarau panjang berakhir…..,
Ditandai dengan datangnya awan hitam, semua orang akan memanjatkan syukur, karena kekeringan, panas terik, juga bencana kebakaran akan segera berakhir.
Titik-titik air yang turun dari langit seakan menghilangkan rasa gerah, haus dan akan menyejukkan hati di bumi ini.
Gerimis kecil diakhir musim kemarau akan menjadi berita yang besar ditempat yang mengalami kekeringan.
Gerimis secara pasti akan menjadi hujan yang membuat semua orang akan bersuka cita.
Hujan adalah anugerah bagi semua orang, untuk orang yang benar juga bagi orang yang salah.

Menginjak di akhir tahun, hampir seluruh daerah mengalami hujan yang cukup deras, terkadang dari pagi sampai esok harinya masih terjadi hujan dan seolah matahari enggan memancarkan sinarnya terhalang awan gelap.

Petani bersuka cita menyambut hujan untuk memulai masa tanam yang baru, tanah yang kering kerontang menjadi gembur dan mulai kelihatan hijau karena rumput telah tumbuh.
Di sisi lain, mulai banyak orang yang mengeluh karena hujan, karena harus siap mengungsi bila hujan besar akan terjadi banjir, jalanan macet karena lampu lalulintas tidak berfungsi, juga genangan air ada dimana-mana.
Sementara ada juga orang-orang yang tidak ambil pusing dengan hujan, karena tidak terpengaruh dengan hujan.

Hujan bagi sebagian orang identik dengan penderitaan, karena ancaman banjir dan longsor. Tidak sepenuhnya penderitaan itu sebagai akibat dari perilaku mereka, tetapi lebih banyak disebabkan oleh orang lain yang terlalu rakus secara duniawi karena penebangan hutan liar untuk memperoleh keuntungan yang besar, atau memanfaatkan lahan dengan tidak benar, seperti pembangunan perumahan, villa di tempat yang semestinya hanya diperuntukan sebagai tangkapan hujan.

Kemacetan dijalan raya karena banjir, yang lebih diakibatkan tidak tersedianya saluran pembuangan di kota, saluran/ got yang tertutup bangunan, dan yang menyedihkan lagi.... upaya untuk penyerapan anggaran dengan membuat saluran/ got dimusim hujan (membangun saluran air di musim hujan, sebenarnya suatu pekerjaan yang tidak masuk akal, tapi setiap tahun selalu terjadi), jalan menjadi sempit karena separuh badan jalan ditutup, dibongkar untuk dibuat saluran.
Mengapa tidak memperbaiki dan membuat saluran dimusim kemarau?
Betapa runyamnya perencanaan pembangunan saluran yang tidak memperhatikan waktunya, dan biasanya kualitasnya juga sepadan dengan perencanaanya. Sangat menyedihkan.

Terlebih lagi bila hujan sudah mulai mengguyur di pagi buta, sementara lokasi kerja atau tempat sekolah jauh dari rumah, dan rute yang harus dijalani selalu banjir dan macet, sungguh menjadikan hari itu menjadi kurang menyenangkan,

Lengkaplah sudah, kegalauan, kegelisahan, kekhawatiran dan penderitaan yang harus dihadapi oleh banyak orang karena hujan.
Kejadian ini selalu berulang setiap tahun, sementara untuk bisa mengembalikan alam seperti semula, sangat sulit untuk dilaksanakan, terlebih lagi bila tujuan untuk menumpuk materi sudah bermaharajalela maka keseimbangan alam menjadi sekedar angan-angan.

Tidak lagi bisa dinikmati jatuhnya rintik hujan yang membasahi bumi, baik tumbuhan, binatang juga manusia menjadi gelisah ketika hujan tercurah.

Lirik lagu anak-anak akan bisa berubah ” Tik tik tik bunyi hujan diatas genting, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok daun dan ranting, pohon dan kebuh basah semua” menjadi kota dan desa banjir semua.
Pohon dan kebun sudah tidak ada, alam sudah rusak dan menyebabkan banjir dimana-mana.

Bisakah kita semua membantu mengurangi banjir?
Ya, pasti ! antara lain, jangan buang sampah disaluran air, jangan membangun dibantaran sungai, membuat sumur resapan, jangan membangun rumah atau beli rumah dilereng bukit dan banyak lagi yang bisa dimulai dari diri kita.

Sedia payung sebelum hujan, karena sekarang musim hujan
dan jangan lupa bersyukurlah semasih ada hujan yang turun karena hujan itu berkah.

Bandung, 15 Desember 2005

Sunday, December 11, 2005

MENENGOK KE MASA DEPAN

Ritual tahunan, selalu terjadi ketika mulai mendekati akhir tahun.

Detik, bergulir ke menit,
Menit berjalan ke jam,
Jam melompat ke hari,
Hari berlari ke bulan dan ....
mencapai ke penghujung tahun.
Waktu berulang secara teratur
dari awal tahun ke akhir tahun
semua sama dan tidak ada yang berubah.

Bagi banyak orang, mendekati akhir tahun digunakan untuk introspesksi diri sebagai bekal untuk menyongsong tahun yang baru.
Apa saja yang telah kita lakukan selama tahun ini, dan apa saja yang telah dicapai hingga akhir tahun?

Sudahkah kita mampu membagi waktu dengan adil, untuk pekerjaan, untuk keluarga dan untuk ibadah?
Sudahkah kita mampu untuk memanfaatkan rejeki yang kita terima dengan benar?
Sudahkah kita selalu mensyukuri atas nikmat yang kita terima?
Sudahkah kita mampu memenuhi target yang dibebankan perusahaan?
Atau mungkin kita bercermin kepada kegagalan-kegagalan yang telah terjadi, sehingga lebih paham akan kekurangan-kekurangan kita?

Masing-masing dari kita mempunyai pandangan yang berbeda mengenai sejarah yang kita lalui sepanjang tahun ini.
Jika kita selalu berpikir positif, maka yang ada dalam benak kita adalah rasa syukur atas apa yang telah kita jalani.
Sebaliknya bila selalu berpikir negatif, maka kekecewaan akan terpendam dalam hati kita.

Keberhasilan yang kita capai maupun kegagalan yang kita terima, sudah lewat dan biarlah itu menjadi sejarah, dan tidak perlu lagi kita bawa kemasa depan, karena tidak akan pernah terulang lagi.

Meniti dipenghujung tahun, ibarat mengupas tuntas keberadaan kita, sisi hidup kita, yang orang lain mungkin tidak pernah tahu, hanya diri kita yang tahu. Apakah hasil instrospeksi diri ini akan kita manfaatkan sebagai bekal menyongsong tahun baru?
Hampir semua orang akan menjawab : ya, karena akan dapat dipakai sebagai awal pijakan untuk meloncat ke tahun berikutnya yang penuh dengan ketidakpastian.

Apakah yang akan terjadi ditahun mendatang?
Apakah kita akan dapat melalui tahun mendatang ?
Apakah kita akan memetik keberhasilan ditahun mendatang?
Apakah karir kita akan lebih baik ditahun mendatang?
Tidak ada jawaban yang 100% mampu menjawab secara tepat.

Namun diatas ketidakpastian dan kabut kehidupan yang harus kita tembus di tahun yang akan datang, pasti ada satu pengharapan. Pengharapan untuk memasuki tahun yang baru, menjalani dan melalui tahun depan dengan harapan lebih baik dari tahun ini.

