Thursday, May 28, 2009

NGOBROL (1)

Ketika ada waktu untuk bersantai setelah sepanjang hari bergelut dengan kegiatan rutin, seringkali kita manfaatkan waktu tersebut untuk ngobrol dengan rekan sekerja kita. Berbagai hal dapat menjadi topic pembicaraan, mulai dari pekerjaan, keluarga hingga isu yang berkembang di media menjadi bahan ngobrol yang tidak pernah habis.

Semuanya pembicaraan mengalir dengan lancar karena  pada saat ngobrol, seringkali kita melepas atribut kedinasan sehingga semua yang ikut ngobrol merasa lebih bebas dalam kesempatan ngobrol tersebut.

 

Jika ngobrol dengan teman sekerja bisa sering dilakukan, seberapa sering kita bisa ngobrol dengan keluarga kita? Bila beruntung, mungkin bisa setiap akhir pekan bisa ngobrol bareng sekeluarga,  tetapi banyak juga yang hanya bisa sebulan sekali karena tempat kerja yang berjauhan dengan keluarga. Atau bahkan setahun sekali ketika liburan panjang  atau mungkin belum ada kesempatan untuk ngobrol bersama keluarga.

 

Beruntunglah jika kita masih punya kesempatan untuk ngobrol dengan keluarga, karena dengan ngobrol bersama keluarga maka akan terjalin komunikasi yang lebih baik diantara anggota keluarga, posisi setiap anggota keluarga dalam ngobrol bersifat setara, sehingga masing-masing dapat menyampaikan keinginan atau pendapatnya secara terbuka dan yang lain dapat menerima informasi tersebut tanpa harus seorang ayah memposisikan dirinya sebagai yang paling berkuasa dalam keluarga.

 

Namun yang seringkali terjadi adalah kondisi sebaliknya, pada aat ngobrol, cenderung orang tua selalu mendominasi pembicaraan dengan

meyampaikan banyak hal yang harus dilakukan oleh anak-anak, sementara usulan atau saran dari anak-anak cenderung diabaikan.

Kondisi ini jauh berbeda ketika seorang ayah sedang ngobrol dengan rekan sekerjanya yang bersifat informal dan adanya kesetaraan dalam ngobrol. Suasana ini jauh berbeda dengan kondisi ngobrol dalam keluarga, sehingga muncul kecenderungan rasa ingin memberontak oleh nak-anak kepada orang tuanya karena orang tua lebih banyak bicara dari pada mendengar keinginan atau keluhan anak-anaknya.

 

Banyak tuntutan yang disampaikan oleh orang tua ketika “ngobrol” dengan keluarga, dengan alasan bahwa apa yang selama ini dilakukan oleh seorang ayah adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ya, memang kebutuhan keluarga secara fisik atau jasmani yaitu biaya hidup, biaya sekolah dan keperluan lain untuk kelangsungan keluarga.  Memang alasan tersebut benar, namun tidak sepenuhnya benar 100%, karena kebutuhan anggota keluarga bukan hanya yang bersifat fisik saja tetapi juga kebutuhan akan kasihs ayang, kebutuhan untuk melepaskan emosinya, juga kebutuhan untuk dihargai dan merasa menjadi anggota keluarga yang lebih bertanggungjawab.

 

Apabila kita betah ngobrol berlama-lama dengan teman sekerja, bisakah kita ngobrol dengan anggota keluarga serasa ngobrol dengan teman sekerja?

 

Semoga kita bisa ngobrol lebih banyak dengan keluarga, untuk membangun keluarga yang lebih harmonis lagi.

Sepeda Motor

Jika ditanya, kendaraan apa yang paling banyak ditemui di jalan raya saat ini?  Hampir dapat dipastikan jawabannya adalah “sepeda Motor”.

Kali ini saya tidak membicarakan sepeda motor sebagai raja jalanan, tetapi mencoba memahami dan belajar, mengapa banyak orang memilih sepeda motor sebagai alat transportasi.

 

Banyak orang merasa heran ketika mengetahui saya tidak bisa mengendarai sepeda maupun sepeda motor.  Bagi banyak orang persoalan naik sepeda adalah masalah sepele, demikian pula dengan mengendarai sepeda motor hampir semua orang bisa mengendari sepeda motor. Ketidakmampuan saya untuk naik sepeda berawal dari masa kecil saya dari keluarga yang tidak mampu dan sepeda merupakan barang yang mewah bagi kami sehingga tidak mungkin untuk terbeli. Sehingga sampai masa remajapun saya tidak pernah mampu untuk naik sepeda, dan akhirnya juga tidak mampu untuk mengendarai sepeda motor.

 

Saya mencoba untuk memahami mengapa banyak orang memilih sepeda motor untuk alat transportasi, maka saya memutuskan untuk mencoba naik sepeda  motor membonceng keponakan dari Yogyakarta ke Wonosobo dengan jarak hampir 100 km. Ini merupakan rekor bagi saya mbonceng sepeda motor terjauh yang pernah saya lakukan.

Kebetulan ketika saya berangkat ke Yogyakarta membawa jaket kulit yang cukup tebal, sehingga dapat melindungi saya dari terpaan angina yang bisa membuat saya masuk angin.

Helm standar sudah disiapkan keponakan dan saya pakai untuk keselamatan saya, serta memenuhi aturan lalu lintas bahwa pengendara dan penumpang sepeda motor wajib menggunakan helm standar.

 

Perjalanan Yogyakarta ditempuh melalui rute Yogyakarta – Muntilan – Watucongol – Mendut – Borobudur – Salaman – Slento – Sapuran – Kretek dan berakhir di Wonosobo dengan lama perjalan sekitar 2 jam, termasuk isi bensin dan makan pecel.

 

Ketika sudah melewati Borobudur, keponakan saya singgah di SPBU dan mengisi bensin Rp.10.000,- (sepuluh ribu) untuk memenuhi tangki bensinya.  Ketika sampai di Wonosobo, indicator bensin masih sekitar ¼  ukuran.

Boleh dikatakan, hanya dengan biaya Rp. 10.000,- kami berdua sudah sampai di Wonosobo, dan bila dibandingkan dengan bus umum, kami harus mengeluarkan biaya lebih dari Rp. 60.000,- dan dengan waktu tempuh lebih dari 3 Jam. Bila dibandingkan dengan travel, kami harus mengeluarkan biaya sekitar Rp. 100.000,- dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Jika sewa taksi, maka kami harus mengeluarkan biaya sekitar Rp. 350.000,-

 

Ketika kami ingin makan siang sesuai dengan keinginan kami, maka dengan mudah sepeda motor langsung berhenti ditempat yang kami tuju tanpa mengalami kesulitan, dan sembari menikmati makan siang, kami bisa melepas penat sesaat sebelum melanjutkan perjalanan.

 

Dari segi kepraktisan, rasanya sepeda motor lebih praktis dibandingkan dengan dengan naik kendaraan umum, karena dari rumah harus ke terminal bus, naik angkutan kota, turun diterminal ganti bus jurusan semarang, kemudian turun di Magelang untuk ganti jurusan Magelang Wonosobo. Sampai di Wonosobo harus ganti angkutan kota dari terminal bus sampai ke terminal angkutan kota, dan masih jalan kai sekitar 200 meter untuk sampai ke rumah di wonosobo.

