Wednesday, May 25, 2011

Sejoli




Anggrek liar di pohon mangga mekar 5 kuntum,
terlihat serangga kecil terbang dan hinggap di bunga anggrek yang harum aromanya.
tak lama kemudian datang lagi dan... sejoli bercumbu
tak menghiraukan jeprat jepret kameraku...

Sunday, May 22, 2011

Mang Engking - Bandung




Jika kami mudik ke Yogya...., salah satu tempat favorit anak2 adalah Pondok Udang Mang Engking di daerah Minggir - Godean.
Udang bakar madu menjadi menu kesukaan anak2 serta tempat yang cukup nyaman berada dipinggir kota yang bersih terbebas polusi.
Bangunan gubug2 diatas empang/ kolam menjadi ciri khasnya.

Ternyata di Bandung sudah ada cabang yaitu di Jl Kopo (Bihbul)
Sabtu siang kami sekeluarga, juga mbah putri Yogya, menuju ke Kopo untuk "ngilangi rasa kangen".

Tempatnya cukup baik masuk dalam komplek sehingga ketika sudah di gubug mang Engking terasa seperti dalam suasana pinggiran yang jauh dari kemacetan...menikmati alunan degung yang mendayu....., padahal Jl. Kopo sudah terkenal dengan suasana macet sepanjang hari.

Menu yang disajikan, standar dengan Mang Engking di Yogya...
Siapa tahu ada rekan yang berwisata ke Bandung Selatan seprti Ciwidey...., cobalah untuk singgah ditempat ini...

Saturday, May 21, 2011

Selamat Pagi




Langit cerah dipagi hari, masih terlihat bintang dan bulan di sisi barat.
Keheningan pagi masih terasa di pinggir Bandung
Pengendara motor mulai menyusuri jalan sepi sepanjang tepi sawah.
Semburat jingga di ufuk timur...
Seolah menyambut dan menyapa petani yang mulai melangkah di pematang sawah.
Disisi selatan terlihat jajaran gunung di Bandung selatan masih dibalut birunya langit pagi

Terima kasih Tuhan untuk pagi yang indah ini

Friday, May 20, 2011

Karinding




Musik tradisional Sunda yang sudah cukup lama,
Anak2 ini begitu mencintai musik Karinding
Peralatan yang terbuat dari bahan yang sederhana, pelepah enau dan bambu menjadi bahan utama.
Namun alunan Karinding benar-benar bisa membuat hati menjadi tentram.

Salut... untuk anak2 ini.

Tuesday, April 19, 2011

Monday, April 18, 2011

Antara Keinginan dan Kebutuhan

Sekitar awal bulan April 2010, anakku yang cowok Abam ngajak ngobrol mengenai kuliah dan harapannya masa depan. Dengan bekal kuliah di NHI. Abam bilang kalau dengan bekal yang dimiliki akan dapat menghadapi masa depannya, karena profesionalisme di setiap bidang akan menjadi hal yang penting dalam berkompetisi di masa mendatang. Disisi lain, dia bilang kalau seseorang hanya ahli disatu bidang tapi tidak memiliki pengetahuan yang luas, juga akan berpengaruh dalam kecepatan berkarir.

 

Ujung-ujungnya dari ngobrol ini, dia bilang “Pa, boleh nggak kalau aku kuliah lagi di UNPAR, untuk ambil manajemen?” 

 

Tidak langsung saya jawab pertanyaannya, tetapi saya balik bertanya “Mas, kamu ingin kuliah di UNPAR atau butuh kuliah manajemen?”

Kalau hanya sekedar “ingin”, banyak orang yang ingin kuliah dimana dia suka, tetapi beda bila dia merasa bahwa kuliah itu “kebutuhan”.

 

Jawaban Abam dengan mantab “ Saya membutuhkan ilmu manajemen untuk bekal saya dan sekaligus melengkapi keahlian saya yang diperoleh dari NHI”

Berbagai hal kami diskusikan mulai dari persiapan test masuk, pembagian waktu karena harus kuliah,  juga masalah transportasi, dan kesiapan mental karena dua lingkungan yang sama sekali berbeda.