Pengharapan itu bukan berpijak pada keyakinan diri atas kemampuan kita selama ini, tapi keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Kasih akan senantiasa menolong dan membimbing kepada setiap umatNya yang selalu bersandar kepadaNya.
Manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang menentukan.

Tengoklah pengharapan dimasa yang akan datang, bahwa kedamaian dan sukacita selalu dijanjikan dan ditepati oleh Tuhan Yang Maha Kasih, kepada siapapun yang selalu berserah kepadaNya.

Meniti waktu dipenghujung tahun.....
mengajak kita untuk menatap kemasa depan
masa depan yang penuh ketidakpastian.
Ketidakpastian akan membuat orang ragu,
Keraguan akan membuat orang takut
Ketakutan akan membuat orang tidak bertindak.

Tataplah masa depan dengan penuh pengharapan
Karena pengharapan akan membuat orang menjadi teguh
Keteguhan akan membakar semangat
Semangat akan membuat kita berani melangkah....
Melangkah dengan pasti berbekal tuntunan Ilahi.

Bandung, 12 Desember 2005

HANYA MENYENANGKAN HATINYA ....

Nyanyian kanak-kanak sewaktu saya masih kecil dan hingga sekarang yang selalu membekas dalam hati adalah syair lagu :
“Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia
Pada saat saya kecil, hanya sekedar menyanyi dan belum memahami akan arti dari kata-kata tersebut. Namun setelah beranjak dewasa, saya sangat kagum kepada pencipta lagi ini, betapa dalam makna yang tersirat dari lagu ini tentang kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya.

Siapakah yang mampu memelihara dengan tulus, sehingga seorang anak dapat tumbuh berkembang dengan baik? Siapakah yang mampu membimbing dan mengarahkan dalam menjalani tantanganan hidup ini? Siapakah yang selalu menanti kala kita pulang kerumah semasa masih remaja? Siapakah yang selalu memeluk dengan penuh kasih kala kita sakit? Hanya seorang ibu yang mampu untuk berbuat itu semua.

Sepanjang hidupnya, ibu selalu bersedia berkorban untuk anak-anaknya hingga mampu untuk hidup mandiri. Bahkan ketika anak sudah dewasa dan berkeluarga, ibu akan selalu setia mengunjunginya terlebih lagi setelah ada cucu yang dikasihinya.
Apapun yang ibu miliki seperti waktu, tenaga, perasaan, bahkan juga materi, akan diberikan kepada anaknya agar anaknya bisa hidup damai dan bahagia. Itulah cita-cita luhur setiap ibu yang berharap bahwa anak-anaknya akan dapat hidup dengan damai dan berguna bagi sesamanya.

Apakah ibu mengaharapkan balasan dari anak-anaknya? Tentu tidak !
Seperti syair lagu diatas, dang ibu ”bagai sang surya menyinari dunia”, seperti matahari yang setia terbit dari timur, memberikan terang, kehangatan, panas yang selalu dinantikan oleh semua mahluk hidup.
Begitu setianya ibu kepada anak-anaknya, selalu tercurah kasih sayang, perhatian dan segala keperluan anaknya, tanpa mengharap balas jasa.

Ketika anak-anak menginjak masa remaja, kemudian dewasa. Sikap memberontak mulai muncul karena menghadapi masa puber, merasa sudah mampu untuk melakukan sesuatu tanpa harus minta bantuan kepada ibu. Terlebih lagi adanya kesenjangan baik pendidikan maupun lingkungan yang sudah berbeda dengan masa lalu, membuat pandangan anak-anak banyak berseberangan dengan pandangan ibu.
Memang tidak sepenuhnya anak-anak keliru, karena jaman yang sudah berubah, namun akan lebih baik bila perbedaan pandangan menjadi pembuat jarak antara ibu dengan anak.

Ketika sudah dewasa dan secara ekonomi mapan, banyak pandangan yang lebih bersifat materialistis mengenai bagaimana mengasihi ibu. Karena alasan sibuk, maka lebih banyak orang hanya mengirim uang secara teratur dalam jumlah yang lebih dari cukup dengan anggapan ibu akan senang bila memperoleh kiriman uang. Sementara jarang sekali mengunjungi ibunya secara khusus, atau mengajak ibunya untuk bersama dirumahnya.
Mungkin yang ada dalam benak anak itu adalah bila mengirim uang maka akan dapat membalas budi ibunya, karena secara materi anaknya memang sangat mencukupi.
Berapapun materi yang diberikan kepada ibunya, tidak mungkin untuk membalas kebaikannya.
Adakah yang bisa mengitung secara materi mengenai pengorbanan seorang ibu, mulai dari masa mengandung, melahirkan, memelihara ketika masih bayi, bangun malam hari hingga pagi untuk menyusui, mengganti popok yang basah, kemudian ketika mulai belajar jalan, mulai sekolah hingga menghantar sampai ke pelaminan untuk siap membentuk keluarga yang baru.
Jelas tidak akan mungkin kita membalas kebaikan ibu, apalagi bila dihitung secara materi.

Apa yang mungkin kita lakukan untuk ibu?
Hanya dengan menyenangkan hati ibu, maka ibu akan merasa bahagia terhadap perilaku anaknya.
Sikap patuh, senyuman yang tulus, menemani berbicara atau bercerita, menjenguk ibu secara khusus seperti masa lebaran atau natal atau hari-hari istimewa lainnya bagi ibu.
Perhatian-perhatian kecil yang menyenangkan, seperti misalnya makanan kecil kesukaan ibu, syal, sapu tangan, tas atau sandal yang harganya juga tidaklah mahal, tetapi hal itu disukai oleh ibu.
Atau mungkin mengajak jalan-jalan bersama, ketempat yang disukai ibu. Semua itu bila dibandingkan dengan kiriman uang yang besar setiap bulan, mungkin tidak ada artinya, namun bila ditinjau dari sudut non materi, hal ini akan berdampak besar bagi ibu karena akan mampu menyenangkan hatinya.
Hanya sebatas menyenangkan hati ibu, yang bisa kita lakukan selaku anak-anaknya, karena untuk membalas kebaikannya kita tidak akan pernah mampu melakukannya, dan perlu diingat ibu seperti matahari yang tidak pernah berharap ada balas budi.

Apabila saat ini, pembaca masih diberi kesempatan untuk menyenangkan hati ibu, lakukanlah sekarang karena ketika ibu sudah pulang ke pangkuanNYa, kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk menyenangkan hatinya.

Ibu, aku kangen pelukanmu
Ibu, aku kangen belaianmu
Ibu, aku kangen usapan tanganmu dikepalaku
Ingin kutumpahkan tangis dan rinduku dipangkuanmu.

Bandung, 12 Desember 2005

Wednesday, December 07, 2005

Negeri 1001 Slogan

Ketika masih kanak-kanak, sering saya dengar juga saya baca tentang dongeng seribu satu malam. Diantaranya cerita mengenai Aladin dan lampu wasiatnya, atau tentang cerita Abunawas.
Cerita itu sangat menarik dan sangat membekas dalam ingatan saya sampai sekarang. Kebaikan vs keburukan, Kejujuran vs kebohongan, kepandaian vs kebodohan dan semuanya jelas serba hitam dan putih.
Tanyakan kepada anak-anak kita tentang dongeng negeri 1001 malam, dijamin mereka tidak akan tahu karena sudah terlalu asyik dengan tayangan film anak-anak ditelevisi, juga permainan game yang sangat menarik. Namun dari segi pendidikan boleh dikatakan tayangan tersebut tidak sepenuhnya mendidik anak-anak kita.