 

Pengalaman naik sepeda motor dari Yogyakarta ke Wonosobo memberikan pelajaran bagi saya  antara lain :

1.                  Berkendaraan dengan sepeda motor lebih efisien baik dari segi biaya maupun waktu tempuh karena bisa memilih jalur alternatif yang paling cepat.

2.                  Flexibilitas bagi pengendara untuk berhenti atapun melanjutkan perjalanan sesuai dengan kemampuan.

3.                  Tidak terlalu report gonta ganti kendaraan umum.

 

 

Menganalogikan perjalanan dari Yogyakarta ke Wonosobo dengan kegiatan tranportasi harian menggunakan sepeda motor, memberikan pelajaran bagi saya bahwa :

1.                  Sebagian besar keluarga di Indonesia memiliki kemampuan ekonomi dalam golongan menengah kebawah, dan sebagian besar letak perumahan jauh dari kota maka saya berpendapat bahwa sepeda motor lebih efisien baik dari segi biaya maupun waktu tempuh karena bisa memilih jalur alternatif yang paling cepat.

Mari kita coba menghitung berapa biaya transportasi harian untuk satu keluarga baru yang hidup di satu komplek perumahan yang tidak dillalui langsung oleh angkutan umum.

Ongkos becak untuk pulang pergi dari rumah ke jalan raya?

Ongkos angkutan kota atau bus ketempat kerja? Belum lagi kalau lokasi kerja harus ditempuh dengan dua kali kendaraan umum.

Mungkin biaya transportasi ini menjadi porsi yang cukup dominan mengkonsumsi gaji bulanan, dan biaya transportasi ini hilang begitu saja. 

Jadi daripada uang terbuang percuma, akan lebih baik bila digunakan untuk angsuran sepeda motor dan akhirnya dapat memilikinya. Motif ekonomi menjadi hal yang penting mengapa sepeda motor sangat banyak dijalan raya saat ini.

 

2.                  Flexibilitas bagi pengendara untuk berhenti atapun melanjutkan perjalanan sesuai dengan kemampuan.

Dengan memilki sepeda motor, memungkinkan pengendara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saat pulang kantor singgah di warung, atau swalayan tanpa harus mengeluarkan waktu ekstra ataupun biaya tambahan.

 

3.                  Tidak terlalu report gonta ganti kendaraan umum karena seberapa jauh selama masih dapat ditempuh dengan sepeda motor maka waktu yang ditempuh lebih cepat.

 

4.                  Jalan macet, bukan kendala bagi sepeda motor karena menurut pengamatan saya, seakan sepeda motor mudah mencair ketika terjadi kemacetan dengan kemampuan melalui celah diantara mobil pribadi atau angkutan umum sehingga tetap berjalan lancar.

 

5.                  Ketika musim mudik tiba, tidak perlu repot antri tiket (kereta atau bus malam) untuk perjalanan pulang , dan lebih hemat lagi karena harga tiket biasanya mahal dan sangat tergantung waktunya.

 

6.                  Tambah lapangan pekerjaan, mulai dari bengkel sepeda motor, tambal ban, penjual perlengkapan sepeda motor, juga penjual bensin eceran.  Jangan lupa, masih ada pajak sepeda motor lho..

 

Jadi, menurut saya, jangan hanya memandang sisi negatif dari cara pengendara sepeda motor dijalanan, tetapi lihat sisi positif yang banyak dinikmati oleh para pemilik sepeda motor dan ternyata sangat mampu memberikan Multiplier efek yang sangat dahsyat yang mampu menyumbang pertumbuhan ekonomi negeri ini

Tuesday, April 21, 2009

Taman Hutan Raya Ir Juanda.




Apabila lelah menelusuri Jl. Juanda/ Dago karena keluar masuk FO dan penat karena macet, jika masih ada waktu luang cobalah untuk menuju ke arah utara jl Dago. Sampai diujung jl Dago, terdapat terminal angkot dan kurang lebih 1,5 Km akan sampai di Tahura. Istirahatlah dan nikmati sejenak suasana yang teduh, hijau hening dan udara segar untuk melepas lelah.
Untuk masuk ke Tahura tiap orang membayar Rp. 8 ribu dan kendaraan bisa parkir dalam taman dengan biaya Rp. 10 ribu/ mobil.
Kita bisa menikmati segarnya udara dan hijaunya hutan serta mengunjungi dua buah goa yaitu goa Jepang dan goa Belanda.
Ada yang unik di Goa Jepang yaitu akar2 pohon beringin yang seolah membingkai goa Jepang, tempat ini menjadi favorit untuk pengambilan photo pre wedding.
Bila anda hobby jalan kaki, tempat ini sangat cocok untuk rute jalan kaki karena dari Tahura bisa tembus ke Taman Maribaya.

Tuesday, April 14, 2009

Pemilih Pemula




Rasa penasaran yang tinggi ketika harus ikut pesta demokrasi, datang paling pagi terus absen nomor satu, karena belum berpengalanan harus nunggu dulu seremonial dan sumpah panitia pemilihan suara, timbul rasa bete.
Ketika masuk bilik suara, cukup lama mikir mana yang harus dipilih.
Ketawa setelah nyontreng, nggak jelas sebabnya.
Ngacungkan jari Victory tapi untuk siapa?
berpose sebelum masukin kartu ke kotak,
Nyelupin jari dengan semangat sebagai tanda sudah ikut pemilu.
Nih jari gue sudah ada tintanya.
Sesama pemula biasanya sharing setelah nyoblos.

Perjalanan ke Hulu Sungai CItarum




Gambar ini melengkapi tulisan perjalan di blog, perjalanan cukup menantang dan banyak pemandangan indah sepanjang perjalanan ke Hulu Sungai CItarum, yaitu Situ Cisanti. selamat menikmati

Semula menyusur Citarum menuju mata air di Situ Cisanti, akhirnya menembus hijaunya perkebunan teh Malabar

Sabtu pagi, 11 April 2009  bangun pagi terasa begitu indah, suasana pagi yang cerah, serta sapaan yang mesra dari anak dan istri . Oh...., betapa bersyukurnya saya atas segala yang Tuhan berikan. Terlebih lagi hari ini masih libur........., long week end.

Entah terlintas karena rasa penasaran seringnya berita banjir karena Citarum meluap dan Situ Cisanti yang baru ngeliat dari mbah Google Earth yang bikin penasaran atau karena teringat warung makan di pinggir sungai Citarum (di atas Pacet) dengan ikan nila bakar dan gorengnya yang mak klenyerrr...., enak tenan.  Saya ajak anak dan istriku untuk makan siang di warung ini, dan dengan senang hati mereka setuju untuk menikmati ikan nila bakar/ goreng di warung tepi sungai Citarum.

 

Sekitar pk. 10.00 WIB, kami sekeluarga berangkat dari Margahayu Raya Bandung, lewat jalan pintas Jl. Logam hingga GBA (Griya Bandung Asri) menuju jalan utama ke arah Baleendah.  Perjalanan cukup lancar, hingga pertigaan Baleendah belok ke kiri ke arah Ciparay - Majalaya.  Sepanjang perjalanan menuju Ciparay istriku mulai pesan “ jangan lupa mampir ke penjual bunga, dulu nggak jadi beli tanaman keladi yang warna daunnya merah itu lho”

Yah...., sesuai permintaan akhirnya mampir juga dan dapat tiga pot keladi warna merah sesuai keinginannya, dan kebetulan harganya lebih murah bila dibandingkan di Bandung, maupun di Cihideung – Lembang.