Aku bilang pada Abam “Secara prinsip papa mendukung rencanamu, dan kewajiban papa untuk memenuhi kewajiban jika Abam diterima di UNPAR”

 

Untuk mengetahui seberapa jauh minat Abam untuk kuliah di UNPAR, saya bilang “Mas kapan mau ambil formulir? Dan apa yang disiapkan untuk test masuk?”

Jawab Abam :“Secepatnya dan Abam mau panggil guru les untuk persiapan selama satu bulan mendatang”

 

“Ok,papa setuju,” dan untuk menge-test keseriusannya, saya katakan : “Mas, segera beli formulir, cari guru les ….., kalau mas ada tabungan,  biaya pembelian formulir dan biaya guru les ambil dari tabungan mas,  mengenai biaya kuliah nanti papa yang penuhi? Bagaimana ? setuju?”

 

“Ya pah, saya akan ambil dari tabungan, untuk beli formulir dan biaya les tambahan”,  betapa terasa hati saya sangat dipenuhi dengan suka cita atas jawabannya. Puji Tuhan, karena Abam tahu apa yang menjadi kebutuhannya, bukan keinginannya.

 

Saya lihat kesungguhan hati Abam untuk masuk ke manajemen UNPAR,  dengan belajar giat meskipun seharian dia sudah cukup lelah melakukan aktivitas job di salah satu hotel di Bandung, dari pagi jam 07.00 s/d jam 15.00. Sore hari dilanjutkan aktivitas belajar dan tambahan les untuk pelajaran matematika yang selama ini sudah tidak pernah ditengok.

Dia juga bilang ke saya “Pah, aku akan gundul lagi jika diterima di UNPAR”

 

Ketika saya di Semarang pada sore hari tanggal 14 Mei  Mei 2010, Abam telepon saya dan bilang “Pah, saya sudah Gundul”,  Puji Tuhan, Abam diterima di UNPAR.

 

Satu pembelajaran dapat kita peroleh, seringkali kita punya banyak keinginan, dan seringkali kita tidak memahami dari banyak keinginan itu, mana yang sebenarnya menjadi kebutuhan kita?

 

Seringkali kita menyampaikan doa2 keinginan kita kepada Tuhan, namun karena kita juga tidak peka apa yang sebenarnya kita butuhkan, maka ketika doa2 keinginan kita belum /tidak dijawab oleh Tuhan Yang Maha Kasih, membuat kita jadi mengeluh mengapa doa-doa kita kepada Tuhan belum dijawab?

 

Kekurang pekaan manusia, kepada kehendakNya, dan berbagai keinginan manusia membuat hati tidak lagi jernih bahkan bisa menutupi nurani yang murni. Keserakahan manusia yang dibungkus dalam doa, bisa membuat seolah-olah berdoa seperti seseorang sedang berada di depan mesin ATM,  kapanpun dan berapapun yang dimauinya dapat diterima dari mesin ATM.

 

Sebenarnya Tuhan sudah mengajarkan kepada kita, untuk bersyukur atas apa yang Tuhan berikan, untuk berdoa dengan sederhana, dan menyampaikan kebutuhan bukan keinginan2 kita.

 

“……berilah kami pada hari ini makanan yang secukupnya….”

Friday, April 15, 2011

Negeri di atas awan (2)




Menikmati sunrise dari gardu pandang (km20) ke Dieng, dalam cuaca yang mulai mendung dipagi hari membuat suasana seakan berada di negeri atas awan.
Biasanya selalu menengadah ketika meihat awan berarak, kini dengan tunduk menyaksikan awan berarak.

Betapa indahNya pagi ini.

Monggo dinikmati

Serayu




Napak tilas dipinggir sungai Serayu, tempat favorit mancing ketika liburan tiba.
Jembatan gantung dari bambu sudah diganti kayu yang lebih kokoh, hijau sawah dan padi menguning disepanjang sisi serayu.

Tempat mancing favorit jadi tempat start arung jeram....
sudah jarang terlihat para pemancingnya....

Thursday, April 14, 2011

Dieng Lagi




Ketika mau mudik ke wonosobo, saya bilang ke temans "siapa mau ikut ke wonosobo, nanti saya antar ke Dieng"
Akhirnya ber4 yang mau bergabung : ii, ayu, thenmase, abadi
saya wajib nganter ke Dieng, untuk menikmati sunrise dan mengunjungi tempat wisata.

kapan lagi bisa ke Dieng ya.....