Ketika kita dewasa, mulai jaman kuda gigit besi, masa pembangunan, masa reformasi hingga saat ini, hampir setiap hari selalu mendengar, membaca atau bahkan mengucapkan slogan atau jargon untuk maksud tertentu.
Slogan atau jargon sebenarnya merupakan alat untuk mempermudah atau memperlancar suatu proses aktivitas dan pencapaian tujuan yang diharapkan mudah dimengerti oleh banyak orang dan diharapkan dapat melaksanakan sesuai dengan tujuan slogan tersebut.
Namun pada kenyataan, slogan hanya terpasang dan tujuan tidak pernah tercapai. Menyedihkan.

Benarkah negeri ini adalah negeri 1001 slogan?
Hitunglah berapa banyak hari peringatan nasional, sebanyak itu pula slogan selalu terpasang dan dikumandangkan sesuai dengan temanya.
Hitunglah berapa banyak program pemerintah dari pusat hingga sampai daerah, maka sebanyak program tersebut slogan yang dimunculkan.
Hitunglah berapa kali ganti presiden, berapa kali ganti kabinet, maka sebanyak pergantian itu pula slogan akan berganti.
Hitunglah berapa kali proses pemilihan umum, berapa partai yang ikut, maka sebanyak kontestan disetiap pemilu akan meluncurkan slogan yang indah dan sangat sedikit yang terealisir.

Berbagai slogan telah diluncurkan.... dan biasanya diawali kata ”Dengan ......” sebagai contoh:
”Dengan semangat ......”
”Dengan program .....”
”Dengan pengamalan..................”
”Dengan Gerakan ......”
Saya tidak tahu, apakah slogan-slogan itu sudah menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang benar atau tidak.
Namun seingat saya ketika mulai belajar menulis, atau membuat kalimat rasanya belum pernah diajari menulis kata yang diawali kata ”dengan ....” Lha payahnya, kalau kaidahnya sudah salah... apalagi pelaksanaannya.

Tentunya masih ingat ketika diluncurkan program Gerakan Disiplin Nasional (GDN), banyak kader yang dipilih untuk membantu program tersebut. Slogan ”Dengan GDN kita wujudkan ........”, bergema dari Sabang sampai Merauke.
Para kader memakai jaket oranye dan tertulis GDN banyak bertebaran dimana-mana, membantu menertibkan pedagang kaki lima, pedagang asongan, pengemudi angkotan kota.
Tetapi adakah kader GDN yang membantu untuk menertibkan perilaku para aparat pemerintah, orang-orang yang memiliki kekuasaan, membantu tertib administrasi, tertib aturan, tertib hukum, tertib pajak, tertib anggaran.
Sama sekali tidak menyentuh hal yang hakiki, programnya berjalan dengan sukses, beli seragam GDN namun hasilnya lebih memberatkan rakyat kecil yang diuber-uber kader GDN.

Atau mungkin masih ingat slogan ”Dengan program wajib belajar .....”, diharapkan semua anak-anak usia sekolah dapat memperoleh pendidikan gratis....(katanya...). Program berjalan, dana pendidikan sudah turun, tapi nggak tahu turun sampai dimana.....
Jumlahkah yang menjadi tujuan atau kualitaskah yang diharapkan? Nyatanya sekarang banyak anak putus sekolah, dan kualitaspun tidak seperti yang diharapkan.

Masih banyak terjadi bahwa satu slogan meluncur dan belum jelas hasilnya, kemudian sudah meluncur slogan lainnya.

Apakah kita juga termasuk orang yang suka meluncurkan slogan?
Jika kita ambil bagian dalam meluncurkan slogan, tanyakan adakah dampak positif dari slogan tersebut.
Jika kita tidak pernah membuat slogan, lebih baik kita melakukan kegiatan nyata yang membawa dampak positif bagi negeri ini, meskipun sangat kecil dan dimulai dari diri sendiri, akan lebih bermanfaat dari pada 1001 slogan yang tidak jelas hasilnya.

Salam dari anak negeri 1001 slogan.

Tuesday, December 06, 2005

OLAHRAGA

Hidup sehat, bagi sebagian orang sudah menjadi gaya hidup karena kesehatan menjadi hal yang sangat penting bagi setiap orang agar dapat melakukan aktivitas sehari-hari, tanpa ada hambatan karena masalah kesehatan.
Berbagai upaya dilakukan oleh banyak orang antara lain, dengan program hidup sehat, pengaturan pola makanan, dan tentu saja harus didukung dengan olah raga yang teratur.

Di sisi lain, banyak pula orang yang tidak sempat melakukan olah raga karena tuntutan kesibukan sehari-hari, harus berangkat kantor pagi hari dan pulang malam hari. Selain itu juga keterbatasan fasilitas olah raga diberbagai tempat karena ruang terbuka atau taman yang dulunya biasa digunakan untuk olah raga sudah lenyap, tergantikan dengan mal dan bangunan lainnya.

Berubahnya pola hidup jaman sekarang yang serba nyaman, seperti tersedianya sarana angkutan, kendaraan pribadi, lift dan eskalator, semuanya membuat berkurangnya aktivitas phisik seseorang. Di sisi lain, pola makan juga menjadi tidak baik, ketika harus dihadapkan pada pilihan makanan fast food yang bergizi buruk.

Apabila pola hidup seperti itu tidak diimbangi dengan olah raga, maka akan muncul banyak masalah kesehatan, mulai dari kolesterol, asam urat dan merembet yang lebih berat lagi seperti tekanan darah tinggi, jantung koroner, diabetes …., dan masih berderet kenis penyakit yang bisa muncul.

Olahraga, bisa dilakukan diberbagai tempat dan situasi, bisa murah bisa sangat mahal, bisa sebentar bisa sangat lama. Tinggal kita memilih sesuai dengan kondisi yang sesuai, baik dari segi waktu, sarana maupun biaya.


Banyak orang yang ingin berolahraga, tapi hanya sedikit yang melakukannya. Sebenarnya masalah berolahraga itu terkait dengan “hati dan kaki” . Keinginan berolahraga ada, tetapi tidak pernah dilakukan karena tidak mau melangkahkan kaki, sehingga olahraga hanya menjadi angan-angan saja. Juga sebaliknya, ketika keinginan kaki untuk memulai olahraga tetapi ditidak didukung dengan hati, secara fisik memang berolah raga tapi dengan hati yang tertekan tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Sebagai contoh, ketika rekan sekerja banyak yang hoby golf, sementara kita tidak atau belum bisa menikmati, maka ketika selesai bermain golf yang diperoleh rasa capex, dan tidak ada suasana hati yang senang karena terpaksa. Atau karena teman sekerja banyak yang ke fitness, rasanya nggak gaul kalau tidak bergabung di fitness, padahal kita sangat senang jogging ditempat terbuka.