 

Mulai masuk daerah Ciparay, disambut dengan jalanan yang rusak seperti kubangan kerbau, mobil harus berjalan lambat dan antri agar tidak terperosok ke lubang yang dalam, lokasi ini biasa tergenang air dan banjir bila hujan tiba.

Setelah pasar Ciparay, kami belok ke kanan menuju daerah Pacet, melalui terminal kecil dan harus sabar karena angkot yang berhenti seenaknya, bahkan ada yang dekat jembatan sehingga mobil harus antri satu-persatu.

 

Suasana dan pemandangan dari Ciparay ke Pacet tidak ada yang istemewa, dan kondisi jalan relatif masih baik, sekitar 90% jalanan mulus.

Kami berhenti sebentar di depan pasar Pacet untuk membeli air putih karena wajib untuk selalu ada ketika perjalanan jauh, karena saya selalu banyak minum air putih ketika mengendari mobil agar nggak sampai kekeringan dan muncul kristal di ginjal. (maklum pernah ngerasain sakitnya ketika kristal keluar dari ginjal..... aduhhh tenan).

 

Ketika sudah melewati Pacet, mulai kelihatan panorama yang indah gunung Wayang – Windu dari kejauhan, juga hamparan sawah yang sudah mulai menguning dan birunya langit, dan gemericik air tepian sungai Citarum.

Air sungai Citarum tidak begitu deras, namun masih kelihatan sisa-sisa/ bekas alur sungai yang besar ketika hujan besar di hulu sungai Citarum. Begitu jelas perbedaan antara waktu panas dibandingkan ketika hujan deras, yang membuat arus menjadi deras dan liar. Ya....., ketika hujan di hulu sungai Citarum, maka saudara kita di Cienteung Majalaya selalu menerima kiriman banjir, meskipun di Majalan tidak hujan besar.

Kondisi ini mencerminkan bahwa kondisi DAS hulu Sungai Citarum tentunya sudah parah, benarkah kondisi DAS sudah parah?  Hal ini yang membuat penasaran untuk menengok Situ Cisanti.

 

Sesuai rencana sekitar jam 11.45 akhirnya  kami singgah di warung tepi Citarum, dan ketika kami masuk, ibu tua pemilik warung langsung mengenali saya karena ini yang ketiga kali saya datang dengan pasukan yang bertambah.

Warung makan ini, memiliki kolam ikan air deras, juga tempat pancingan dan gazebo sederhana di atas kolam ikan dan letaknya langsung berbatasan dengan sungai Citarum. Banyak pepohonan yang cukup rindang sehingga menambah keteduhan suasana terlebih lagi iringan suara air yang gemericik baik dari sungai maupun di kolam ikan. Tidak ada kebisingan dan hiruk pikuk kecuali desir angin dan gemericiknya air, terasa nyaman dan merasa benar-benar dekat dengan alam.

(Saya nggak tahu nama warung ini, tetapi lokasinya berseberangan dengan warung makan tower karena ada towernya).

 

Untuk makan siang, kami memesan ikan nilai goreng 2+1 porsi , ikan nila bakar 2 porsi, ikan nila bumbu rujak 1 porsi, karedok 1 porsi, tahu & tempe goreng 2 porsi, lalab sambel dan nasi putih satu bakul. Untuk minuman kami pesan es jeruk 2, teh botol 2 dan es teh manis 1 plus satu plastik kerupuk.

Sambil menikmati suasana dan menunggu masakan diolah kita bisa lihat secara langsung, ikan nilai diambil dari kolam jernih untuk nila yang akan dimasak, benar-benar ikan segar.

 

Ikan nila bakar tampilannya kurang menarik karena bara api yang terlalu besar sehingga terkesan ikan kebakaran, karena kulit ikannya hangus terbakar, namun dengan sedikit usaha memisahkan kulit ikan, akan diperoleh daging ikan yang putih bersih dan ketika dicelup kedalam sambal kecap terus dicocol dengan nasi putih, ternyata enak tenan.

 

Ikan nila goreng, untuk tampilannya menarik karena kelihatan kering dan kuning,  gigitan pertama terasa gurih, renyah terlebih lagi dibarengi dengan sambal dadak terasi yang ditemani lalaban timun. Karena 2 porsi merasa kurang, maka segera minta tambah 1 porsi lagi biar makannya tidak terputus. Enak tenan tak terkira.

 

Ikan nila bumbu rujak, untuk tampilan sangat menarik, karena ikan nila yang sudah digoreng dimasak lagi dengan bumbu rujak dan diatasnya ditaburi cabe rawit merah dan juga potongan daun bawang serta bawang goreng. Menggugah selera makan dan memang benar saya harus nambah nasi putih. Enak tenan tak terkira.

 

Untuk tahu dan tempe goreng, serta karedok rasanya standar saja, tidak istemewa.

 

Menurut kami, secara keseluruhan hidangan makan siang ini istimewa karena suasana yang alami, ditambah rasa yang enak tenan dan jadi lebih istimewa lagi karena total bon sekitar Rp. 107. ribu.

 

Sembari menikmati rasa kenyang dan sedikit ngantuk, kami mulai beres-beres untuk jalan lagi, menuju hulu Citarum. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 kami melanjutkan perjalanan.

 

Mulai dari warung ini, pemandangan sudah mulai berubah, sepanjang kiri kanan jalan terlihat sebagian besar sawah yang sudah mulai menguning, namun di kejauhan nampak bukit yang kecoklatan karena sudah tidak ada hutan, sudah berubah menjadi ladang pertanian yang sebagian besar untuk tanaman sayuran.

 

Pemandangan yang indah dapat dinikmati ketika mulai tanjakan dekat dengan kebun strawberry, hamparan sawah yang menguning dan terasering sawah di pinggiran sungai Citarum. Dekat kebun strawberry terdapat warung-warung kecil yang menyediakan minuman hangat juga makanan kecil. Kita bisa menikmati hamparan sawah dan gunung dikejauhan sembari menghirup aroma kopi di dinginnya alam. Saya membayangkan seandainya saja bisa menikmati sun rise di tempat ini, tentu sangat indah sekali karena sejauh mata memandang ke arah timur nampak lembah kota Bandung.

 

Setelah puas mengambil gambar di lokasi ini, kami melanjutkan perjalanan dan tidak berapa lama kami sudah harus menghadapi jalanan yang mulai rusak. Sebagian besar aspal sudah hilang tinggal bebatuan dan lobang yang cukup besar seolah badan ikut bergoncang ketika mulai memasuki tanjakan yang penuh lobang.

 

Pemandangan berubah total ketika sudah melewati beberapa tanjakan, sepanjang jalan terlihat tanaman sayuran seperti kol, bawang merah, kentang juga sayuran lainnya. Di kejauhan sepanjang mata memandang terlihat bukit gundul yang tidak ada pohon besar, yang ada tanaman sayuran dan tanah coklat yang sedang diolah.

Sementara jalanan mulai tambah parah tinggal tanah dan makadam, serta sisa-sisa alur air yang membawa tanah erosi di pinggiran jalan.

Tidak adanya hutan dan tanah yang terus menerus diolah maka secara perlahan dan pasti hal inilah yang menjadi salah satu penyebab banjir di daerah pinggiran DAS Citarum di Majalaya, Bale Endah, juga Dayeuhkolot.