Wednesday, April 13, 2011

Nikmatnya Menu Ndeso




Diperbatasan Wonosobo dan Banjarnegara, terdapat satu warung makan yang sangat sederhana dengan menu Ndeso sebagai andalannya.
Terprovokasi cerita adikku mengenai oblok2 daun talas/ keladi, daun singkong dan tempe lombok ijo, meskipun sudah sarapan pagi serabi, saya ikut menuju ke perbatasan wonosobo - banjarnegara.
ternyata tidak sia-sia, dan benar2 nikmat.... sepiring nasi, oblok2 daun talas dan daun singkong serta tempe lombok ijo.
menu lainnya seperti oseng2 kacang panjang, oseng labu siam... dan ikan goreng dari sungai serayu... wis enak tenan.

siang hari menikmati semangkung es bubur kacang ijo dan soto daging sapi... plus tempe kemul.
enak tak terkira...biarpun menu Ndeso....

Sunday, March 06, 2011

Gunung Padang Ciwidey




Gunung Padang identik dengan situs megalitikum…, dan daerah Jawa Barat terdapat 3 lokasi Gunung Padang yaitu :
1. Gunung Padang di Cianjut : lihat disini http://3ojo.multiply.com/photos/album/132/Gunung_Padang
2. Gunung Padang Ciwidey
3. Gunung Padang Ciamis.

Kali ini saya mengunjungi Gunung Padang Ciwidey, berangkat dari Bandung sekitar jam 5.00 pagi, langsung menuju Soreang melalui Tol Purbaleunyi.
Berhenti sebentar didepa Kantor Kabupaten Bandung – Soreang menikmati fajar pagi.
Setelah mengambil gambar sunrise, perjalanan dilanjutkan menuju Ciwidey, jalan realtif masih sepi sehingga terasa lancer hingga sampai di Ciwidey sekitar 06.45.
Sebelum arah pasar Ciwidey, kami mengambil jalur lurus menuju desa Rawabogo, jalan relatif bagus, bahkan ketika mau masuk desa Rawabogo, jalan desa sudah diperbaiki dengan jalan beton.
Sekita pk. 07.00 sampai diterminal Rawabogo (sebenarnya tidak tepat dibilang terminal, karena tidak tersedia sarana terminal yang memadai, hanya tempat parker dan pangkalan ojeg)
Gerimis mulai turun dan terlihat awan yang cukup tebal disebelah barat, kami singgah di warung kecil dan memesan dua gelas kopi susu, untuk mengusir rasa dingin dan menunggu gerimis berlalu.
Sekitar 30 menit, akhirnya gerimis berhenti dan terlihat awan dari sebelah barat berangsur pindah kearah timur.

Segera kami ambil rangsel, dan kami putuskan untuk jalan kaki saja menuju Gunung Padang meskipun beberapa tukang ojeg menawarkan untuk diantar sampai kaki gunung padang (tarif sekitar Rp.15 ribu s/d Rp.20 ribu).
Tanjakan tinggi sudah menghadang didepan, ketika meninggalkan desa Rawabogo kemudian belok kiri menuju jalan kecil arah ke Gunung Padang. Suasana masih sangat sepi, mulai melewat jalan berbatu, hingga sekitar 500 meter, jalan tanah merah yang membelah ladang penduduk.

Hanya kami berdua yang menyusuri jalan tanah yang cukup licin, benar-benar sepi dan kami bersyukur bias menikmati indahnya pagi, kicauan burung juga desir angina yang menerpa daun2 cemara seakan menikmati simphoni alam yang indah.

Sempat juga kami ragu ketika mencapai jalan persimpangan, karena tidak ada petunjuk jalan kea rah Gunung Padang, akhirnya kami harus bertanya kepada sorang petani yang akan mengangkut pupuk kandang ke kebun.
Dengan ramahnya menunjukkan arah ke Gunung Padang, “ikuti saja jalan ini dan lihat bekas roda motor saja, sebentar lagi akan sampai ke Gunung Padang”

Tanjakan yang cukup curam buat saya, karena terasa sangat”ngos-ngosan” ketika mulai menapak kea rah tanjakan curam dan licin. Tak berapa lama, dari jauh kelihatan bangunan pondok tempat masuk ke Wanawisata Gunung Padang.