Hati dan kaki, menjadi modal untuk memulai olah raga, dimanapun dan kapanpun bisa dilakukan.
Jika anda terlalu sibuk, dan banyak menghabiskan waktu untuk perjalanan pergi-pulang kantor, cobalah untuk berjalan kaki lewat tangga, jangan menggunakan lift.
Jika anda punya waktu disore hari karena menghindari macet, kunjungilah fitness center, atau berolah raga dilingkungan kantor.
Jika anda harus mengantar anak sekolah pagi hari, sementara jam masuk kantor masih lama, anda bisa jalan kaki atau joging di lingkungan kantor setelah mengantar anak sekolah.
Jika anda memiliki banyak waktu, dan juga ingin membangun relasi, anda bisa memilih menjadi member di sport center atau oalah raga lainnya.
Jika anak-anak mengajak renang di akhir pekan, anda bisa bergabung berenang bersama dan menikmati keceriaaan keluarga.

Jadi, lakukanlah olahraga secara teratur dengan berbagai pilihan yang sesuai dengan keinginan anda, dan tentunya lakukan olahraga dengan hati dan kaki, sehingga diperoleh badan yang sehat dan hati yang senang.

Semoga kita bisa berolah raga secara teratur.

Monday, December 05, 2005

Siapkah menghadapi perubahan ?

Dalam kehidupan manusia, selalu ada perubahan dan perubahan itu terjadi sejalan dengan bergeraknya waktu.
Perubahan yang dihadapi bisa berdampak langsung dan fatal, namun juga mungkin berdampak positif bagi yang siap untuk menghadapi perubahan.
Sering orang berpandangan yang berbeda mengenai dampak perubahan. Ada yang khawatir dan cemas, ada yang masa bodoh, ada pula yang "nrimo ing pandun" karena segala sesuatu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Hadapi perubahan dengan kesiapan yang benar sambil senantiasa pasarah kepada Yang Maha Kuasa, karena Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi umatNya bila senantiasa bersandar pada Nya, bukan pada kemauan diri sendiri.

Perubahan akan selalu terjadi, dan kita harus menghadapinya

Thursday, December 01, 2005

BELAJAR PADA SEMUT ??


Alam yang diciptakan oleh Tuhan Sang Pencipta, begitu indah, nyaman, teratur dan sempurna.
Namun banyak manusia yang tidak pernah merasakan begitu indahnya alam ini, karena terbenam dalam berbagai kesibukan sehari-hari, bahkan tidak pernah mensyukuri keindahan yang ada dialam ini.
Ketika panas menerpa di siang hari, yang ada keluh kesah mengapa hari ini terasa begitu panas? Ketika turun hujan, banyak orang mengeluh mengapa harus hujan?.
Panas dan hujan diturunkan untuk maksud yang baik bagi alam ini, bagi semua orang tak terkecuali untuk orang yang baik maupun orang yang jahat.
Panas dan hujan pasti memberikan manfaat, tinggal bagaimana kita mau memahami dan belajar dari alam ini.

Banyak hal yang terjadi dialam ini yang sebenarnya memberikan kesempatan bagi semua orang untuk memahami, menghayati dan belajar dari alam.
Namun kepekaan itu semakin pudar, sehingga yang banyak terjadi adalah ”mengakali” alam ini untuk dijadikan sarana tujuan hidupnya. Hutan ditebang, tanah digali, mata air dikuasai demi untuk kepuasan duniawi. Ibarat seorang yang merasa kehausan, dihilangkan kehausan itu dengan segelas air laut, sehingga menambah rasa haus lagi. Itulah kehidupan jaman ini.

Alam bukan lagi menjadi sahabat, sehingga banyak hal kecil yang terabaikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya semut, seolah tidak bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Masih sempatkah anda melihat semut beriringan di dahan atau di pagar rumah?
Atau mungkin sudah terlalu lama tidak pernah melihat semut beriringan? Atau mungkin merasa marah ketika melihat semut beriringan dihalaman rumah dan langsung menyemprotkan insektisida?

Bila anda telah lupa karena tidak pernah melihatnya, cobalah sekali waktu tengok halaman rumah, teliti pagar rumah atau pohon disekitar rumah.
Bila ada semut beriringan, amatilah dengan seksama, dengan hari jernih bukan membunuhnya.

Apa yang dapat anda pelajari dari semut binatang kecil yang lemah ?

Semut selalu berjalan teratur dijalurnya, tidak seperti manusia yang sering melanggar jalur untuk hidupnya.
Semut selalu beriringan dan memberi jarak bagi yang lain, ada rasa teposliro, tidak seperti manusia saat ini yang sering menginjak atau melukai lainnya untuk keberhasilannya.
Semut selalu menyapa yang ditemuinya, tidak seperti manusia yang menyapa karena melihat ”wajah”, kepada siapa yang layak untuk disapa, dan membuang muka bila tidak menginginkannya.
Semut selalu rukun dengan sesamanya, namun kebencian dan pertengkaran selalu ada dalam kehidupan manusia.
Semut selalu bekerja keras, menghimpun makanan sedikit demi sedikit dengan teratur, tidak seperti jaman sekarang, manusia banyak mengambil jalan pintas untuk menumpuk kekayaannya, dengan berbagai cara.
Semut selalu bergotong royong ketika harus memindahkan beban yang berat, seia sekata ”berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”, tidak seperti jaman sekarang, biar orang lain bekerja, kita menikmati hasilnya.
Semut selalu mengerti kapan harus bekerja, dimusim panas semut mengumpulkan makanannya, untuk menyambut musim hujan. Namun di jaman ini waktu seakan habis untuk bekerja, tanpa mengenal siang malam.

Betapa indahnya keteraturan, sapaan, kerukunan, kerja keras, gotong royong dan mampu memahami dan memanfaatkan waktu secara tepat seperti layaknya kehidupan semut dalam alam ini.

Janganlah merasa malu untuk belajar pada semut, karena belajar pada semut akan membuat anda lebih bijaksana.

Semoga

HOME SWEET HOME ???

Kebanyakan orang ketika memulai meniti hidupnya dalam rumah tangganya, akan memiliki impian masing-masing dan dalam jangka menengah kebutuhan pokoknya akan diupayakan. Sandang, pangan dan papan menjadi tujuan awal sehingga dalam mengarungi kehidupan berumah tangga akan dapat menikmati rumah sendiri, bukan di rumah pondok mertua.
Berbagai upaya dilakukan dengan kerja keras, berhemat dan komitmen bersama untuk menggapai impian memiliki rumah sendiri, meskipun harus mengangsur melalui KPR. Sebuah impian yang indah, rumah sendiri yang nyaman, enak dan damai untuk bercengkerama dengan keluarga, meskipun dalam ukuran rumah sederhana namun seluruh penghuninya merasa nyaman ketika berada dirumah, bahkan merupakan tempat yang paling nyaman dibanding hotel berbintang sekalipun. Impian yang sederhana……home sweet home.

Seirama dengan berjalannya waktu, maka anggota keluarga bertambah dan anak-anak menjadi semakin besar menginjak remaja, karir orang tua juga melesat cepat karena memang memiliki dedikasi tinggi dan mampu untuk mengimbangi perubahan jaman. Secara ekonomi sangat mapan, rumah juga sudah bertambah, kendaraan juga tersedia, tabungan juga ada.
Sepintas orang luar melihat bahwa keluarga tersebut berhasil (karena parameter keberhasilan saat ini lebih diukur dari sifat keduniawian saja).
Orang lain melihat bahwa rumahnya sangat indah, megah, nyaman dan asri karena penataan taman dan bunga-bunga yang bertebaran.
Namun apakah benar hal itu ? apaklah rumah yang megah itu masih sama dengan impiannya ? Home sweet home?