Jka tidak ada keseimbangan pengelolaan tanah dan menjaga kelestarian hutan, maka sebenarnya kita sedang menabung kehancuran lingkungan yang akan dinikmati anak cucu kita.

 

Wajarlah ketika Bpk Gubernur Jabar menyampaikan wacana untuk meminta dukungan dana dari pemerintah pusat untuk membeli Gunung Wayang, sebagai salah satu cara untuk memperbaiki lingkungan hidup di sekitar gunung Wayang dan DAS Citarum.

 

Sambil merenungi kondisi lereng gunung Wayang yang sudah rusak, ditambah jalan yang rusak, kalau boleh dikatakan hancur (akibat tidak terpeliharanya saluran, kiriman banjir erosi juga angkutan kendaraan sayuran yang berat) perasaan perjalanan kali ini lama sekali, sehingga sampai beberapa kali kami harus tanya arah ke situ Cisanti.

Kondisi jalan yang rusak ini membuat kami harus ektra hati-hati ketika harus berpapasan dengan kendaraan lain supaya tidak masuk dalam lubang yang cukup besar.

Meskipun jalanan banyak yang rusak, namun arus kendaraan yang melewati cukup banyak bahkan bisa dikatakan ramai karena banyak kendaraan roda dua juga truk pengangkut sayuran serta beberapa kendaraan pribadi, sejalan dengan aktivitas perdagangan sayuran di daerah ini.

 

Ketika sampai di daerah Sukasari, kami memperoleh informasi kalau situ Cisanti sudah relatif dekat dan berada setelah pasar Cibeurem, lokasinya sebelah kanan jalan dan ada akses masuk ke tempat parkir mobil. Selain itu juga dapat informasi bahwa jalur tersebut dapat langsung tembus ke Pangalengan melalui perkebunan teh.

 

Suasana ramai nampak di Cibeurem, terlebih lagi ketika mendekati pasar yang masih buka, mungkin lokasi ini merupakan tempat tujuan berbelanja untuk kebutuhan harian maupun keperluan pertanian.

 

Akhirnya kami sampai ke jalan yang cukup datar dan sedikit halus dan di samping jalan terlihat mobil parkir, maka kami arahkan kesana dan ternyata benar bahwa kami sudah sampai di lokasi wana wisata Gunung Wayang Windu, hulu sungai Citarum.

Lokasinya tepat dibawah kaki gunung Wayang Windu dan masih terdapat cukup banyak pohon yang besar.

 

Setelah membayar retribusi, kami ngobrol dengan petugas jaga dan kami peroleh informasi bahwa biasanya wisatawan cukup ramai kalau hari minggu atau hari libur. Juga ada yang camping di lokasi situ Cisanti, karenatersedia camping ground yang cukup memadai. Petugas itu menyarankan agar kalau pulang ke Bandung lebih baik melewati jalur ke Pangalengan dari pada harus kembali ke Pacet karena kondisi jalan lebih baik melalui perkebunan teh terus ke Pangalengan.

 

Segera kami menuruni jalan setapak menuju situ Cisanti yang berjarak kurang lebih 300 meter dari tempat parkir. Situ Cisanti bentuknya memanjang dan tepat bersebelahan dengan hutan kaki gunung Wayang yang kelihatannya masih cukup terawat.

Air di situ terlihat tenang, jernih dan sebagian ditengah situ tertutup gulma yang mengambang sehingga tidak semua permukaan air telihat biru.

Begitu jernihnya air di situ ini, saya bisa melihat ikan ikan kecil berwarna merah yang sedang mengerubungi umpan kail yang dilemparkan oleh pemancing.

Cukup banyak pemancing yang ada dipinggiran situ, ada juga beberapa pemancing yang menggunakan ban dalam untuk memancing ke tengah situ.

 

Terlihat juga ramainya pemuda-pemuda yang sedang bermain bola disekitar kemah yang mereka dirikan, serta diujung situ juga terdapat warung kecil yang melayani untuk kebutuhan sehari-hari.

 

Ketika dipinggir situ, dan menikmati keindahan lingkungan, rasa lelah yang tertahan selama perjalan, serasa hilang dan seakan mendapat semangat baru. Setelah menikmati pemandangan dan mengambil gambar sekitar pukul 14.30, kami bergegas ke tempat parkir untuk melanjutkan perjalanan, dengan semangat mengambil rute memutar lewat pangalengan.

 

Dari tempatparkir, kami mengambil arah ke kanan menuju Pangalengan, dan sempat kami agak ragu ketika baru berjalan sekitar 500 meter, kami sudah menghadapi jalan tanjakan yang rusak berat. Namun setelah tanjakan habis, kami melihat jalan yang relatif datar dan tidak beraspal (makadam) namun lebih halus dari pada jalan yang telah kami lalui menuju situ Cisanti.

 

Sejauh mata memandang, hanya terlihat perkebunan teh dan jalan makadan kami lalui hingga sampai ke Pabrik teh Kertasari. Suasana perumahan di perkebunan teh  Kertasari bangunannya relatif lebih baik dibandingkan dengan perkebunan yang lain.

 

Dari Pabrik Kertasari, kami menuju ke perkebunan Santosa, dengan berjalan ditengah-tengah perkebunan teh yang sangat rapi dan teratur, seolah seperti hamparan permadani hijau sepanjang dataran tinggi dan kaki gunung Wayang.

 

Setelah melewati perkebunan Santosa jalan sudah mulai nyaman karena masih beraspal dan cukup halus. Kami sempat bertanya ke pengendara motor ketika sampai di persimpangan untuk menanyakan rute ke Pangalengan. Kami mengambil belok kanan menuju perkebunan Purbasari dengan tetap melewati perkebunan teh, dan akhirnya sampai juga ke Pabrik Teh Malabar. Hingga akhirnya kami keluar pintu gerbang perkebunan menuju ke Pangalengan.

 

Setiap kali kami ke Pangalengan, rasanya kurang lengkap kalau tidak menikmati hangatnya susu segar atau bandrek susu untuk menghangatkan badan. Kali ini kami juga singgah di warung langganan kami  untuk menikmati menu wajib, yaitu susu segar dan bandrek susu, sekaligus untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung.

 

Dari Pangalengan, kami mengambil rute ke Banjaran, Bale Endah, Dayuehkolot, Bojongsoang, dan akhirnya sampai ke terusan Kiara Condong, maka sampailah ke Margahayu Raya dengan selamat.

 

Perjalanan kali ini, memberikan beberapa pelajaran bagi kami, mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup , mengelola dan menjaga keseimbangan agar bermanfaat untuk masa sekarang juga untuk masa yang akan datang bagi anak cucu kita.

Betapa indahnya ketika kita terlepas dari kesibukan sehari-hari dan menyatu dengan alam untuk memahami indahnya alam Indonesia ini.

Kemajuan ekonomi bagi rakyak adalah penting, namun menjaga alam agar tetap bersahabat itu lebih penting.

 

Bersyukurlah kalau kita masih diberi kesempatan untuk menikmati keindahan alam ciptaan-Nya dan ikut menjaga kelestariannya.