Beruntung sekali, pak Dasep anak dari jurukunci, Gunung Padang bersedia menemai kami untuk menyusuri jalan setapak menuju puncak Gunung Padang.

Memasuki areal tempat wisata, kami disambut dengan gapura batu besar dengan lorong kecil yang terjal, ketika saya mencoba mulai mendaki memasuki tangga, ternyata rangselku nyangkut karena nggak muat, terpaksa harus di loggarkan agar bisa melewati lorong pertama. (maklum SETULEGI)

Setelah ambil nafas sebentar, kembali menaiki trap kedua, dengan sedikit merangkak karena memang jalan setapak cukup terjal dan sebelah kirinya tebing terjal yang menganga.
Betapa batu2 raksasa tersusun rapi dan dibalut akar-akar pohon yang mencengkeram sehingga terasa kokoh walau berada di gunung.

Hingga pada satu tempat harus merangkak mendaki tangga untuk menuju batu tinggi yang merupakan tempat favorit bagi pengunjung karena bisa memperoleh pemandangan yang sangat indah. dari puncak kearah Bandung maupun ke Saguling.
Hanya sayangnya saya tidak bisa menaiki batu tersebut karena memakai celana jeans, sehingga tidak bisa melangkah dengan leluasa.... :(.

Suasana cukup sepi, dan sedikit ada nuansa mistis karena banyak sisa dupa atau sesaji dibeberapa tempat, karena banyak orang yang melakukan tirakat di sini.

Betapa saya beruntung bisa menikmati keindahan alam parahyangan dari ketinggian sekitar 2.500 meter, di bebatuan yang besar-besar, rimbunya pepohonan dan hembusan angin yang sejuk.
Sejenak menikmati alam dipuncak Gunung Padang, ternyata tidak terlalu lama terdengar teriakan anak2 remaja yang dengan riangnya naik ke puncak Gunung Padang. Tidak terlihat rasa lewah di wajah mereka, bahwkan canda tawa terus mereka lakukan dan dengan senangnya berpose untuk diambil gambarnya.

Ketika akan pulang, menuju jalan setapa yang berbeda dengan arah naik, baru terasa kalau cukup tinggi dan terjal sewaktu menaiki Gunung Padang. Dengan bersusah payah dan harus berpegangan pada akar2 pepohonan secara perlahan dan pasti mulai menuruni jalan setapak. Wuih... terasa berat banget apalagi dengan kondisi badan "kelas berat"

Sampailah di pondok untuk istirahat adn sarapan pagi, dengan menu mie rebus, terasa nikmat dalam keadaan lapar....,
dua mangkok mie rebus, 4 bala-bala hanya mengeluarkan Rp. 7.000,-

Sejenak istirahat, ternyata mulai banyak pengunjung yang berdatangan, kebanyakan anak2 remaja, dan cukup terkejut ketika terdengar suara motor menuju tempat kami istirahat...., ojek motor dengan roda berantai agar bisa melalui jalan tanah yang licin.
Kami mulai menuruni jalan tanah yang terjal, sambil menikmati perkebunan sepanjang jalan.

Hitung-hitung hari ini saya sudah sebanding dengan mengelilingi lapangan sepakbola 10x..., kaos basah kuyup karena keringat yang menetes deras....., dapat rekreasi, dapat gambar, dapat sehat mengurangi kolesterol.

Sekitar pukul 11.00 kami sudah sampai di terminal Rawabogo, dan melanjutkan perjalanan menuju Ciwidey dan pulang ke Bandung.

Selamat menikmati.

Fajar di Soreang




Sabtu pagi alam perjalanan menuju ke Gunung Padang Ciwidey, ketika sampai di Soreang tepat di depak Kantor Kabupaten, terlihat semurat merah diufuk timur.
Kami berhenti untuk sejenak menyambut pagi...
langit biru cerah dan semburat merah sangat indah untuk dinikmati..
Selamat pagi Soreang.