Sebagai seorang bisnisman yang berhasil, hampir setiap hari pulang larut malam, dan berangkat pada pagi hari. Demikian pula sang istri sangat sibuk dengan berbagai kegiatan, sehingga hampir semua kegiatan rumah tangga telah diserahkan kepada pembantunya.
Makan siang, hampir pasti tidak pernah dilakukan bersama, demikian pula makan malam sulit untuk dilaksanakan karena kesibukan orang tua juga anak-anak yang sudah terbiasa dengan kehidupan café.
Ngobrol bareng, merupakan barang langka dirumah itu, apalagi canda dan tawa bersama sudah tidak pernah terdengar lagi.
Bertatapmuka setiap hari mungkin juga sulit untuk dilakukan bagi anggota keluarga.
Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing, terlebih lagi dukungan sarana yang sangat memadai, ada telepon, HP untuk masing-masing, kendaraan dan sopir yang selalu tersedia menyebabkan hilangnya “sentuhan antar anggota keluarga”.
Rumah yang megah bagaikan istana, lebih berfungsi sebagai hotel part time, datang larut malam, pagi sudah pergi. Akhir pekan keluar kota untuk liburan dengan tujuan masing-masing,. Rumah yang megah …. kosong tanpa penghuni di akhir pekan.
Impian home sweet home yang telah tercapai diawal….., namun tidak pernah dipelihara akhirnya tinggal kenangan.

Apakah pembaca juga mengalami hal yang sama dengan tulisan diatas?
Jika pembaca mengalami hal serupa di atas, bersyukurlah…….. karena dengan membaca tulisan ini anda diingatkan untuk menggapai impian home sweet home yang telah melayang jauh.
Bersyukurlah masih ada kesempatan untuk memperbaiki suasana hotel part time menjadi istana seutuhnya bagi seluruh anggota keluarga.
Sehari hanya 24 Jam saja, berapa lama waktu yang tersisa untuk menikmati istanamu bersama anak istrimu?

JIka pembaca masih merasakan suasana home sweet home, bersyukurlah dan ingatlah agar suasana itu tetap dipelihara.

Nikmati istanamu dengan makan malam bersama,
nikmati dengan ngobrol malam hari dengan secangkir teh atau kopi,
nikmati dengan canda dan tawa di sore hari,
nikmati dengan doa dan sembahyang bersama keluarga.

Ada sapa, canda, senyum, peluk manja, kasih sayang dan damai dalam istanamu.
Home sweet home bukan sebatas impian bila anda mau mewujudkan.
Semoga

SENYUMAN


Mulailah dengan senyuman ketika kita bangun pada pagi hari, karena senyuman itu akan mengawal kita sepanjang hari baik di rumah, dijalan, dikantor dan kembali kerumah lagi. Mengapa ??
Ketika kita membuka mata dipagi hari, senyumlah dan bersyukurlah bahwa Tuhan memberikan kesempatan kita untuk menikmati hari yang baru dan mengisinya dengan penuh rasa syukur.
Sediakan waktu khusus untuk menyapa Tuhanmu dengan senyuman dan ucapan syukur, mohon padaNya untuk mengiringi setiap langkah kita agar sepanjang hari yang akan kita lewati menjadi lebih baik dibandingkan hari kemarin.
Ucapkan salam dengan senyuman kepada anak, istri, suami dan orang tua ketika pertama kali bertemu dipagi hari. Senyuman itu akan membuat suasana pagi menjadi lebih riang dan damai, dan hal ini akan mengiringi sepanjang waktu yang kita lewati hari ini.

Namun yang sering terjadi, pada pagi hari suasana yang serba tergesa-gesa karena takut macet. Sehingga sering terdengar teriakan untuk cepat bangun pagi, cepat mandi, cepat ganti pakaian, cepat sarapan dan cepat berangkat.
Tanpa sapaan sayang dan senyuman....... akan berdampak besar pada perilaku kita semenjak kaki melangkah keluar rumah.
Bagi yang punya kendaraan, akan segera memacu kendaraan secepat mungkin agar segera sampai ditempat tujuan, tidak ada rasa sabar dalam mengemudi kendaraan, saling serobot dan saling berpacu, bahkan mungkin akan keluar umpatan bukan senyuman.
Bagi yang belum punya kendaraan, akan segera mencari angkutan atau bis, dengan berebut, bahkan harus dengan sedikit mendorong agar dapat naik tanpa memperhatikan calon penumpang lainnya yang sudah berumur, atau anak-anak.
Dan mungkin ketika terlambat naik karena diserobot calon penumpang lainnya, atau mungkin kena sikut atau terinjak, akan mudah naik pitam.
Itulah gambaran yang sering terjadi dipagi hari, lebih banyak terjadi umpatan dari pada senyuman, karena tidak diawali dengan senyuman.

Ketika sudah sampai dikantor atau tempat kerja, cobalah sapa setiap orang yang berjumpa dengan anda, tanpa harus membeda-bedakan kedudukan atau jabatan. Bila sapa dan senyuman disampaikan kepada siapapun di tempat kerja, akan membuat hubungan kita menjadi lebih baik, dan bagi diri sendiri ketika mengawali kerja dengan penuh suka cita akan berdampak positif sepanjang hari.

Namun yang sering terjadi, semua berlalu begitusaja seperti layaknya mesin otomatis, masuk kantor, pencet tombol lift, masuk, diam tanpa ada sapa dan senyuman karena semua merasa tergesa-gesa. Sehingga tercipta suasana kaku dan kesepian ditengah keramaian.


Dalam berbagai hal kehidupan sehari-hari, senyuman akan memberikan manfaat yang sangat dahsyat !,
Ketika menghadapi seseorang yang sedang marah dan kalut, senyuman akan dapat meredupkan amarah seseorang.
Ketika bertemu dengan orang yang sedang berkeluh kesah, dengarkanlah dengan seksama dan beri senyuman yang tulus, akan mampu menyejukkan hatinya.
Ketika menghadapi orang yang melakukan kesalahan, hadapilah dengan senyuman bukan amarah, karena akan mengurangi beban yang ditanggungnya.
Ketika harus bertemu orang banyak dan tidak ada yang kenal, senyuman akan dapat mencairkan susana kekakuan.
Ketika setiap hari anda memberikan senyuman kepada siapapun yang anda temui, akan dapat membangun rasa persaudaraan yang lebih baik.

Dan terlebih dari itu...... ketika anda memberikan senyuman secara tulus, otot-otot muka anda akan terlatih dengan baik, sehingga tidak mudah keriput dimakan usia, lebih cerah, segar dan menarik secara alami. Orang lainpun akan lebih senang ketika bertemu dengan anda dan senyuman yang tulus itu akan merambat dengan pasti mempengaruhi orang lain untuk tersenyum.

Seandainya setiap hari, diawali dengan senyum, dan setiap orang bisa tersenyum, akan terciptalah dunia yang penuh dengan damai, canda dan tawa.
Betapa dahsyatnya senyuman tulus itu !
Semoga setiap hari ada senyum diantara kita.