 

Bandung,  11  April  2009

Monday, March 23, 2009

Budaya Instant

Perkembangan teknologi yang sangat cepat dan menyentuh semua aspek kehidupan, secara umum berdampak positif terhadap peningkatan kualitas kehidupan karena dukungan teknologi memungkinkan seseorang untuk melakukan berbagai kegiatan dengan lebih cepat dan lebih akurat. Termasuk juga dalam hal dukungan teknologi bagi perkembangan ilmu kesehatan, yang dapat membantu untuk memudahkan diagnosa suatu penyakit atau memonitor perkembangan janin dengan sangat akurat.

Namun ada juga sisi negatif yang muncul dari perkembangan teknologi yang berdampak pada perubahan budaya, karena seringkali bantuan teknologi tersebut dimanfaatkan oleh seseorang untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya dengan cara yang singkat tanpa harus memperhatikan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.

Kejahatan untuk memperkaya diri sendiri dapat melalui dukungan teknologi informasi, hal ini sudah banyak terjadi dan ketika orang ingin memiliki sesuatu dengan cepat maka teknologi informasi disalahgunakan menjadi alat untuk memperkaya diri salah satu kejahatan kartu kredit yang terbesar didunia adalah di Indonesia,

Kasus kartu kredit ini berdampak negatif bagi bangsa Indonesia karena tingkat kredibilitas para penggunaan kartu kredit menjadi semakin memburuk.

Ketika tingkat keberhasilan seseorang diukur dalam bentuk materi,  kedudukan dan ketenaran yang semuanya itu bersifat hedonisme, maka secara perlahan dan pasti, generasi muda sekarang juga terpengaruh dengan pola hidup yang hedonisme bahkan mungkin sudah banyak yang terjerat dengan cara hidup seperti ini. Impian keberhasilan dan ketenaran semakin menyelimuti banyak anak muda, mulai dari ingin tenar dengan cepat maka muncullah segala macam festival/ kontes menuju ketenaran dalam sekejap.  Orang berbondong-bondong mengantri untuk pendaftaran, kemudian rela mengorbankan waktu, tenaga juga biaya untuk mengikuti audisi, dan ketika masuk final, lebih banyak lagi biaya yang dikeluarkan untuk mendukung kemenangan melalui SMS. Akhirnya, seberapa banyak orang yang berhasil melalui kontes dan festifal itu? Siapa yang untung? Siapa yang buntung?

Penyelenggara akan mengeruk keuntungan yang besar, termasuk provider SMS, sementara banyak keluarga yang akhirnya terjerat hutang karena impian kemenangan dan ketenaran yang akan diraih secara instan hilang dalam hitungan detik.

Bagaimana dengan pola hidup masyarakat sekarang? Pola hidup yang sehat diawali dengan mengkonsumsi makanan yang sehat, namun kenyataan sekarang banyak orang yang menginginkan serba instan dalam dalam mengkonsumsi makanan.  Dengan alasan sibuk tidak ada waktu sehingga tidak sempat untuk menyiapkan makanan sehat, atau cari mudahnya saja, banyak orang tua mengajak anak-anak makan bersama di gerai siap saji. Seberapa banyak gerai makanan siap saji di kota anda, maka semakin banyak jumlah gerai makanan siap saji itu semakin menurun tingkat kesehatan masyarakat setempat.  Bahan makanan yang berasal dari peternakan yang menggunakan hormon pertumbuhan memungkinkan hasil ternak dapat lebih cepat untuk dijual, dan keuntungan tentu akan diperoleh bagi peternak juga gerai makanan siap saji, seolah para konsumen diuntungkan karena dapat menyantap makanan dengan cepat dan mudah diperoleh dibanyak tempat, namun sebenarnya konsumen yang setia menyantap makanan tersebut sedang menabung penyakit juga meningkatnya hormon pertumbuhan bagi anak-anak kita. Secara jujur dapatkah kita mengatakan bahwa jenis makanan siap saji (instan) seperti ini dapat menurunkan tingkat kualitas kesehatan?  

Lebih parah lagi, banyak orang tua yang menyiapkan makan pagi untuk anak-anak dengan membeli satu kardus mie instan dengan alasan mudah dan cepat disajikan. Adakah pembaca yang belum pernah menyantap mie instan? Jika belum pernah, berbahagialah dan usahakanlah tidak menyantapnya.

Berbagai jenis makanan instan dengan mudah dapat diperoleh di warung atau supermarket mulai dari mie instan, sop instan, bubur instan, nasi goreng instan juga tersedia berbagai jenis makanan kaleng yang dapat dimasak secara instan.

Dapatkan makanan jenis instan memenuhi kebutuhan gizi seseorang secara layak? Jelas tidak, bahkan bisa dikatakan hanya untuk memenuhi rasa lapar saja dan selanjutnya menabung berbagai zat yang berbahaya bagi tubuh kita apabila dikonsumsi secara rutin dan jangka panjang.  

Apakah budaya instan juga sudah mencemari dunia pendidikan?  Jawabannya ya, dan sudah mulai mencengkeram erat dalam dunia pendidikan.

Nilai yang diajarkan dalam dunia pendidikan kita bukan lagi nilai kehidupan yang hakiki, tetapi nilai ukuran berhasil tidaknya memenuhi standar.

Kalau dari segi kesehatan berkorelasi dengan banyaknya gerai siap saji, maka dunia pendidikan yang berkualitas berkorelasi negatif dengan menjamurnya Bimbingan Belajar. Semakin banyak tempat Bimbingan Belajar, maka keberhasilan yang akan dicapai lebih banyak pada pemenuhan nilai standar, bukan lagi nilai-nilai kehidupan yang hakiki.

Solusi untuk keberhasilan Ujian Nasional, masuk perguruan tinggi, dengan metode mengerjakan soal dengan cepat dan tepat diajarkan dalam Bimbingan Belajar.

Bagaimana dengan mahasiswa? Tidak jauh berbeda karena bekal belajar yang instan sudah mulai merasuk ketika menjelang akhir di SD, kemudian diakhir SMP juga diakhir SMA, maka ketika menjadi mahasiswa bibit belajar instan sudah mulai tumbuh dan menjadi pohon belajar instan. Sistem SKS menjadi plesetan dan menjadi sesuatu yang benar, karena banyak mahasiswa terlalu santai dalam belajar dan sibuk ketika menjelang ujian semester.

Lebih parah lagi, ketika menyusun tugas akhir, lebih banyak mencari referensi Skripsi yang sejenis dengan topik yang akan diajukan ke dosen pembimbing, bukan mencari referensi ilmu yang harus mendasari dalam penyusunan skripsinya.

Setelah lulus secara instan, dan dengan bekal yang minim, mulai mencari pekerjaan dengan bantuan sanak saudara untuk memperoleh koneksi. Ini cara instan untuk memperoleh pekerjaan, bukan pada usaha yang mandiri.

Dengan koneksi dan sedikit uang pelicin, maka ketika bekerja juga muncul buah-buah dari budaya instan, yaitu bagaimana memperoleh karir yang tinggi dengan cara yang cepat.  Karir yang tinggi tidak mungkin dapat diperoleh secara cepat apabila seseorang tidak memiliki keunggulan yang istimewa dibandingkan teman sekerja lainnya. Namun kondisi sekarang sudah banyak pimpinan perusahaan ataupun eksekutif muda yang memiliki karir instan, dan memperoleh banyak keuntungan bagi dirinya, namun tidak demikian dengan perusahaan atau instansi yang dipimpinnya, karena keberhasilan yang diperoleh adalah singkat dan tidak berkelanjutan. Keberhasilan ini identik dengan ukuran yang ada saat ini yaitu kedudukan dan kekayaan yang berlimpah, meskipun kekayaan itu tidak membawa berkah.  Pola karir instan ini, tidak ubahnya seperti perilaku katak yang memerlukan pijakan untuk dapat meloncat yang lebih tinggi. Mengorbankan orang lain atau anak buah untuk memperoleh prestasi yang tinggi, menginjak kemampuan orang lain untuk menonjolkan dirinya.