Thursday, March 03, 2011

Kerupuk Jumbo




Bagi penggemar kerupuk, biasanya setiap makan selalu ditemani kerupuk.
Berbagai jenis kerupuk, mulai kerupuk ikan, kerupuk udang hingga kerupuk aci.
Cobalah menikmati jenis kerupuk jumbo ini, ditanggung tidak akan habis meskipun sudah nambah nasi berkali-kali.

Monday, February 28, 2011

LAYANG-LAYANGKU MENCUMBU REMBULAN




Ketika benang terbentang dan layangku siap terbang
Kulantunkan tembang mantra pemanggil angin
“cempe-cempe golekno angin gede tak opahi duduh tape”
“cempe-cempe golekno angin gede tak opahi duduh tape”

Tembang mantraku berhasil
Terasa lembut semilir mulai menyapaku
Anginpun datang dan layangku terbang
Terbang melayang dibirunya langit sore

Senja membiru disebelah timur
Senja semburat jingga disebelah barat
Biru mengantar bulan berwarna perak menyambut malam
Temaram jingga menutup siang

Merah layangku membumbung tinggi,
Benang kutarik dan layangku naik
Benang kendur terulur layangku menjauh
Merah layangku menuju langit biru

Layangku menuju rembulan perak dilangit biru
Kusalurkan rinduku lewat benang terjulur menyatu dilayangku
Mendekat, mencumbu rembulan
Kelepas kerinduanku pada rembulan

Ujunggenteng 6 Pebruari 2011

Sunday, February 20, 2011

Kuliner sehari di NHI




Abram anakku yg kuliah di NHI, ngasih undangan dari Kampus untuk orang tua siswa, untuk menghadiri case study siswa jurusan pastery dan kicthen.
Tlg 12 Pebruari 2011, sekitar pk 10.00 siang hingga pk.14.00 untuk melihat hasil karya siswa SM III yang praktek sesuai dengan tugas yang dibagikan.
Satu kelompok teridiri dari 5 s/d 6 orang untuk tiap negara, dan ada sekitar 12 kelompok atau 12 negara yang akan menyajikan makanan khas mereka.

Baik dari segi tampilan maupun rasa, benar-benar prima......,
Sedikit demi sedikit mencoba untuk mencicipinya.... hingga akhirnya ...
terasa kenyang....

Pilihan mereka masuk NHI membanggangkan orang tua kalilan.

Silahkan untuk dinikmati gambarnya saja....

Waduk Jatiluhur




Setelah beberapa kali berjunjung ke waduk Jatiluhur…., rasanya sulit sekali memperoleh kesempatan menikmati indahnya langit biru di atas waduk. Kali ini saya beruntung banget, sepulang mengantar ibu dari Bekasi, terlihat cuaca yang sangat cerah…., langsung mengarahkan kendaraan ke Waduk Jatiluhur.

Langit biru cerah dan sedikit awan putih menambah indahnya pemandangan Jatiluhur.
Mengunjungi perkampungan terapung yang banyak memelihara ikan, nengok water boom yang cukup asri dan menyenangkan bagi anak2, juga menyusuri dam serta melihat dari dekat penginapan yang tersedia.

Rasanya Jatiluhur bisa menjadi alternative tujuan wisata dan bermalam disana.

Silahkan untuk menikmati keindahannya.
Jangan lupa sarannya....

Matur nuwun

Wednesday, February 16, 2011

Senja di Ujunggenteng




waktu menjelang senja, kami segera menyusuri jalan tanah berbatu menuju TPI Ujunggenteng untuk menikmati indahnya lembayung senja.
Langit mulai memerah di ujungbarat, perlahan sang surya menghilang
tinggal semburat jingga yang tersisa.
terima kasih Gusti..., untuk senja yang indah

Tuesday, February 15, 2011

Ujunggenteng




MInggu pagi jam 09.00 start dari Bandung, kami ber3 berangkat ke Ujunggenteng.
Ini merupakan kunjungan saya yang ke2 dan sekaligus melunasi janji ingin mengantar rekans ke sana..... (lunas janjiku).
Kami hanya mengunjungi ujungnya Ujunggenteng... dan menikmati sunset di TPI Ujunggenteng.
Biru langit, biru laut.... mengharu biru.....siapa suka?
Monggo dinikmati...