UCAPKAN "TERIMA KASIH"

Ketika kita masih kanak-kanak, seringkali orang tua kita mengajari untuk dapat menyampaikan kata “Terima Kasih” kepada siapapun yang memberi atau menolong kita. Dan ketika kita sudah menjadi orang tua, hal itu juga kita ajarkan kepada anak kita.

Namun dengan bergesernya pola tata kehidupan yang sering bersifat ”transaksional” dan mengarah materialistis, cenderung mengakibatkan terasa mahalnya ungkapan ”terima kasih” yang disampaikan secara tulus. Bahkan akan terasa janggal ketika harus mengucapkan terima kasih kepada orang lain yang lebih rendah strata sosialnya. Mengapa harus berterima kasih kalau itu memang sudah kewajibannya? Atau mungkin gengsinya akan turun kalau harus mengucap terima kasih? Hal seperti ini sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana dengan kehidupan dikeluarga kita? Masihkah ucapan itu terdengar setiap hari, antara orang tuan dengan anak, suami dengan istri dan sebaliknya?
Atau mungkin ucapan ”terima kasih” juga sudah menjadi kata-kata yang asing dalam keluarga karena semua berjalan secara otomatis, tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Perhatikan dalam kehidupan sehari-hari di kantor, seolah-olah seorang bawahan kerjanya hanya untuk ” disuruh mengerjakan tugas, kemudian kalau tidak selesai dimarahi oleh boss”. Sebaliknya boss hanya menyuruh dan memarahi bawahannya. Hal ini menguatkan bahwa pola transaksional masih sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari, dan ucapan terima kasih menjadi kata yang tabu bagi atasan atas keberhasilan bawahannya.

Sering juga terjadi, ketika seseorang akan keluar dari tempat parkir, kemudian ketika akan berlalu datang petugas parkir yang langsung meminta uang parkir, yang muncul dalam benaknya adalah ”enak saja kok minta uang parkir” sehingga muncul rasa tidak rela memberikan uang parkir, rasa kesal dan cemberut.
Memberi uang parkir dengan rasa marah, dan tidak mengucapkan terima kasih, kelihatannya sah-sah saja. Namun bila kita berpikir lebih jernih siapa yang menjagai mobil ketika ditinggal diparkiran? Siapa yang akan membantu parkir atau keluar parkir?
Kemarahan dan rasa tidak rela memberi uang parkir tidak memberikan manfaat baginya, sebaliknya bila mampu memaafkan dan ucapkan terima kasih akan membawa dampak yang baik bagi emosi kita.




Pada awal berkeluarga, ucapan terima kasih menjadi menu utama sehari-hari, bahkan terasa mesra karena diucapkan dengan kata ”terima kasih, sayang”

Kesibukan, tantangan kehidupan, beban keluarga, tuntutan pekerjaan dan bertambah besarnya anak-anak, maka secara lambat laun dan pasti..... ucapan terima kasih menjadi kata yang sangat mahal, sehingga jarang diucapkan dalam kehidupan berkeluarga.
Orang tua tidak perlu mengucapkan terima kasih ketika anak-anak pulang tepat waktu dan rajin dalam belajar, karena itu sudah kewajibannya.
Anak-anak tidak perlu mengucap terima kasih kepada orang tuanya ketika segala keperluan dan perhatian diberikan orang tua, karena itu sudah kewajibannya.
Jika masing-masing bersifat transaksional maka ucapan terima kasih akan dapat hilang di kamus perbendaharaan kata keluarga tersebut.

Akankah kata terima kasih menjadi sesuatu yang antik dan tidak pernah diucapkan lagi baik dalam keluarga, kantor dan kehidupan sehari-hari?

Marilah, kita mulai dari diri kita dahulu, ucapkan terima kasih kepada siapun yang membantu kita, terlebih pada orang tua, anak, istri atau suami agar hidup kita menjadi lebih bermakna.

Terima kasih, kepada yang tidak membaca maupun mau membaca tulisan ini.

Wednesday, November 30, 2005

Sulitkah meminta maaf?

MAAF


Apabila pembaca sering melihat sinetron Bajaj Bajuri (episode lama) atau salon Oneng akan selalu mendengar kata-kata maaf dalam setiap tayangan. Begitu mudah untuk diucapkan, terasa ringan dan mungkin menjadi latah. Namun bisa juga kata maaf ini muncul dari lubuk hati yang dalam (meskipun hanya dalam sinetron).

Dalam kehidupan sehari-hari, kata “maaf” sulit untuk diucapkan dan sebaliknya juga sulit untuk menerima kata “maaf”. Mungkin hal ini juga dampak dari pola kehidupan yang semakin hedonisme yang lebih mementingkan harta dan benda dibandingkan dengan masalah rohani.

Coba kita amati dalam kehidupan sehari-hari ketika orang banyak berebut jalan untuk mencapai tempat kerja, kantor, sekolah. Semua berebut jalan untuk lebih dahulu, yang semestinya sudah tahu ketika pagi hari memang jalan akan padat. Kondisi ini berpengaruh pada setiap orang, ada yang merespon dengan positif, ada juga yang sebaliknya. Bila tidak ingin macet dan berebut dijalan, tentunya dapat diakali dengan berangkat lebih pagi, namun kenyataan lebih banyak orang berangkat agak siang tetapi ingin sampai lebih cepat.
Respon negative sangat terasa dalam beralalu lintas, banyak orang berbuat salah dengan melanggar aturan lalu lintas, atau berkendara dengan tidak aman, bahkan membahayakan orang lain. Namun ketika diperingatkan oleh orang lain yang muncul adalah sumpah serapah, bukan lagi kata “maaf” meskipun bersalah.

Atau mungkin kita juga sering mendengar, ketika seseorang disakiti atau dirugikan oleh orang lain, sebelum orang yang menyakiti itu minta “maaf” kepada yang bersangkutan, biasanya lebih dulu terucap “ sampai kapanpun saya tidak akan memaafkan sidia!” Begitu arogan, seolah-olah dia yang punya kuasa atas pintu maaf.
Adakah manfaatnya dengan menutup pintu maaf bagi sesama? Seratus prosen tidak akan memberikan manfaat bagi orang tersebut, sebaliknya yang terjadi adalah ganjalan hati yang semakin lama menumpuk dan mengkristal dan akan menyelimuti hatinya dari kejernihan nurani. Kemudian yang muncul adalah kata benci dan mungkin balas dendam. Dunia ini tidak akan tercipta kedamaian bila semua orang sulit untuk menerima maaf.

Mungkin juga dalam kehidupan kerja sehari-hari, adakah atasan yang dengan sepenuh hati menyatakan maaf kepada bawahannya? Mungkin ada tetapi sedikit yang mampu untuk mengucapkan maaf dengan tulus, sebagian besar tidak akan meminta maaf kepada bawahan karena gengsi dan menjaga wibawa dimata bawahan.
Sebenarnya ketika seorang atasan mampu mengucapkan ”maaf” secara pribadi kepada bawahan, respon yang diperoleh akan sangat berbeda karena bawahan akan lebih menghormati bahkan lebih segan kepada atasan bukan rasa takut, karena menyadari bahwa atasan juga layaknya manusia biasa yang memiliki kekurangan.
Jadi kalau anda seorang atasan, cobalah untuk meminta maaf secara pribadi kepada staf anda apabila anda berbuat kesalahan, dan sebaliknya terimalah kata ”maaf” dari bawahan anda secara tulus. Percayalah bahwa hal ini akan dapat merubah suasana di kantor anda.