Jika banyak karyawan/ pegawai yang berperilaku seperti ini, maka dalam waktu sekejap perusahaan akan terlihat berkembang bila dilihat sepintas dari sisi laporan keuangannya. Perusahaan besar banyak yang memanipulasi angka-angka sehingga terlihat sangat bagus kinerjanya, meskipun sebenarnya pondasi bisnis berdiri diatas pasir bukan diatas beton atau batu, sementara tiang utamanya bersandar pada pimpinan instan sehingga dengan mudahnya perusahaan tersebut bangkrut dan para pemimpinnya kabur membawa keuntungan sendiri.

Jika mulai dari hal yang terkecil dalam sisi kehidupan masyarakat dimulai dari yang serba instan, bukan suatu hal yang mustahil, ketika kehidupan religinya juga bersifat instan. Supaya dilihat atasan, maka secara menyolok akan melakukan ritual agamanya, bukan pada keyakinan melakukan hal tersebut. Supaya dapat pujian masyarakat maka pada saat memberikan bantuan bencana dipublikasi besar-besaran.

Mungkin saat ini juga sudah banyak yang melakukan doa instan, nggak perlu berjamaah di masjid, nggak perlu datang kegereja atau tempat ibadah lainnya, karena doanya disampaikan secara instan, langsung minta pada Tuhan, dan berharap semua permintaannya dipenuhi dalam sekejap.

Betapa parahnya jika bidaya instan sudah mendarah daging dalam bangsa ini, jangan berharap banyak untuk terjadi perubahan budaya bangsa ini bila tidak dimulai dari diri kita sendiri.

 

mari kita mulai sekarang.

Wednesday, March 11, 2009

Berpelukan

Jika kita masih punya anak kecil atau adik kecil yang senang nonton TV acara Teletubis, sering ada adegan berpelukan antara tingky, winky, pooh dan lala. Setelah berpelukan dilanjutkan loncat-loncat dan tawa riang. Jika hanya dilihat sebagai hiburan anak-anak, maka adegan berpelukan itu hanya sekedar ritual dan tidak ada maknanya, bahkan seringkali menjadi bahan bercanda dengan kata-kata : “berpelukan….”

Jika pembaca ditanya “ seberapa sering saudara memeluk suami/istri/anak saudara?”

Jika jawabannya sering, berapa kali dalam sehari berpelukan?

Jika lebih dari satu kali, pada waktu kapan paling nyaman dilakukan? Pagi hari, siang hari atau malam hari?

Jika jawabannya tidak pernah berpelukan, cobalah setelah selesai membaca tulisan ini untuk memulai memeluk istri/suami/ anak.

Tentunya jangan sampai salah sasaran dalam berpelukan .... he...he...he..

Atau pernahkan saudara mengucapkan ” Peluk aku dong?” baik kepada pasangan maupun pada anak saudara?

Atau mungkin malu untuk mengucapkan kalimat itu?

Bagi kami sekeluarga, rasanya sudah seperti resep makan obat saja,  pagi hari bangun tidur, dan ketika anak mau berangkat sekolah/ kerja, juga malam hari sepulang kerja dan berangkat tidur. Bahkan Abi putriku, hampir setiap hari minta diselimuti dan dipeluk sebelum tidur.

Terlebih lagi apabila ada kegiatan diluar kota hingga tidak bertemu beberapa hari, maka anak2 dan istriku akan langsung memeluk ketika saya menginjak rumah.

Perasaanku menjadi semakin lega ketika memeluk mereka.

Mungkin akan timbul pertanyaan, apa sih manfaatnya dengan berpelukan?

Jawabannya adalah banyak manfaat yang diperoleh dari berpelukan.

Berpelukan bisa mencerminkan wujud kasih sayang kepada pasangannya, bisa juga mewujudkan rasa kasih kepada anak2.

Berpelukan bisa juga mengurangi rasa kegelisahan, bahkan juga bisa mengurangi rasa stress.

Manfaat berpelukan lebih detil silahkan lihat di sini pada situs ini http://forum.detik.com/showthread.php?t=932)

Satu hal yang ingin saya sharingkan ke rekans, khususnya yang mempunyai anak kecil yang sering marah2 karena berbagai kondisi, seperti kesulitan untuk belajar, kesulitan untuk menyampaikan pendapatanya, ingin selalu menang sendiri sehingga muncul ketegangan dan berakhir dengan kemarahan yang mungkin bisa membahayakan diri pada anak kecil itu.

Munculnya kemarahan ini diakibatkan tegangnya saraf pada anak2 karena keinginannya tidak bisa dipenuhi ataupun tidak bisa menyampaikan keinginannya secara jelas.

Dalam kondisi seperti ini,  ada sebagian orang tua yang sabar menghadapi anak yang mudah marah, namun ada juga yang tidak sabar bahkan ikut marah-marah.

Cobalah bersabar dan peluklah anak itu dengan lembut dan usaplah punggungnya dengan lembut dan teratur,  maka emosi anak tersebut akan mereda karena pelukan dan usapan lembut dipunggungnya akan membuat anak itu merasa tetap disayangi dan ketegangan sepanjang punggung akan berkurang dan yang muncul rasa nyaman.

Pelukan yang lembut dan usapan lembut dipunggung merupakan salah satu cara relaksasi bagi anak yang dipeluk, selain itu bagi orang tua akan lebih sabar dan lebih sayang.

Akan lebih baik lagi apabila menjelang tidur, peluklah anak kita kemudian suruh berbaring tertelungkup dan usaplah punggungnya sambil diajak bicara atau cerita maka ia akan merasa nyaman dan segera tidur nyenyak.

Secara perlahan dan pasti, akan terjadi perubahan yang mencengangkan karena sifat anak yang pemarah itu berubah total, menjadi semakin manis dan lebih pengertian terhadap kondisi lingkungan dan prestasi bejalarpun membaik.

Jika anak atau adik kecilmu mudah marah, cobalah untuk dipeluk dan usaplah punggungnya secara lembut, pasti akan terjadi perubahan, karena saya telah membuktikan.

Ayooo, budayakan berpelukan dalam keluarga kita.

Salam Teletubis........., berpelukan!

Tuesday, March 10, 2009

Saung sawah – Ciwidey




Long week end 7 – 9 Maret 2009, bagi kami orang Bandung, identik dengan hari-hari macet berkepanjangan. Dan memang benar, mulai tol keluar Pasteur, Fly over, Dago, Riau, Cipaganti, Cihampelas, Setiabudi dan jalan-jalan protocol di Bandung macet ditambah lagi dengan turun hujan yang cukup lebat, menambah keruwetan lalu lintas di kota Bandung.

Seperti biasa, bila long week end paling enak bagi warga Bandung adalah menikmati kebersamaan dengan anggota keluarga di rumah dari pada harus bermacet ria, atau keluar kota untuk menghindari kemacetan di kota.
Kali ini saya dan mantan pacar (kebetulan dua anak kami punya acara sekolah) sengaja menuju ke Ciwidey, Kawah Putih dan Situ Patengan, dan berangkat agak siang dengan asumsi arah ke Bandung Selatan tidak separah di Bandung Kota atau Bandung Utara.