Tak usah kita mengambil contoh kehidupan yang jauh-jauh, lihatlah dalam keluarga kita. Sudahkan kita mendidik anak untuk berani mengucapkan kata ”maaf” bila bersalah? Semoga sudah, tinggal bagaimana kita sebagai orang tua bisa menerima kata ”maaf” tersebut?
Bagaimana dengan sebaliknya? Sebagai orang tua seringkali lebih banyak mengatur, dan cenderung merasa lebih benar dari pada anak, sehingga tidak ada lagi rasa bersalah kepada anak-anak. Akibatnya adalah kata ”maaf” tidak pernah terucap dari orang tua kepada anaknya, meskipun sebenarnya banyak hal yang mungkin tanpa sadara akan melukai hati anaknya.
Keseimbangan diperlukan supaya hidup ini menjadi lebih indah, lebih damai dan ceria ketika kita mampu untuk mengucapkan kata maaf dengan jujur dan menerima kata maaf dari orang lain, sekalipun itu anak kita yang masih kecil

Coba ingat kegiatan kita hari ini khususnya dalam kehidupan keluarga, apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan terhadap istri, suami, anak sehingga melukai hatinya. Ketika sore atau malam nanti pulang kerja, sapalah dan peluklah keluargamu juga ucapkan maaf untuknya.

Smoga kita bisa melakukannya.

Syukuran = makan-makan ?

Ketika seseorang mendapatkan “sesuatu keberhasilan”, biasanya ia akan mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa. Keberhasilan itu bisa dalam bentuk lulus ujian, kenaikan kelas, kenaikan pangkat, memperoleh jabatan baru, pindah rumah baru atau mungkin mutasi ke tempat yang diinginkan. Terhadap semua hal tersebut memang sudah sepatutnya kita mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Namun meskipun anda sudah mengucap syukur atas keberhasilan tersebut, biasanya rekan-rekan anda akan menagih kapan syukurannya?
Dalam bahasa pertemanan, istilah syukuran ini lebih banyak diartikan dengan ”kapan kita makan-makan” untuk merayakan keberhasilan tersebut. Berkumpul bersama dengan rekan-rekan, kemudian ada sedikit sambutan, ceramah atau apapun bentuknya terus dilanjutkan dengan acara pokok yaitu makan-makan.

Acara seperti ini sudah menjadi trend atau kewajiban yang tidak tertulis bahwa setiap orang yang memperoleh statu keberhasilan maka wajib untuk mengundang rekan-rekan, untuk ngumpul, ngobrol dan akhirnya makan-makan.

Adakah sesuatu yang salah dengan hal ini? Jelas bahwa acara syukuran ini tidak salah, bahkan lebih banyak manfaat yang bisa diperoleh bagi orang yang mengundang maupun yang diundang. Ada silaturahmi, ada canda, ada tawa dan mungkin juga akan mengingatkan kembali pada masa-masa lalu tentang pengalaman lucu sewaktu masih muda.
Namun kadang kala, acara syukuran ini juga bisa dilakukan di cafe atau tempat pertemuan lainnya yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang diharapkan. Datang, say hello, ngrumpi, makan & minum terus ngobrol sampai malam, terus pulang...... selesai.

Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk acara seperti ini? Biaya yang timbul sangat bervariasi mulai dari yang paling sederhana dalam jumlah puluhan ribu rupiah, atau ratusan ribu rupiah bahkan mungkin jutaan rupiah. Tapi yang jelas, meskipun harus mengeluarkan sejumlah uang yang besar, tentu tidak menjadi masalah bagi orang yang mendapat keberhasilan, karena secara financial jelas berkecukupan.

Lalu apa yang salah dengan syukuran, kalau memang hal ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pada umumnya?

Model syukuran yang selama ini banyak dilakukan adalah dengan cara-cara seperti di atas, dan sebenarnya hasil akhirnya sama saja….., datang, ngobrol, makan, pulang dan semua yang dimakan akhirnya (mohon maaf) dibuang di toilet. Selesailah sudah.

Sebenarnya masih banyak cara lain untuk ”syukuran”, dan mungkin akan banyak manfaat yang dapat diperoleh bagi orang yang syukuran maupun pihak lain yang terlibat, baik manfaat jangka pendek maupun jangka panjang.

Mungkin anda masih ingat, kejadian tragis yang sebenarnya tidak perlu terjadi terhadap seorang anak yang malu tidak dapat membayar uang sekolah bulanan (yang besarnya lebih kecil dari satu kali makan siang anda?) berupaya untuk bunuh diri karena malu tidak bisa membayar?
Kejadian ini sebenarnya hanya merupakan puncak gunung es di lautan, yang sangat kecil kelihatannya, namun permasalahan yang sangat besar belum terungkap.
Masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam serba kekurangan, sehingga lebih baik mengorbankan bangku sekolah untuk dapat membantu orang tua dalam mencari penghasilan. Selain itu masih banyak anak-anak dipanti asuhan yang memerlukan bantuan untuk bisa sekolah.

Bayangkan bila hal ini terjadi dalam jangka waktu yang panjang, maka kita akan kehilangan calon penerus bangsa yang tidak dibekali pendidikan yang cukup.Tentu anda juga tergerak untuk dapat membantu sebagian kecil dari mereka, agar dapat meneruskan sekolahnya.
Salahsatu cara untuk ikut membantu mereka adalah, merubah model syukuran kita yang semula kita mengeluarkan uang dalam jumlah banyak hanya untuk makan-makan, marilah kita salurkan untuk bantuan pendidikan bagi yatim piatu, anak-anak tak mampu.
Apabila semua diantara kita mengubah model syukuran dengan cara ini, maka akan banyak anak-anak yang akan memperoleh pendidikan.
Smoga!

Jalan Hidup

JEJAK LANGKAH KEHIDUPAN


Sewaktu kita masih kecil, dan lingkungan kita belum penuh sesak dengan rumah-rumah seperti saat ini, permainan petak umpet menjadi salah satu permainan yang cukup menyenangkan.
Seseorang akan menjadi penjaga yang akan mencari teman permainan yang lain, yang bersembunyi dirimbunnya pagar tanaman, atau taman, atau halaman rumah lainnya. Bila permainan dilakukan pada sore atau siang hari tentu akan memudahkan penjaga untuk mengetahui dimana temannya bersembunyi. Sebaliknya bila permainan dilakukan dimalam hari, akan menyulitkan penjaga untuk mencari teman yang bersembunyi dikegelapan malam, karena tidak akan mudah mencari jejak temannya.

Juga pada saat kita masih mengikuti kegiatan pramuka, saat menjadi siaga atau penggalang, salah satu kegiatan yang dilakukan dialam terbuka dan sangat diharapkan oleh setiap anak adalah kegiatan mencari jejak. Kegiatan ini memberikan banyak manfaat bagi peserta, karena akan dapat melatih kekuatan tubuh, kecerdikan dan ketelitian untuk dapat mencapai tujuan akhir dengan memperhatikan tanda atau jejak yang dipasang oleh Pembina.
Ketika kita teliti dan mengikuti petunjuk, maka dapat dipastikan satu regu akan dapat mencapai tujuan akhir dengan selamat. Sebaliknya bila tidak memperhatikan bahkan mengabaikan jejak atau tanda maka dipastikan dapat tersesat. Penulis pernah mengalami hal ini ketika masih SMP, saat melakukan perkemahan di satu desa kecil dan rute mencari jejaknya melewati jalan-jalan setapak dan menewati hutan kecil. Karena terlalu sembrono dan tidak memperhatikan jejak atau tanda, regu kami berangkat nomor satu dan kembali ke arena perkemahan sebagai regu terakhir pada sore hari karena tersesat.
Masih beruntung karena kegiatan ini dilakukan pada siang hari karena masih bisa melihat jalan dan bertanya kepada penduduk, seandainya kegiatan ini dilakukan pada malam hari..... tentu akan sangat merepotkan para pembina.
Penyebab tersesat adalah hal yang sepele yaitu : tidak memperhatikan dan mengikuti jejak atau tanda yang telah dipasang oleh pembina.