Ternyata, begitu keluar pintu Tol Kopo, kemacetan panjang sudah terjadi, terutama arah menuju ke selatan. Sebagian besar kendaraan dari Jakarta yang menuju ke Bandung selatan. Lebih dari 30 Menit tidak beringsut banyak dari pintu keluar tol hingga pertigaan Jl. Kopo. Kemacetan cukup panjang hingga sampai di pertigaan Taman Kopo Indah. Selanjutnya jalan cukup lancer hingga Soreang sampai Ciwidey.

Sebelum masuk Ciwidey, kami singgah di Sindang Reret (hotel & restoran) langsung menuju ke Saung Sawah untuk istirahat makan siang. Suasana sangat asri dan kami berdua mengambil saung di tengah sawah (sudah selesai dipanen) dan merasakan segarnya hembusan angin. Sambil menunggu pesanan saya mencoba untuk mengambil beberapa gambar situasi di Saung Sawah.

Secara umum, lay out saung2nya tertata dengan baik, dan terdapat saung utama yang cukup besar dan bisa berfungsi sebagai tempat panggung, serta ada ruang terbuka ditengah saung untuk digunakan dalam acara gathering. Dibelakang saung utama ada jalan kecil menuju saung2 yang berada di tengah sawah dan kita bisa menikmati pemandangan yang menyejukkan mata karena hijau sawah dan bukit dikejauhan. Full AC (Angin Cemilir) dan menyehatkan.

Mengenai menu makanan, menurut saya standar masakan sunda, mulai dari gurame, ayam (goreng, bakar), gepuk dan sejenisnya, sambal ada tiga macam, juga tidak pernah tertinggal lalaban. Untuk Nasi ada nasi putih, nasi liwet.

Siang itu kami memesan nasi liwet, gurame baker, tahu tempe goreng, karedok, sambal hijau dan lalab serta minuman es dawegan. Untuk rasa secara umum lumayan enak dan khusus untuk karedoknya terasa lebih enak dibanding beberapa warung makan sunda yang pernah kami coba.

Sekedar saran, jika anda berencana akan mengunjungi Ciwidey untuk memetik strawbery, Kawah Putih, Perkebunan Teh Rancabali dan Situ Patengan, sebaiknya singgah dulu di Saung Sawah untuk makan siang sebelum melanjutkan perjalanan menuju tempat Wisata.

Tuesday, March 03, 2009

Ketika sakit tiba.

Beberapa minggu yang lalu, kami berkunjung ke beberapa kenalan kami yang sudah lanjut usia sedang menjalani perawatan di rumah sakit maupun yang baru pulang dari rumah sakit. Meskipun kunjungan itu hanya sebentar namun sangat berarti bagi mereka juga bagi kami karena ada jalinan silaturahmi juga  saling menguatkan dan doa untuk kesembuhan mereka.

Semua orang ingin tetap sehat dan dapat menjalankan semua aktivitasnya dengan baik dan lancar, namun terkadang ketika semuanya lancar dan kondisi kesehatan prima, seringkali membuat seseorang lupa betapa berharganya nilai kesehatannya. Hingga lupa waktu untuk beristirahat ataupun meluangkan waktu untuk berolahraga agar badan tetap sehat. Ujung-ujungnya adalah terkurasnya tenaga dan pikiran untuk mencapai target tersebut dan jatuh sakit karena keletihan yang sudah menggunung.

Akhirnya sadar, setelah sakit menimpa dan mengharuskan untuk istirahat total dalam jangka waktu tertentu. Masih beruntung apabila ternyata sakitnya hanya karena kelelahan, sehingga dengan istirahat maka kondisi badan akan menjadi kembali lebih baik. Namun ada kalanya sakit tersebut berujung pada sakit yang permanent seperti stroke, yang berakibat pada kelumpuhan sehingga tidak bisa bisa sembuh seperti sediakala.

Sehat dan sakit bagi seseorang tentunya bisa terjadi kapan saja, dan semuanya membawa hikmat bila kita mampu memahami betapa Tuhan Yang Maha Kasih selalu menyertai kita dikala sehat maupun di kala sakit. Bersyukur untuk segala kondisi yang kita terima karena semuanya membawa kebaikan buat kita.

Memang seringkali ketika sakit tiba, akan membuat banyak orang merasakan sebagai penderitaan karena secara ekonomi akan mengeluarkan banyak biaya untuk proses perawatan dan penyembuhan, selain itu juga membawa kesedihan bagi keluarga dekatnya.

Namun dibalik penderitaan itu, ada juga hikmah yang diperoleh bagi sipenderita maupun bagi keluarga. Berbagai macam hikmah bisa tumbuh ketika sakit tiba seperti hal sebagai berikut :

·         Ketika seorang ibu yang sudah renta harus dirawat dirumah sakit, akhirnya bisa mengumpulkan semua anak2nya yang selama ini kurang begitu rukun karena masing-masing punya pendirian yang sangat berbeda, namun tegur sapa juga pengertian kembali terjalin manakala bisa berkumpul dan menghadapi persoalan yang sama, yaitu bagaimana supaya ibu cepat sehat kembali.

·         Pertemuan antar keluarga yang selama ini jarang terjadi karena masing-masing anggota mempunyai kesibukan sendiri, bisa terjalin kembali manakala ada anggota keluarga ada yang terbaring di rumahsakit.

·         Ketika terbaring di tempat tidur dan tidak bisa beraktivitas, memungkinkan adanya perenungan diri tanpa terganggu rutinitas, terasa lebih dekat dengan Tuhan Yang Maha Pemurah. Berdoa, memuji Tuhan dengan sepenuh hati dan lebih memaknai arti kehidupan.

·         Ketika sakit, kita mulai sadar akan banyaknya potensi berkurangnya kesehatan karena berbagai hal yang disebabkan pola hidup yang tidak sehat, maka timbul semangat untuk merubah pola hidup menjadi pola hidup sehat.

Jadi, ketika kita sedang sehat, bersyukurlah untuk kesehatan yang Tuhan berikan buat kita serta jangan lupa untuk menjaga kesehatan tersebut. Sebaliknya ketika sedang sakit, bersyukurlah karena Tuhan memberi kesempatan kita untuk beristirahat juga mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha kasih.

Ternyata hal ini juga terjadi pada keluargaku, 8 hari putriku harus terbaring dirumah sakit karena DB, dan kami jalani semuanya dengan rasa pasrah dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Puji Tuhan putriku sudah kembali sehat, dan selama berbaring di rumah sakit, kami sekeluarga selalu ngumpul bareng.

Jadi, bersyukurlah senantiasa dalam sehat maupun dalam sakit, karena Tuhan Yanga Maha Kasih selalu melindungi kita dan memberikan yang terbaik buat kita sesuai dengan kehendak-Nya.

Salam Sehat.

3 Maret 09

Tuesday, February 03, 2009

Sunset di Merak




Ketika ferry merapat di dermaga Merak pada sore hari, betapa beruntungnya kami bisa menikmati indahnya semburat jingga mentari senja.