Pernahkan anda berjalan menyusuri pantai yang landai dan berpasir, perhatikan ketika anda berjalan ditepian pantai, setiap langkah yang diayunkan akan meninggalkan jejak langkah di atas pasir. Namun ketika ada gelombang kecil menuju tepi pantai, maka jejak langkah tersebut akan hilang tersapu gelombang.
Cobalah perhatikan ketika dua orang berjalan berurutan di tepi pantai yang berpasir, seorang berjalan didepan dan yang lain mengikuti dari belakang. Ketika jarak orang yang berjalan didepan dengan yang dibelakang berdekatan, maka dengan mudahnya orang yang dibelakang melihat dan berjalan mengikuti jejak langkah yang ditinggalkan oleh orang yang didepan. Bahkan ketika gelombang kecil datang sekalipun, yang dibelakang akan dapat mengikuti orang yang didepannya.
Namun sebaliknya ketika jarak antara orang yang didepan dan dibelakang sangat jauh, tentu akan sulit untuk dapat melihat jejak langkah yang ditinggalkan oleh orang yang didepan karena jejak tersebut sudah hilang tersapu gelombang kecil.

Demikian pula dengan kehidupan kita sebagai manusia yang lemah dan penuh dengan kekurangan. Sebenarnya lah setiap orang memiliki jejak langkah sendiri-sendiri, dan arah tujuannya sudah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa.
Dengan mengambil pelajaran dari permainan petak umpet, mencari jejak dan berjalan ditepi pantai yang berpasir, bisa dianalogikan dengan kehidupan kita.
Apabila kita selalu berjalan dalam terang, maka kita akan dapat mengetahui kearahmana kita akan berjalan, lihatlah tanda atau perintah dari Yang Maha Kuasa, karena setiap tanda yang diberikanNya selalu membawa kebaikan buat manusia.
Apabila kita jauh dari Yang Maha Kuasa, maka ketika gelombang menghadang didepan, langkah akan terhenti dan tak mampu lagi untuk bertahan.
Namun apabila selalu dekat dengan Yang Maha Kuasa, maka ada kepastian hidup yang damai dan sejahtera, meskipun badai dan gelombang kehidupan akan menerpa kita, langkah kita akan tetap tegak dan pasti karena ada pengharapan dan kekuatan dari Yang Maha Kuasa.
Smoga!

Masih adakah.....

SALING SETIA DAN PERCAYA

Masih ingatkah ketika pertama kali bertemu dengan bekas pacar, yang sekarang mendampingi hidup anda?
Masih seringkah kita mengingat masa-masa perjuangan untuk mendapatkan dia?
Masih seringkah kita bercerita dengan pasangan mengenai masa-masa pacaran?
Betapa semua itu terasa indahnya ketika kita jatuh cinta, semua yang ada hanya rasa ceria, kangen dan rindu yang menderu bila tidak pernah bertemu.

Setelah mengucap janji dan sepakat untuk hidup berbagi suka dan duka, mulailah kita mengetahui betapa banyak kekurangan masing-masing pihak. Semakin meneliti kekurangan pasangan kita, maka semakin panjang daftar kekurangan dan kesalahan yang dibuat oleh pasangan kita.
Perubahan secara fisikpun terjadi dengan pasti, yang semulai semampai, kini sejalan dengan bertambahnya usia semakin subur bahkan cenderung ”SETULEGI” (Setengah Tuwo Lemu Ginak-ginuk).
Terlebih lagi dengan beban berat mengurus anak yang semakin besar dan pasangan yang ”semakin” berani (karena secara finansial jelas semakin mapan) secara perlahan dan pasti sangat kurang waktu untuk mengurus diri. Demikian juga dengan suami yang dulunya tegap gagah dan tegap, mulai melarrr dan sama menjadi SETULEGI juga.
Sementara sang suami sibuk dengan urusan kantor dengan lembur dan meeting serta barangkali juga ”mithing” lainnya (memeluk leher erat2 dengan dua tangan), sang istri tidak lagi merasakan keindahan seperti pada masa pacaran.

Sebaliknya ketika diawal pernikahan sudah memahami bahwa konsekuensi menjadi pasangan adalah ”menerima segala kelebihan dan kekurangan” masing-masing, akan sadar bahwa pernikahan itu dapat diibaratkan menyatukan dua buah meja, agar menjadi meja yang sempurna, maka masing-masing harus merelakan untuk berkorban dengan merelakan dua kakinya dihilangkan.
Kekurangan yang tidak pernah dilihat semasa pacaran, akan jelas terjadi karena setiap hari selalu bersama, namun bila dilandasi rasa setia, masing-masing akan berpandangan bahwa satu sama lain akan selalu menyempurnakan. Kelebihan yang satu akan menutup kekurangan yang lain dan sebaliknya.
Ingatlah ketika kita harus merangkak dari bawah, dalam membangun keluarga, betapa pasangan kita selalu setia menemani ketika kita harus menanggung beratnya beban hidup.
Kesetiaan pasangan selalu diiringi dengan rasa percaya kepada pasangannya. Ketika masih pacaran dan belum memahami sepenuhnya terhadap pasangan, sudah dilandasi rasa percaya untuk mempertaruhkan masa depannya dengan pasangan pilihan. Terlebih lagi setelah menikah dan bersama mengarungi badai kehidupan rasa percaya itu akan tumbuh subur.

Kemanapun, kapanpun pasangannya pergi untuk melakukan tugasnya, bahkan keluar kota sekalipun, sang istri tidak akan merasa ”was-was” mengenai suaminya. Karena ia sangat yakin, kesetiaan dan kepercayaannya tidak akan pernah sia-sia.
Juga sebaliknya sang suami akan selalu merasa tenang dalam melakukan tugasnya karena tiada rasa curiga, akan memegang kesetiaan dan kepercayaan yang diberikan pasangannya.
Ada kendali dan kontrol dalam hati nuraninya meskipun jauh dari istri ia akan selalu setia dan percaya dengan pasangannya.

Cobalah ingat kembali, masa-masa indah sewaktu pacaran, cita dan impian bersama untuk memupuk kembali rasa setia dan percaya.
Luangkan waktu berdua untuk mengulangi kenangan indah semasa pacaran, dengan melakukan hal-hal kecil atau yang membuat kita bisa tertawa.
Selalu berpikiran positif terhadap pasangan kita, karena kesetiaan dan kepercayaan dia yang mampu mendorong kita menjadi seperti sekarang ini.

Bersyukurlah pada Yang Maha Kuasa, karena anda telah mendapat pasangan yang terbaik, yang selalu setia dan percaya.
Smoga.