Wednesday, January 14, 2009

Liburan Akhir tahun 2008 - Lewat Pacitan




Hampir setiap tahun, ketika menjelang akhir tahun selalu di uber-uber gawean, karena kebetulan muara akhir ada di unit saya. Mulai awal Desember 2008 menu pokok menjadi hidangan rutin yaitu “Menu Nasi Goreng atau Bubur Ayam”
Nasi goreng adalah istilah kalau pulang kerja larut hingga sebelum tengah malam, Bubur Ayam istilah kalau kami harus pulang lewat tengah malam atau subuh.

Namun demikian akhirnya pekerjaan dapat selesai sesuai jadwal, karena Tim yang solid dan tentunya anugerah dari Tuhan Yang Maha Kasih.
Sementara anak2 sudah dapat libur, saya masih berkutat dengan kerjaan, sehingga boleh dikatakan tidak punya rencana yang matang untuk liburan akhir tahun 2008, sehingga belum sama sekali booking untuk penginapan.
Dan ketika dapat ijin cuti, saya langsung info ke pasukan di rumah, hari ini kita berangkat liburan, dan anakku bilang bagaimana kalau ke Bromo? Boleh jawabku.

Tanggal 24 Desember 2008 rute 1 Bandung – Yogya,
Sore hari berangkat ke Yogya, kebetulan Abam putra sulungku sudah cukup mantap bawa kendaraan (terbukti saya bisa tidur mendengkur), sampai di Yogya sekitar pukul 10 Malam, dan list telepon hotel/ penginapan langsung dicoba ternyata……., semua sudah full booked. Tidak ada kata menyerah, kami yakin pasti ada penginapan yang bisa kami dapatkan untuk istirahat malam itu. Dengan spekulasi, langsung tancap ke Indraloka Guest House, dan ternyata….. ada satu kamar family room yang baru keluar sore hari.
Puji Tuhan, malam ini nggak perlu nyari hotel di pinggir Yogya.
Malam itu Yogya cerah tidak turun hujan, aku bilang ke Abam, bagaimana kalau kita nongkrong di angkringan kopi joss! Wis…., tanpa lama2 lagi kami berdua menuju Stasiun Tugu, untuk nyruput kopi joss yang hangat dan menikmati nasi kucing beserta gorengan. Suasana sangat rame, dan kebanyakan pengunjungnya dari luar kota Yogya, karena kami tahu dari logat bicara mereka.

Tanggal 25 Desember 2008 Rute 2 Yogya – Malang
Kami bangun pagi sekitar jam 5 pagi, agar dapat mengikuti kebaktian Natal jam 7.00 sehingga punya banyak waktu untuk melanjutkan perjalanan kami ke Malang.
Selesai kebaktian dan sarapan pagi, kami siap-siap melanjutkan perjalanan liburan, dan berangkat sekitar jam 10.00, kali ini kami mengambil rute Yogya, Wonosari, Wonogiri, Pacitan, Trenggalek, TulungAgung, Blitar, Malang.
Untuk rute Pacitan – Trenggalek, kami tidak melalui jalan utama tetapi dengan berbekal peta, kami mencoba melewati desa-desa yang berdekatan dengan Pantai Selatan Jawa. Saya penasaran karena ada info dari rekan yang mengikuti milis escudo, menginformasikan kalau rute ini cukup menantang dan pemandangan alam yang sangat indah.
Perjalanan dari Yogya hingga Pacitan boleh dikatakan nyaman karena jalanan mulus sudah hotmix, hanya beberapa kelokan dan tanjakan yang cukup tajam terutama di hutan Jati sebelum masuk Pracimantoro.
Pemandangan sepanjang jalan enak untuk dinikmati karena indah dan kebetulan cuaca sangat cerah. Kami mulai mengambil gambar ketika sudah mendekati Pacitan dan berhenti dipuncak bukit mengarah ke teluk Pantai Teleng Ria. Indah benar…. Kami berhenti cukup lama untuk mengambil gambar dan menikmati pemandangan dari puncak bukit.
Demikian juga ketika menuruni bukit menuju kota Pacitan, sempat beberapa pemandangan pantai dari sela-sela pohon jati dan dermaga TPI.
Akhirnya sampai ke Pantai Teleng Ria, pantainya bersih, dan cukup landai, dan benar-benar indah pemandangan di Pantai Teleng Ria.
Sembari menikmati pemandangan pantai kami singgah di cafe, dengan menu utama bbq ikan laut, kualitas ikannya lumayan karena masih terasa rasa manis dan rasanyapun tidak mengecewakan, bahkan kalau dari sisi harga menurut kami sangat murah.
Kami memesan 2 porsi udang goreng tepung, 1 porsi tuna bbq, 2 porsi bawal putih bbq dan lima nasi putih, serta 4 es jeruk, total kerusakan sekitar Rp. 152 ribu.
Ini satu-satunya cafe di Pantai Teleng Ria.

Sekitar pukul 14.00 kami meninggalkan pantai Teleng Ria, dan di gerbang berpapasan dengan beberapa kendaraan wisata juga bis yang mau masuk ke pantai, kelihatannya mereka berasal dari Jawa Tengah.

Untuk memastikan rute alternatif, saya sempatkan ngobrol dengan pengendara Truk di Pacitan, dan informasi yang diperoleh, secara umum jalan layak dilalui kendaraan, hanya akan jadi kendala bila terjadi longsor, apalagi sekarang banyak truk tronton yang mengangkut material untuk PLTU. Jadi kalau beruntung semuanya lancar karena kalau bertepatan dibelakang truk tronton, maka harus bisa melatih kesabaran.

Setelah meninggalkan kota Pacitan melalui jalur alternatif, mulai terasa tanjakan yang cukup tajam dan jalan yang mulai rusak. Sepanjang perjalan ini kami jarang sekali berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan, kondisi jalan sebagian sudah mulai rusak, sebagian masih ada bekas-bekas pembersihan bekas longsor dan beruntung karena tidak hujan maka kami masih bisa memilih jalan yang tidak berlubang.

Pemandangan sangat indah, karena sebelah kanan jalan, sepanjang mata memandang sebagian besar biru karena pantai selatan kelihatan secara jelas. Demikian pula dengan kondisi hutan, masih relatif terjaga karena masih hijau dan tidak kelihatan terjadi penggundulan hutan. (lihat posting di album photo : 3ojo.multiply.com)

Kami sempat berhenti dan mengambil gambar dari ketinggian jalan ke arah pantai, juga proyek PLTU Pacitan yang sedang dibangun tepat dipinggir pantai, yang tentunya mempermudah akses pengiriman batubara bila dekat dengan pantai.

Rute ini benar-benar membutuhkan skill yang memadai dan sedikit nekat karena kondisi jalan yang benar2 menantang, (tikungan dan tanjakan/ turunan tajam) juga sepi nggak karena jarang pemukiman penduduk. Selain itu juga tidak kami temui SPBU (jadi full tank wajib dilaksanakan sebelum masuk jalur ini), selain itu juga bila terjadi ban kempes/ bocor, jangan harap ada tukang tambal ban (Ban serep wajib tersedia).

Sekitar jam 17.30, akhirnya kami memasuki kota Trenggalek, dan melalui jalur utama menuju kota Tulungagung, terus ke Blitar, kepanjen dan akhirnya sampai di Malang sekitar jam 20.30. Karena tidak booking penginapan, maka kami keluarkan lagi list hotel coba telepon sana-sini akhirnya setelah hampir 30 menit kami dapat kamar di Hotel Pelangi, sebelah selatan alun2 kota Malang.